
Sarah dan Michael tiba di bandara Seattle. Sarah akan menemani Michael dalam perjalanan bisnisnya selama 3 hari. Mereka dijemput oleh pihak The Edgewater dan segera menuju ke lokasi.
"Kenapa tertarik untuk bekerja sama dengan The Edgewater?", tanya Sarah.
"Itu hotel yang bagus, ga banyak juga kan hotel yang letaknya di dermaga"
"Tapi kan biayanya lumayan, bayar sewa tanah negara dan lain-lain"
"It's worth it, sayang. Proyek ini udah dipertimbangkan dari jaman papa masih pegang perusahaan", jelas Michael.
Sarah hanya mengangguk. Pandangan menuju luar jendela, menikmati pemandangan pinggir laut menuju tempat yang mereka tuju. Setibanya di The Edgewater, Sarah dan Michael berjalan menuju lift untuk pergi ke kamar mereka.
"Michael!", teriak seorang wanita.
Michael dan Sarah menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara. Sarah langsung memalingkan mukanya setelah melihat wanita yang memanggil Michael, dirinya menjadi kesal.
"Akhirnya ketemu disini juga", ucap Angela.
"Ohh, kebetulan sekali. Aku pikir kamu masih di Glasgow ikut suami", kata Michael.
"Enggak, kita baru aja bercerai"
"Benarkah? Maaf, aku ga tahu soal itu"
"Gapapa kok"
"Oiya, kamu udah bertemu istriku kan kemarin?"
"Iya, meskipun agak mengecewakan karena dia sedikit galak padaku", ucap Angela sambil tertawa.
Sarah tersenyum sinis, Michael mengeratkan genggaman tangan Sarah.
"Bagaimana bisa kamu tahu aku ada disini?", tanya Michael.
"Kemarin aku mampir ke kantormu, tapi pas di lobi aku ketemu pak David. Jadi aku tanya kesibukanmu, katanya hari ini kau Seattle karena ada bisnis. Jadi... aku juga mengatur perjalanan kesini"
"Oohhh, begitu. Aku permisi pergi ke kamar dulu, kami harus istirahat sebentar", ucap Michael.
"Baiklah. Oiya, aku akan menghubungimu lagi nanti. Mungkin nanti kita bisa makan malam bersama", kata Angela.
"Eee... lihat nanti, Angela. Aku tidak bisa menjanjikannya, kami pergi ke kamar dulu. Bye Angela...", kata Michael.
Sarah memasang raut muka kesalnya, Michael menyadari dan mencium pipi Sarah ketika masuk ke dalam lift.
"Kan udah ku bilang ga usah ngambek lagi", ucap Michael.
"Sebel tahu gak! Ngapain sih dia pake ikut-ikutan kesini, lagian pak David sih pake dikasih tahu segala", kata Sarah kesal.
Ting...
Pintu lift terbuka, Sarah bergegas keluar dan meninggalkan Michael. Sarah masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur.
"Ya ampun, sayang. Udahlah ga usah ngambek lagi", ucap Michael sembari menutup pintu kamar.
Michael ikut merebahkan badannya di sebelah Sarah.
"Aku kan ga ngerespon yang berlebihan ke Angela", sambung Michael.
"Masa?", Sarah menoleh ke arah Michael dan menatapnya tajam. "Kamu jelas-jelas terkejut pas tahu kalo Angela udah cerai sama suaminya"
"Ya... karena emang aku baru tahu, sayang. Wajar dong kalo aku kaget gitu"
Sarah berbalik dan memunggungi Michael. Michael tersenyum melihat sikap Sarah, dia menarik tubuh Sarah dan memeluknya dari belakang.
"Jangan ngambek lagi ya, kita kesini kan untuk pemanasan", goda Michael sambil menciumi punggung Sarah.
"Pemanasan, emangnya mau olahraga?", ucap Sarah.
"Iyalah, kan ngebakar kalori juga"
"Terserah lah...", ketus Sarah.
***
"Kalian mau makan malam di luar?", tanya Angela.
"Iya, kau sendiri?", tanya Michael.
"Aku juga mau makan malam di luar. Lebih baik kita makan malam barengan aja ya, c'mon", ucap Angela sambil menarik tangan kiri Michael.
Sarah melirik ke arah tangan Angela dan Michael, emosinya kembali tersulut. Saat berada di mobil pun, dia hanya diam saja. Angela terus saja mengobrol dengan Michael yang duduk di sebalah sopir.
"Kenapa kita ke Canlis? Aku pikir kita akan makan makanan Itali, ternyata makan masakan new America", ucap Angela.
"Kamu tuh cuma ngikut, ga usah banyak ngatur deh", ucap Sarah dengan kesal sambil berjalan memasuki restoran.
Michael mengejar Sarah dan menggandeng tangannya sambil tersenyum. "Kalo cemburu kayak gini malah bikin aku gemes tau ga", canda Michael.
Kehadiran Angela benar-benar menguji kesabaran Sarah. Ketegangan itu kembali terjadi saat akan memesan menu.
"Kamu mau menu yang mana, sayang?", tanya Michael.
"Hmm... aku yang ketiga ini aja" jawab Sarah sembari menunjukkan menu yang ia pilih pada Michael.
"Whoaaa... nampaknya kau doyan makan ya. Dimenu ketiga itu kan ada black cod, lamb, duck, ribeye", ucap Angela.
"Iya, aku tahu. Kamu ga perlu ngulang itu lagi", ketus Sarah.
Michael tersenyum dan menggenggam tangan Sarah. "Aku juga pesan course yang ketiga ya", ucap Michael.
Angela melirik sinis ke arah Michael. "Aku mau course 1", ucap Angela sembari menutup buku menu.
"Eeee... ngomong-ngomong bagaimana kau bisa bertemu istrimu ini, Mic? Sepertinya dia masih sangat muda", tanya Angela.
"Iya, usianya baru 28 tahun. Aku bertemu dengan Sarah saat ulang tahun Lucy, dia yang orang kepercayaan mama untuk mempersiapkan pestanya"
"Selisih 6 tahun? Apa kamu sengaja nyari yang muda gitu, Mic?", tanya Angela.
"Enggak, awalnya malah ga mau nikah lagi. Tapi pikiranku berubah setelah ketemu dengan Sarah", jawab Michael sambil tersenyum dan membelai rambut Sarah.
Sarah masih memasang wajah ketidaksukaannya dengan kehadiran Angela.
"Aku sungguh terkejut begitu mengenal istrimu, bagaimana bisa seleramu berubah begitu drastis?", ucap Angela sambil menahan tawa.
"Memangnya menurutmu Michael seleranya kayak gimana?", ketus Sarah.
"Ya, ga kayak kamu. Kau bisa lihat sendiri kan dari Leona dan aku, kamu ga masuk kategori itu", jawab Angela.
Pelayan restoran mulai menyajikan makanan. Emosi Sarah sudah meluap, dia mencengkeram genggaman tangan Michael."
"Udah ya, kita makan dulu", ucap Michael sembari mengelus punggung tangan Sarah dan menciumnya.
Makan malam di restoran mewah dengan makanan yang sangat lezat itu pun menjadi hambar bagi Sarah. Angela terus saja asik ngobrol dengan Michael. Namun sesekali, Michael meletakkan tangannya dipaha Sarah. Mungkin maksudnya agar Sarah lebih bersabar.
Saat kembali ke hotel, Angela juga masih tetap mengabaikan Sarah. Hingga akhirnya Sarah turun dari mobil dan berjalan cepat meninggalkan Michael dan Angela.
"Eee... aku tinggal dulu ya", ucap Michael mengejar Sarah yang sudah masuk ke dalam lift.
"Wanita itu kekanak-kanakan sekali", gumam Angela.
***
Begitu masuk ke dalam kamar, Sarah langsung melempar tas tangannya pada meja dan mengambil air minum.
"Sabar ya", ucap Michael mengelus punggung Sarah.
"Ada lagi ga mantan pacarmu yang lain? Tunjukin semua ajalah biar nanti-nanti aku ga kesel kayak gini mulu. Seenaknya sendiri ngatain aku kayak gitu, kayak dia paling sempurna aja. Apa dia pernah ketemu Leona juga?", ucap Sarah
Michael mengangguk. "Dulu, sebelum aku dan Leona menikah. Dia juga ngomel-ngomel kayak kamu", jawab Michael sambil tersenyum.
"Tuh kan, kamu aja tuh yang aneh. Gimana sih dulu kamu bisa pacaran sama orang kayak gitu?", gerutu Sarah.
"Entahlah, aku juga ga tahu", jawab Michael memeluk Sarah. "Bisa kita melakukannya sekarang? Melihatmu dari kemarin marah membuatku semakin bernafsu", goda Michael.