Cupcake's Love

Cupcake's Love
#49



*Hari berikutnya*


Lidya dan bibi Rose pergi ke supermarket untuk berbelanja. Angela yang mengenali wajah ibu Michael langsung menghampiri untuk menyapa. Tentu ia berharap akan mendapat sambutan hangat dari Lidya.


"Tante...", ucap Angela. Lidya menengok ke arah Angela. "Ini aku, Angela. Tante masih ingat aku kan? Dulu aku berpacaran dengan Michael saat masih SMA", sambung Angela.


Lidya segera memalingkan wajahnya dan mengajak bibi Rose untuk meninggalkan Angela.


Angela menjadi murka. "Ini pasti karena hasutan istri Michael sialan itu", gumam Angela.


***


*Di kantor Michael*


Tok... tok...


Pak David masuk ke ruang kerja Michael dengan membawa berkas perceraian yang diminta Michael.


"Ini berkas perceraian yang harus diisi oleh Anda dan nyonya Sarah", ucap pak David.


Michael melirik ke arah berkas itu dan kembali melakukan pekerjaannya. "Oke, pak. Terimakasih banyak".


"Sepuluh menit lagi Anda ada pertemuan dengan direksi hotel yang di Jepang di restoran Kabuto", kata pak David.


"Baiklah, aku akan siap-siap"


Michael turun ke lobi untuk berangkat ke Kabuto dan bertemu Angela di lobi.


"Kamu mau kemana? Mau makan siang bareng?", kata Angela sambil menggandeng Michael.


Michael hanya diam saja, dia menarik tangannya dan masuk ke mobilnya bersama pak David. Sontak kejadian itu menjadi perhatian orang-orang yang ada di lobi. Semua mata menatap Angela dan menggunjingkannya, karena semua orang tahu dia bukanlah istri dari bos mereka.


Angela mengepalkan tangannya, dia merasa marah dan malu dengan sikap Michael padanya.


"Awas kau Sarah, dasar wanita jahat!", gumamnya sambil berjalan meninggalkan perusahaan Michael.


***


Siang ini, Sarah menyempatkan diri untuk menemui Lucy. Sarah yang baru tiba di sekolah Lucy langsung menghampiri pak Kim yang sedang duduk di bangku taman depan sekolah.


"Pak Kim!", panggil Sarah sambil berjalan mendekati pak Kim.


"Oohhh... nyonya Sarah. Anda datang lebih awal"


"Iya, pak. Aku takut kalo Lucy keburu pulang. Eee... nanti pulang ke rumah Michael atau ke rumah mama pak?"


"Mulai hari ini Lucy kembali tinggal di rumah kakek neneknya, mereka yang meminta sejak... nyonya sudah tidak lagi di rumah. Jadi hanya pak Michael yang tinggal di rumahnya", jelas pak Kim.


Sarah mengangguk. Tidak lama terdengar suara anak-anak yang begitu gembira karena waktunya pulang ke rumah. Sarah berdiri dan mencari keberadaan Lucy.


"Lucy!", teriak Sarah sambil melambaikan tangan dan senyum yang terkembang lebar.


"Mamaaaa...", Lucy berlari ke arah Sarah dan memeluknya. "Mama kenapa ga pulang dan tidur di rumah?", tanya Lucy.


"Eee... iya, maaf sayang. Mama... ada banyak kerjaan"


"Trus kapan mama pulang?"


"Eee... itu... sementara mama akan jemput dan main dulu sama Lucy ya, karena... mama ga bisa nemenin kamu main di rumah"


Wajah Lucy nampak sedih mendengar perkataan Sarah. Dan ekspresi wajah lucy itu jelas membuat Sarah semakin sedih.


"Ayobkitabpergi jalan-jalan! Kamu mau jalan-jalan kemana sama mama?"


"Hmmm... aku mau ke kids club, ma!", seru Lucy.


"Kamu mau main di playground? Oke, let's go!"


Pak Kim mengantar Lucy dan Sarah bermain di playground. Mereka terlihat begitu menikmati kebersamaannya. Pak Kim yang menunggu di luar playground langsung berubah panik saat mendapat telpon dari Lidya.


"Pak Kim, kenapa jam segini belum sampai di rumah?", tanya Lidya.


"Iya, nyonya. Maaf, saya lupa kasih kabar. Tadi nyonya Sarah datang ke sekolah Lucy, dan sekarang mereka sedang bermain di playground"


"Oohh... begitu rupanya. Baiklah kalo begitu"


Setelah cukup lama bermain, Sarah dan Lucy menghampiri pak Kim setelah selesai bermain.


"Mari nyonya, saya antar pulang"


"Eee... ga usah, pak Kim. Aku naik taksi aja", Sarah memposisikan berdiri setengah badan agar dapat bertatapan dengan Lucy.


"Kamu pulang sama pak Kim ya, sayang. Nanti kalo mama lagi ga sibuk kita main-main lagi, OK?", ucap Sarah.


"Mama ga ikut pulang ke rumah nenek?"


Sarah menggelengkan kepalanya. "Mama... masih ada kerjaan, sayang. Tolong ngertiin mama ya"


Lucy mengangguk.


"Hati-hati di jalan ya, pak Kim", ucapnya pada pak Kim.


Sarah membelai rambut Lucy, lalu memeluk dan mencium kedua pipi Lucy. "Mama sayaaaaaang sekali padamu, good girl ya sayang"


Lucy menganggukkan kepalanya, dia berjalan menuju mobil dan melambaikan tangannya pada Sarah. Sarah pun membalas lambaian tangan Lucy dengan mata berkaca-kaca.


***


Setelah Lucy pulang bersama pak Kim, Sarah mampir ke supermarket untuk membeli beberapa barang keperluan. Ponselnya berdering tanda ada pesan masuk. Ternyata Michael mengirimkan pesan untuk Sarah.


"Kamu dimana? Kita harus bertemu, aku akan menyerahkan berkas perceraian yang kamu minta"


Pesan yang diterima seketika membuatnya menjadi sesak, matanya pun mulai berkaca-kaca.


"Aku tinggal di Vue, kamar yang aku sewa ada di lantai 2. Kamar nomer 119"


Sarah membalas pesan Michael dan segera menyelesaikan belanjanya. Sesampainya di apartemen, Sarah melihat Michael telah berdiri di depan kamar untuk menunggunya. Michael menoleh ke arah Sarah yang cukup kerepotan membawa barang belanjaannya. Lalu Michael mendekati Sarah dan membantu membawa beberapa kantong belanjaan.


"Terimakasih", ucap Sarah sambil berjalan ke depan pintu kamarnya dan membuka pintu. Michael meletakkan barang belanjaan Sarah di meja makan.


"Duduklah, aku akan membuatkan minum", ucap Sarah sambil membuatkan teh untuk Michael.


Sarah meletakkan minumannya dimeja, Michael langsung meminumnya karena haus setelah cukup lama menunggu kedatangan Sarah.


"Aku... tadi pergi ke playground sama Lucy", kata Sarah.


Michael mengangguk. "Dia pasti sangat merindukanmu"


Kemudian Michael menyodorkan berkas perceraian pada Sarah.


"Kata pak David, ada berkas yang harus kamu isi. Kalo udah selesai, kabarin aja. Nanti aku akan mengambilnya"


Sarah tertunduk dan menghela nafasnya, lalu mengambil berkasnya dan meletakkan berkas itu disampingnya.


"Aku akan tetap memberikan saham perusahaan kepadamu, sesuai dengan janjiku. Aku... juga akan memberikanmu rumah, agar kamu lebih nyaman dan... bisa membawa pulang Lucy untuk menginap"


"Ga perlu, udah aku bilang aku cuma minta kebebasan ketemu Lucy aja", ucap Sarah lirih.


"Aku tetap akan memberikannya meskipun kamu menolaknya"


Sarah membuka dompet dari dalam tasnya, dia menyodorkan kartu debit milik Michael yang diberikan untuknya.


"Aku... tidak berhak menggunakannya lagi", ucap Sarah.


"Simpan aja dulu, kita kan belum resmi berpisah"


Sarah terdiam, suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Tidak ada lagi percakapan yang tercipta antara Sarah dan Michael.


"Aku... akan pulang, mungkin kamu mau istirahat", kata Michael sembari berdiri.


Sarah hanya mengangguk, dia mengantar Michael hingga pintu kamarnya.


"Eee... Sarah", ucap Michael sambil berbalik badan.


"Ya?", jawab Sarah singkat.


Michael berjalan menuju Sarah dan memeluknya.


"Terimakasih telah memberi kebahagian untukku dan Lucy delapan bulan ini. Jaga kesehatanmu, jangan terlalu capek di toko. Seringlah berjinjit untuk peregangan otot kakimu. Dan... tolong jangan berhenti memberi perhatian kepada Lucy. Maaf aku belum bisa membahagiakanmu", kata Michael.


Sarah terdiam, matanya menahan bendungan air mata. Michael melepaskan pelukannya dan berjalan keluar kamar Sarah. Sarah terduduk tak berdaya di lantai dan menangis terisak. Begitu sakit hatinya, tak pernah membayangkan jika pernikahannya akan segera berakhir dalam waktu dekat.