Cupcake's Love

Cupcake's Love
#58



Sarah membuka matanya setelah cahaya matahari masuk melalui celah-celah gordennya. Dia segera mengangkat tangan Michael yang begitu erat memeluknya saat tidur semalaman. Dia segera mencuci wajahnya dan mulai menyiapkan sarapan, tak lupa mencuci piring kotor bekas makan malam bersama Michael semalam.


Michael yang telah terbangun menyusul Sarah ke dapur. Dengan mengenakan celana kerjanya kemarin dan bertelanjang dada, dia memeluk Sarah dari belakang.


"Masak apa?", tanya Michael yang menyadarkan kepalanya dibahu Sarah.


"Aku cuma bikin poached egg, sosis, roti panggang sama jus jeruk. Udah laper ya?"


Michael mengangguk. "Semalem keluar banyak tenaga gara-gara kamu"


Sarah tersenyum. "Lepasin dulu, sayang. aku taruh makanannya dulu di meja"


Michael melepaskan pelukannya dan duduk dimeja makan.


"Nanti kita pulang ke rumah dulu ya, aku mau ganti baju"


Sarah mengangguk. "Sekalian aku bawq bajuku yang disini ya"


"Kalo banyak, besok biar pak Kim sama bibi Rose yang urus"


"Enggak, aku cuma bawa baju doang kok"


Mereka mengawali pagi dengan sarapan berdua kembali, canda tawa dan tatapan mesra menghiasi waktu sarapan mereka. Setelah selesai membersihkan diri, Sarah dan Michael segera menuju ke rumah untuk berganti baju.


***


Michael segera membuka lemari dan mengambil baju untuk dia ganti, Sarah meletakkan tas bajunya disebelah koper besar di depan lemarinya.


"Besok aku akan minta bibi Rose untuk merapikannya kembali", ucap Michael sambil memakai kaos polonya.


"Enggak usah, aku bisa susun sendiri kok"


Michael mendekati Sarah dan memeluknya dari belakang. "Jangan pernah lagi mengemasi baju-bajumu kecuali jika pergi denganku, OK?", bisik Michael sembari mencium tengkuk leher Sarah.


Keduanya bergegas menuju rumah orangtua Sarah. Sebelum datang ke rumah, Sarah terlebih dahulu memberitahu Alice mengenai kedatangannya dengan Michael. Alice mengurungkan niatnya untuk ke toko, dia memilih menemani mertuanya. Ia takut kedatangan Michael dan Sarah untuk membahas mengenai perpisahan mereka.


Mereka semua duduk bersama di ruang tengah, Rachel terlihat sangat sedih hingga tak mau menatap Sarah dan Michael.


"Apa... ada hal yang ingin kalian sampaikan?", tanya Harry.


"Maksud kedatangan kami... kami ingin meminta maaf atas kejadian yang kurang mengenakkan kemarin", kata Michael.


"Itu keputusan kalian. Kami tidak berhak memaksa atau menyalahkan kalian", ucap Rachel dengan nada sedih.


"Mama kenapa sih?", tanya Sarah.


"Apapun keputusan kalian, yang penting kalian bahagia", ucap Rachel sambil menitikkan air mata.


"Senyum ma, aku dan Sarah ga bakal pisah kok", kata Michael dengan senyum lebar.


Semua mata tertuju menatap Michael dan Sarah.


"Beneran? Kalian ga jadi pisah kan?", seru Alice.


Sarah menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar. Michael merain tangan Sarah dan menggenggamnya.


"Kami meminta maaf telah membuat papa, mama, Lois dan Alice menjadi sedih karena masalah kita kemarin. Aku dan Sarah telah menyelesaikan masalah ini dengan baik, kami ga akan berpisah", jelas Michael.


"Aahhh syukurlah...", ucap Alice bernafas lega.


Harry tersenyum dengan lebar dan matanya berkaca-kaca.


"Sudah kuduga kamu pasti yang memulai masalah ini kan?", kata Rachel sambil beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Sarah, dan memukul lengan Sarah.


"Awwww... sakit ma", teriak Sarah sambil memeluk Michael untuk menghindari pukulan dari Rachel.


Michael tertawa dan menghalangi Rachel yang masih mengincar untuk memukul Sarah. Harry berdiri dan memegangi Rachel lalu menyuruhnya duduk kembali.


"Kenapa kalian senang membuatku menangis? Aku ga bisa bayangin jika pernikahan kalian harus berakhir", kata Rachel sambil terisak.


"Maaf ma, bukan maksud kami membuat mama sedih", ucap Sarah sambil mendekat dan menyodorkan tisu pada Rachel lalu memeluknya.


"Aku pun sedih membayangkan harus berpisah dari Michael dan Lucy, rasanya seperti mimpi buruk", sambung Sarah.


"Pergilah ke rumah orangtua Michael sekarang, mereka pasti belum tahu kabar ini", ucap Harry.


"Papa ngusir kita?", seru Sarah.


"Bukan begitu, maksud papa mereka pasti juga bersedih tentang masalah ini"


"Baik, pa. Kita akan segera kesana", jawab Michael.


Mereka bergegas menuju rumah orangtua Michael.


***


"Kenapa begitu tegang?", tanya Michael memperhatikan wajah Sarah.


"Aku takut mama akan marah juga seperti mamaku tadi"


"Aku akan melindungimu, biar aku aja yang dipukul", jawab Michael sambil tersenyum.


"Akulah penyebab terjadinya masalah ini", ucap Sarah sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa menyalahkan diri sendiri? Udah kubilang ini juga salahku", jawab Michael sambil tetap fokus menyetir.


"Apa... Angela masih sering menemuimu?"


"Entahlah, aku udah ga ngurusin dia lagi"


"Jangan terlalu membencinya, aku... aku hanya minta kamu untuk jaga jarak aja dengannya"


Michael menggelengkan kepalanya. "Dia membuatku hampir kehilanganmu, lebih baik aku ga ketemu lagi dengannya"


"Ga usah marah gitu, wajahmu begitu menakutkan ketika marah", ucap Sarah sambil mengelus pipi Michael.


"Jangan menggodaku sekarang, nanti malam aja", kata Michael sembari meraih tangan Sarah dan mencium punggung tangannya. "Ayo turun, mama papa pasti udah nungguin"


Sarah mengangguk, keduanya segera turun dan menemui orangtua Michael yang telah menunggu di ruang keluarga. Eddy dan Lidya terlihat begitu tegang, mereka mengira kedatangan Michael dan Sarah pasti untuk membicarakan mengenai perpisahan mereka.


Mata Lidya membelalak ketika melihat tangan Michael menggandeng Sarah saat memasuki ruang keluarga. Wajah Michael dan Sarah bahkan tidak terlihat seperti orang yang sedang bersedih karena akan berpisah.


"Ma... ekspresinya biasa aja. Ga usah melotot gitu", canda Michael.


"Bukannya kalian mau..."


"No no no, ma. Jangan sebut kata itu lagi", Michael memotong perkataan Lidya dan menggenggam tangan Sarah. "Aku dan Sarah akan tetap menjalani sisa hidup kami bersama", sambung Michael yang kemudian mencium punggung tangan Sarah.


Eddy menghela nafas lega dan menyenderkan punggungnya pada kursi sambil tersenyum lebar. Sementara Lidya terlihat mulai menangis, Sarah melepaskan tangan Michael dan duduk disebelah Lidya untuk memeluknya.


"Maafkan kami karena buat mama papa jadi sedih", ucap Sarah.


"Untung aku belum sampai melayangkan tanganku pada wajah Michael lagi", canda Eddy.


"Makanya jangan terlalu genit sama wanita, kedatangan Angela pasti membuatmu lupa diri kan? Sampai lupa kalo kamu udah punya Sarah dan Lucy", ucap Lidya sambil melotot ke arah Michael.


"Ma... Michael ga genit, Angela aja yang terlalu agresif", jelas Sarah.


"Tapi tetap saja, kalo dia ga ngeladenin Angela, mama yakin masalah kemarin pasti ga akan terjadi"


Sarah mengangguk. "Bener, ma. Mentang-mentang Angela enggak ada pasangan, seenaknya aja menerima kedatangannya dengan tangan terbuka"


"Jangan mentang-mentang mantan pacar, terus kamu seenaknya gitu ya, Mic"


"Harusnya kamu kemarin bilang sama papa, kenapa diam aja?"


"Karena aku ga mau wajah gantengnya kena stempel tangan papa lagi", canda Sarah.


"Stempel aja pake bibirmu, sayang. Seperti yang kamu lakukan tadi malam. Disini, disini juga, ahh... disini juga ada", goda Michael sambil menunjuk beberapa bagian didadanya.


Eddy dan Lidya segera memandangi Sarah. Sarah tersenyum malu, wajahnya mulai merona menahan malu karena perkataan Michael.


"Hehh... pergi ke kamar sana, jangan mesra-mesraan didepan orangtua kayak gini. Bisa-bisanya ngomong vulgar didepan orangtua", sindir Lidya.