
Michael meletakkan ponselnya di kasur, mengabaikan telpon Angela dan berjalan menghampiri Sarah di balkon. Sarah terdiam dan menatap pemandangan laut lepas.
"Maafkan aku", ucap Michael.
Sarah menghela nafasnya. "Aku tahu kamu juga cemburu saat Denis dekat denganku, mungkin... kita udah impas sekarang. Mungkin aku terlalu bersikap berlebihan, tapi Angela benar-benar sangat mengganggu", jawab Sarah lirih.
Michael tersenyum dan memeluk Sarah dari belakang. "Inilah bumbu pernikahan kita, sayang. Kita akan terus menghadapinya bersama, OK?"
Sarah menganggukkan kepalanya.
"Bersiap-siaplah, kita makan malam disini aja ya", ucap Michael.
"Aku enggak makan malam deh, aku tadi banyak makan di food tours. Kamu makan malam sendirian gapapa kan?"
"Hmmm... yaudah kalo gitu", Michael mencium pipi Sarah dan segera membersihkan diri.
***
Michael pergi makan malam tanpa ditemani Sarah.
Ting...
Suara pintu lift terbuka.
"Michael! Kebetulan sekali", seru Angela dari dalam lift.
Michael hanya tersenyum tipis dan masuk ke dalam lift. Dia berdiri berjauhan dengan Angela, namun Angela mendekat dan menggandeng tangan Michael.
"Apa Sarah ga ikut denganmu?", tanya Angela yang menggandeng erat tangan Michael. Lirikan matanya benar-benar sedang menggoda.
"Lepasin, Angela!" Michael mencoba menarik tangannya yang digenggam erat oleh Angela.
"Kenapa sih? Aku kan cuma minta gandeng aja"
"Udahlah jangan banyak alasan, lepasin sekarang juga!"
"Enggak!", jawab Angela memaksa dan semakin mengeratkan tangannya.
Michael menarik paksa tangannya hingga akan membuat Angela terjatuh.
"Kamu kasar banget sih sekarang", rengek Angela.
Michael tidak menggubris Angela dan segera berlalu setelah pintu lift terbuka. Angela terus mencoba mendekati Michael, dia bahkab memaksa untuk makan satu meja dengan Michael. Selama makan malam, Michael sama sekali tidak menghiraukan kehadirannya. Hal itu membuat Angela menjadi kesal. Michael terus saja fokus pada ponselnya untuk berkomunikasi dengan Sarah.
"Apa Sarah mempengaruhimu? Apa Sarah berbicara yang enggak-enggak tentangku?", tanya Angela.
"Enggak", jawab Michael singkat sembari menyantap makan malamnya.
"Kamu kenapa sih? Kenapa sekarang jadi bersikap dingin padaku?", ucap Angela dengan nada kesal.
"Aku udah selesai makan, aku pergi duluan", kata Michael sambil beranjak pergi meninggalkan Angela.
"Michael!", teriak Angela yang tidak dipedulikan Michael. Angela mencoba mengejar Michael, tangannya menahan pintu lift dan segera masuk lift menyusul Michael.
"Tega banget sih kamu sama aku! Kenapa tiba-tiba jadi kasar gini sama aku", ucap Angela sambil mendekati Michael.
"Maumu apa sih?", bentak Michael.
Seketika Angela langsung memeluk Michael.
"Aku merindukanmu, Mic. Aku bercerai dengan suamiku karena kupikir kau belum menikah. Aku bahkan selalu membayangkanmu ketika aku bercinta dengan mantan suamiku", ucap Angela.
"Angela, lepasin! Kamu apa-apaan sih!", bentak Michael sambil mendorong badan Angela agar melepaskan pelukannya.
Angela terjatuh, dia mengerang kesakitan. "Kamu jahat banget sih sama aku!", ucap Angela dengan berlinang air mata.
"Sorry, Angela. Aku ga bermaksud melukaimu, aku cuma ga mau kita terlalu dekat", kata Michael sambil mendekati Angela.
"Kenapa? Aku pengen kita balikan lagi, Mic. Aku sangat menginginkanmu", ucap Angela sambil menangis dan memeluk Michael.
Ting...
Pintu lift terbuka. Sarah yang berdiri di depan pintu lift begitu terkejut melihat Angela yang terduduk dilantai lift sambil memeluk suaminya. Bahkan kondisi gaun Angela yang teraingkap serta rambut yang sedikit berantakan membuat Sarah semain menduga-duga. Air matanya langsung memenuhi matanya dan bersiap untuk mengalir dengan derasnya. Sarah berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
"Sarah!", teriak Michael namun tak digubris oleh Sarah.
Pintu lift tertutup dan Michael terlihat begitu marah. Michael memukul dinding lift dan berteriak. Angela berdiri dan merapikan gaunnya.
"Dia terlalu kekanak-kanakan, sayang. Dia belum siap untuk menikah", ucap Angela sembari merapikan kemeja Michael.
Angela keluar dari lift menuju kamarnya. Michael turun menuju lantai kamarnya dan berlari ke kamarnya.
Sarah terlihat sudah berbaring dan menutupi dirinya dengan selimut. Michael menghampiri Sarah dan duduk dipinggir kasur.
"Sayang, itu ga seperti yang kamu kira. Ini salah paham", jelas Michael.
Sarah membuka selimutnya dan duduk, matanya terlihat begitu sembab dan air matanya masih terus keluar dari matanya.
"Terus apa? Semua orang yang melihatnya tadi pasti juga akan berpikiran sama sepertiku. Seorang pria dan wanita hanya berdua dilift, Angela terduduk di lantai dengan gaun yang tersingkap ke atas, rambut berantakan, dan memelukmu. Kau memang brengsek, Mic!".
"Kejadiannya ga seperti itu, aku akan minta rekaman cctv dilift untuk membuktikannya padamu. OK?", ucap Michael sambil membelai rambut Sarah.
"Ga perlu! Urus aja wanita barumu itu!", jawab Sarah sambil menangkis tangan Michael dan kembali berbaring menutup dirinya dengan selimut.
Michael menjadi begitu emosi, dia berjalan menuju kamar mandi dan menendang meja kayu kecil didekat sofa hingga terjatuh.
***
Paginya, tidak ada interaksi pada Sarah dan Michael saat perjalanan kembali ke rumah. Sesampainya di bandara, mereka berjalan menemui pak David yang telah datang menjemput.
"Kau pulang saja, aku mau pulang ke rumah mama", ucap Sarah yang kemudian berjalan menjauhi mobil Michael untuk menyetop taksi.
Sarah pulang ke rumah orangtuanya.
***
"Ga seharusnya kamu kayak gitu, Sarah. Kalian kan bisa menyelesaikannya dengan baik", ucap Rachel.
"Udahlah, ma. Aku kan juga butuh waktu untuk menenangkan diri", jawab Sarah dan berjalan menuju kamarnya.
"Aku akan telpon Alice, pasti dia bisa membantunya", ucap Rachel.
"Sudahlah, beri Sarah waktu. Kita ga usah ikut campur", kata Harry.
Sarah mengurung dirinya di kamar seharian. Dia hanya membaringkan tubuhnya di kasur sambil mendengarkan musik. Dia mengabaikan ponselnya, mengabaikan pesan dan telpon dari Michael juga.
Tok... Tok...
Alice masuk ke kamar Sarah dengan membawa kue dari toko Sarah.
"Kamu kenapa, adik ipar? Tadi mama bilang katanya kamu kabur lagi dari rumah", ucap Alice sambil meletakkan kuenya.
"Aku ga kabur, aku udah bilang sama dia kok", jawab Sarah sambil menyandarkan tubuhnya pada headboard kasur.
"Tapi tetap saja kamu meninggalkan rumah"
"Aku hanya butuh tempat untuk menenangkan diri tanpa melihat wajahnya, kak"
"Hahahaha... aku mengerti", ucap Alice sambil mengelus lengan Sarah.
"Toko gimana, kak?"
"Aman kok, kamu tenang aja"
"Maaf jadi ngerepotin kakak terus, padahal kakak lagi hamil", kata Sarah sembari mengelus perut Alice.
"Gapapa, aku jadi ga bosen di rumah mulu. Dia juga pinter banget enggak banyak nyusahin selama kehamilan ini", jawab Alice.
"Besok aku ikut ke toko deh ya, kak. Udah lama banget aku ga kesana"
"Datang aja, itu kan tokomu. Kamu mau datang kapan pun juga ga ada yg ngelarang", jawab Alice dengan senyuman.
"Ada masalah apa? Mau bercerita padaku? Mungkin aku bisa membantumu"
Sarah terdiam, dia menarik panjang nafasnya.
"Sepertinya... aku... mau bercerai aja dari Michael", ucap Sarah dengan mata berkaca-kaca.