
Hari Senin tiba, hari dimana Sarah harus pergi ke sekolah Lucy untuk peringatan hari ibu. Sarah bergabung dengan orangtua murid lain yang duduk dibangku di dalam ruang kelas Lucy.
"Aku baru pertama kali melihat Anda, apa Anda ibu seorang murid baru?", tanya seorang ibu disebelah Sarah.
"Eee... bukan, saya orangtuanya Lucy", jawab Sarah.
"Ohhh... iya, aku dengar papa Lucy menikah lagi. Anda sangat muda dan cantik sekali"
"Ehhh... terimakasih banyak", jawab Sarah.
"Lucy anak yang riang di sekolah, dia juga pintar. Sejak bu Leona sakit dan meninggal, saya lihat dia jadi agak pendiam. Tapi sekarang dia sudah mulai ceria lagi, dia pasti senang karena punya seorang mama lagi"
Sarah hanya tersenyum.
"Anakku bilang, mama Lucy memiliki toko kue, dia ingin sekali beli kue disana karena dia bilang kue sangat cantik dan lezat. Kalo boleh tahu, dimana letak toko kue Anda?
"Ohh... toko saya ada di Tropicana Ave, Senza bakery. Silahkan mampir jika ada waktu, saya sering berada di toko kok"
"Benarkah? Boleh saya mengajak orangtua murid yang lain?"
"Tentu saja, saya sangat senang jika bisa mengenal semua orangtua murid di kelas Lucy"
Acara pun dimulai, dibuka dengan penampilan menyanyi lagu persembahan untuk ibu. Pementasan kelas dilanjutkan dengan penampilan tarian dan menyanyi. Penampilan yang terakhir ditutup dengan penyampaian rasa terimakasih anak-anak kepada ibunya, satu per satu anak berdiri di depan kelas untuk mengucapkan rasa terimakasihnya.
Akhirnya giliran Lucy pun tiba, Lucy berlari kecil dari pinggir kelas sambil tersenyum lebar. Sebelum mulai berbicara, Lucy melambaikan tangannya kepada Sarah. Sarah membalas lambaian tangan Lucy sambil tersenyum bangga.
"Terimakasih mama Sarah, karena telah menikah dengan papa dan menyayangiku dengan sepenuh hati. Aku sayang mama Sarah seperti aku sayang mama Leona"
Ucapan Lucy membuat Sarah berkaca-kaca, ucapan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Meskipun Lucy bukanlah anak kandungnya, tapi dari awal mengenal Lucy, Sarah sudah begitu menyayanginya. Karena Lucy-lah dia mau menikah dengan Michael.
Lucy segera berlari menuju tempat duduk Sarah dan memeluknya. Seketika Sarah meneteskan air matanya. Lucy melepas pelukannya dan memberikan sebuah amplop bergambar kepada Sarah.
"Aku juga menulis surat untuk mama", kata Lucy.
"Terimakasih banyak, sayang", jawab Sarah sambil menghapus air matanya.
***
Seharian itu, Sarah menghabiskan waktunya bersama Lucy. Malam harinya, Sarah teringat akan surat yang Lucy berikan padanya siang tadi. Sarah segera mencarinya ditas dan membacanya sambil duduk dipinggir kasurnya.
Surat bergambarkan seorang anak dan ibunya dan bertuliskan "Selamat hari ibu, mama Sarah". Sarah teringat akan diari Lucy yang pernah Michael tunjukkan padanya dulu, betapa Lucy begitu senang bersamanya seperti sedang bermain bersama ibunya.
Air mata Sarah tak terbendung, dia menangis sambil memeluk surat dari Lucy. Michael yang baru saja pulang kerja, mendekati Sarah untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Sayang, kau kenapa?", tanya Michael sambil mengusap air mata Sarah.
Sarah menunjukkan surat dari Lucy. "Lucy memberiku ini ketika di sekolah tadi", ucap Sarah sambil menyodorkan kertasnya pada Michael.
"Lalu kenapa kau menangis?", tanya Michael dengan tersenyum.
"Apa aku pantas menerimanya? Aku bahkan sering mengabaikannya dengan sibuk di toko", jelas Sarah.
"Dengar Sarah, Lucy merindukan banyak hal yang dulu dia sering lakukan bersama Leona. Membaca buku cerita sebelum tidur, bermain bersama, dan masih banyak lagi. Dia pasti juga rindu dipeluk oleh Leona. Sejak Lucy sering pergi ke tokomu, mungkin dia merasa kau banyak mengisi kekosongan itu. Begitu kau jadi istriku, dia kembali mendapatkan apa yang 3 tahun lalu ga dia dapetin. Kau juga ibu bagi Lucy, sayang. Kaulah yang akan membesarkannya sekarang", jelas Michael.
"Aku juga menangis di sekolah ketika Lucy mengucapkan terimakasih dan datang memelukku. Aku merasa... begitu bangga dia menjadi anakku", ucap Sarah sambil mengusap air matanya.
Michael tersenyum dan memeluk Sarah. "Kau akan jadi ibu yang hebat seperti Leona", kata Michael.
***
Keesokan harinya, Sarah membawa surat Lucy ke toko dan memajangnya menggunakan figura.
"Whoaaa... itu menyentuh sekali!", seru Alice.
"Aku menangis ketika menerimanya. Aku begitu bangga terhadapnya", ucap Sarah.
"Nantinya aku akan menerima seperti dari anakku", kata Alice sambil mengelus perutnya.
Suara pintu toko yang terbuka mengalihkan perhatian Sarah dan Alice.
"Whoaaa... pria kurang kerjaan datang lagi ke tokoku", canda Sarah.
"Tentu saja, aku lebih punya banyak waktu untukmu daripada Michael", ketus Denis.
"Hentikan itu, Denis. Kau bisa mengubah toko ini menjadi arena tinju kalo ada Michael disini", ucap Alice dengan nada bercanda.
"Duduklah, aku akan bawakan minum dan kue", kata Sarah. Sarah segera membawakan minum dan kue untuk Denis.
"Ada apa mencariku?", tanya Sarah.
"Aku sudah bilang kan mau traktir kamu makan", jawab Denis.
"Ayolah, ini cuma makan. Apa dia takut kau akan berpaling kepadaku karena aku sering ada waktu untukmu?"
"Bukan begitu, dia cuma..."
"Udahlah, hari ini aku akan mentraktirmu makan. Entah Michael setuju atau tidak, aku ga peduli", kata Denis memotong pembicaraan Sarah.
Hari itu, Michael pulang lebih awal. Namun Sarah belum pulang dan mengirimkan pesan kepada Michael.
"Sayang, aku pulang telat hari ini. Kau makanlah dulu dengan Lucy"
Michael diam sejenak dan menelpon seseorang.
Denis dan Sarah sedang dalam perjalanan ke sebuah restoran. Mereka tidak mengobrol sepanjang perjalanan.
"Kau masih suka makan di Joel Robuchon?", tanya Denis memecah keheningan suasana.
"Hmmm... enggak. Aku... lebih sering makan di rumah sekarang"
"Kenapa? Michael ga pernah ngajakin kamu makan diluar?", sindir Denis.
Sarah melirik ke arah Denis.
"Aku cuma bercanda, kenapa melirikku seperti itu?"
Ketika memasuki restoran, Sarah tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Oohh... maaf tuan, aku akan lebih hati-hati lagi", ucap Sarah.
"Tidak apa-apa, nyonya"
Sarah dan Denis segera masuk restoran dan duduk dimeja yg telah dipesan oleh Denis. Pria tadi memperhatikan Sarah dari kejauhan.
"Aku pesan Le faux fillet", kata Denis kepada pelayan restoran. "Kau mau pesan apa?", tanya Denis kepada Sarah.
"Hmmm... aku mau... La joue", jawab Sarah.
Denis dan Sarah menikmati makan malam mereka. Pria yang memperhatikan Sarah tadi, memotret Sarah dan Denis beberapa kali.
Ternyata pria tersebut adalah pak David, orang kepercayaan Michael di kantor. Michael menunggu kabar dari pak David sembari membaca buku di ruang kerjanya.
Pesan yang ditunggu Michael akhirnya muncul juga. Dia menerima beberapa foto dari pak David yang memperlihatkan Denis dan Sarah sedang makan bersama. Michael seketika langsung melempar buku yang ia baca.
Selesai makan malam, Sarah pulang dengan naik taksi. Dia tidak ingin membuat Michael marah karena baru saja pergi dengan Denis.
"Kau sudah pulang?", tanya Michael yg sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Aahh... sayang, kau ini mengagetkanku saja", seru Sarah. "Kenapa belum tidur?" tanya Sarah.
"Aku menunggumu", jawab Michael sambkl beranjak dari duduknya dan menghampiri Sarah. "Kau dari mana?", tanya Michael.
"Ohh... aku bertemu... dengan beberapa teman kuliah", ucap Sarah terbata-bata.
Michael menggenggam tangannya untuk menahan emosi. "Cepat tidurlah", kata Michael yang kemudian mengecup kening Sarah dan berjalan menuju kamar.
Sarah menghela nafasnya. Dia segera membersihkan diri dan berbaring disebelah Michael. Sarah mengusap rambut Michael yang telah tidur tengkurap.
***
Keesokan harinya, Sarah bangun lebih awal. Dia pergi ke dapur untuk memasak bersama bibi Rose.
"Aku bangunin Lucy dulu ya, bi", kata Sarah.
"Baik, nyonya", jawab bibi Rose.
Sarah membangunkan Lucy dan membantunya untuk bersiap-siap ke sekolah.
"Kamu sarapan sama bibi Rose dulu ya, mama mau bangunin papa dulu", kata Sarah.
Sarah membuka pintu kamarnya, Michael nampak masih tertidur pulas. Dia mendekati Michael dan mencium pipinya.
"Bangun sayang, ini udah hampir jam 7", kata Sarah.
Michael membuka matanya, dia segera bangun dan duduk dipinggir kasur.
"Sarapan udah siap, mau kubuatkan kopi?", tanya Sarah.
Michael tidak menjawab, dia segera berjalan ke kamar mandi dan membanting pintunya.
"Dia kenapa?", gumam Sarah.