Cupcake's Love

Cupcake's Love
#33



"Apa kita bisa lapor polisi?", tanya Michael.


"Kita bisa membuat laporan setelah 1x24 jam, pak", jawab pak David.


"Kumpulkan bukti-bukti ini, aku akan mengirimkan rekaman CCTV dari toko Sarah"


"Baik, pak. Saya permisi dulu"


Michael mengambil ponselnya dan menghubungi Lois.


"Denis meninggalkan apartemennya 2 hari lalu, dia juga mengajukan cuti dihari yang sama", kata Michael.


"Kemana perginya si brengsek itu? Aku juga ga bisa telpon dia", jawab Lois.


"Kita akan mencari Sarah bersama, kabari aku jika kau mengetahui sesuatu soal hilangnya Sarah"


Michael mengakhiri panggilannya kepada Lois, dan segera pulang ke rumah dan meminta bibi Rose untuk membawa Lucy ke rumah orangtuanya. Dalam keadaan seperti ini, ia merasa ingin menyendiri agar pikirannya tetap tenang.


"Bilang saja aku sedang ada urusan dengan Sarah. Terimakasih banyak, bi. Tolong jaga Lucy".


Itulah kata yang Michael ucapkan kepada bibi Rose. Tentu Michael memiliki alasan mengapa ia merahasiakan hilangnya Sarah dari kedua orangtuanya. Sebab ia tidak ingin kedua orangtuanya menjadi begitu khawatir. Ia akan menunggu hingga waktu yang tepat, sampai akhirnya ia harus membiarkan orangtuanya mengetahu masalah ini. Terutama orangtua Sarah. Michael menuju ruang kerjanya. Pikirannya benar-benar buntu mencari keberadaan Sarah.


***


Lois segera pulang ke rumah dan mencoba menenangkan Alice.


"Ini rahasia kita bertiga, jangan beritahu mama papa tentang apa yang terjadi pada Sarah. Paham?", ucap Lois sambil memeluk Alice.


"Semoga Sarah baik-baik saja. Aku sudah pernah bilang pada Sarah kalo Denis mulai mengerikan sejak dia menikah dengan Michael"


"Sudahlah, kita akan segera menemukannya"


***


*Di rumah Denis*


Denis menyiapkan makan malam untuk Sarah. Sarah masih membatu dan belum mau berbicara pada Denis.


"Makanlah, kau pasti lapar karena ga makan siang", ucap Denis sambil memberikan piring berisi makanan.


Sarah memalingkan wajahnya.


"Ayolah, sampai kapan kau akan membisu seperti itu?"


Sarah menatap Denis dengan mata berkaca-kaca.


"Makanlah sendiri, aku mau tidur!", ucap Sarah.


"Kau mau tidur? Ayo, tidurlah di kamar", Denis menggandeng tangan Sarah ke kamar. "Tidurlah disini, aku akan tidur di luar", sambung Denis.


Denis segera keluar kamar dan mengunci pintu kamarnya. Sarah memandangi kamar yang hanya berisi tempat tidur itu. Sarah mendekati jendela, Denis susah memasang pengaman pada setiap kunci jendela. Denis juga memasang kaca film pada setiap jendela sehingga Sarah tidak dapat melihat keluar.


Sarah berjalan menuju tempat tidur dan mambaringkan tubuhnya. Dia meringkuk dan mulai menangis. "Michael, tolong aku", ucapnya lirih sambil menangis.


***


Malam terasa panjang, Michael bahkan tidak bisa memejamkan matanya meskipun sebenarnya dia merasa lelah. Pikirannya masih melayang mencari keberadaan Sarah. Matanya mulai berkaca-kaca saat memandangi foto-foto Sarah pada ponselnya.


"Aku akan menemukanmu, sayang", ucap Michael. Lelah itu tak dirasa, hingga akhirnya matanya terpejam dan membawanya menuju alam mimpi.


Michael terbangun dari tidirnya. Dia tertidur di meja kerjanya. Michael langsung mengecek ponselnya dan menelpon Lois.


"Aku akan melapor ke polisi jika sampai siang ini kita masih belum menemukan Sarah"


"........."


"Baiklah, aku mengerti"


Michael bergegas bersiap-siap untuk pergi ke kantor.


***


Denis membuka pintu kamar dan melihat Sarah masih tertidur meringkuk di kkasur Denis mendekati Sarah dan membelai rambut Sarah. Sarah terbangun, dia segera menjauhi Denis dengan duduk diujung kasur dan menyandarkan punggungnya pada headboard.


"Apa kau kedinginan, sayang?", tanya Denis.


Sarah memalingkan mukanya yang sembab.


"Keluarlah, ayo kita sarapan bersama. Kau tidak makan sejak kemarin siang", kata Denis sambil menggandeng tangan Sarah.


Sarah duduk di meja makan, dan Denis sedang menyiapkan makanan untuk Sarah. Sarah melihat sebuah kunci diujung meja, Sarag mengambilnya secara perlahan dan memasukkannya disaku celananya.


"Makanlah yang banyak, aku sudah memasakkan makanan kesukaanmu", ucap Denis sambil menghidangkan sepiring quiche.


Denis mencoba untuk menyuapi Sarah, namun Sarah menolaknya. "Aku bisa makan sendiri", ketus Sarah.


"Makan yang banyak ya, sayang", kata Denis sambil tersenyum dan mengelus rambut Sarah.


Denis kembali ke meja dapur untuk membuatkan minuman. Sarah beranjak dari duduknya dan mengambil rolling pin di rak peralatan dapur, tepat dibelakang kursinya. Dia mendekati Denis dan memukul kepala Denis dari belakang.


Seketika Denis mengerang kesakitan dan pandangannya menjadi kabur. Sarah segera berlari dan berusaha membuka pintu rumah Denis.


"Saraaahhhh!", teriak Denis.


Denis bergegas mengejar Sarah, namun pintu rumahnya telah terbuka dan Sarah sudah berlari menjauhi rumahnya.


"Sarah!", Denis kembali berteriak untuk memanggil Sarah.


Sarah terus berlari menuju kawasan pertokoan. Langkahnya semakin melambat karena energinya mulai terkuras habis. Denis mengejar Sarah dengan hati-hati karena tidak ingin menarik perhatian di lingkungan rumahnya.


***


*Di kantor Michael*


"Saya sudah siapkan berkasnya untuk membuat laporan ke polisi nanti siang, pak", ucap pak David.


Michael mengangguk. "Terimakasih banyak", jawab Michael sambil menggulung lengan kemejanya.


"Kirimkan juga berkas itu pada Ian Clark", sambung Michael.


"Baik, pak. Saya akan memberikannya langsung kepadanya", jawab pak David.


"Buat kesepakatan juga, jika dia hanya diam saja atas masalah ini. Maka kita harus membukanya kepada media", kata Michael.


"Apa Anda yakin, pak?"


Michael mengangguk. "Yang akan hancur adalah reputasi hotelnya, bukan hotel kita", jawab Michael.


"Baik, pak", ucap pak David yang segera meninggalkan ruangan Michael.


Ponsel Michael berdering, Lois kembali menelponnya.


"Alice akan memberitahu mama dan papa", kata Lois.


"Apa tidak masalah?", tanya Michael.


"Ini udah terjadi berulang kali, dan kali ini Denis sungguh kelewat batas. Aku mengkhawatirkan kondisi Sarah, Mic"


"Baiklah, aku akan berusaha untuk segera menemukan Sarah dan membawanya pulang dengan selamat"


Michael mengakhiri panggilan telponnya dan duduk bersandar pada kursi kerjanya. "Sarah...", ucap Michael lirih sambil memijat pangkal hidungnya.


***


Dengan langkah besarnya, Denis mulai memangkas jarak dengan Sarah. Sarah berusaha sekuat tenaga untuk mempercepat larinya, hingga akhirnya dia tiba di perempatan sebelum kawasan pertokoan.


Tin... Tin... Braaakkk...


Suara klakson mobil yang datang dari arah kanan Sarah langsung menghempaskan badan Sarah. Semua orang yang berada di sekitar kawasan pertokoan terkejut dan mulai mengerumuni tempat kejadian.


Denis menghentikan langkahnya dan mematung beberapa saat.


"Sarah!", teriak Denis sambil berlari ke arah Sarah.


Denis mendekati Sarah yang terbaring di aspal. Denis mendekat untuk mengangkat kepala Sarah, namun dia mengurungkan niatnya karena melihat darah segar terlihat keluar dari kepala belakang Sarah.


"Jangan cuma lihat aja, cepat panggil ambulance!", teriak Denis pada orang-orang yang berkerumun di sekitarnya.


"Sarah, bertahanlah", ucap Denis sambil menahan tangisnya.


Mata Sarah masih terbuka, dia menatap langit yang makin lama makin kabur dari pandangannya.


"Michael...", ucap Sarah lirih sebelum akhirnya tak sadarkan diri.