Cupcake's Love

Cupcake's Love
#64



Suara tembakan membuat Michael dan pak David yang baru datang menjadi terkejut. Michael segera turun dari mobil dan berlari menuju tempat Sarah dan Angela. Dilihatnya Sarah yang memegang tangan pria penjaganya dan terbatuk-batuk setelah dicekik Angela. Tangan pria penjaga itu masih menodongkan pistol ke arah Angela yang terus saja mengumpat setelah kakinya tertembak.


"Brengsek! Cepat panggil ambulance, bodoh! Aku akan menjebloskanmu ke penjara. Dasar brengsek!", bentak Angela sambil menahan sakit dan memegangi betis kaki kanannya yang tertembak.


Pria penjaga Sarah hanya diam saja. Matanya menatap tajam Angela, tangan kanannya menodongkan pistol ke arah Angela, sementara tangan kirinya memegangi Sarah yang masih kesulitan bernafas. Michael dan pak David berlari menghampiri Sarah, diikuti oleh beberapa orang dari kepolisian.


"Sayang, kamu gapapa?", tanya Michael melihat kondisi Sarah yang masih terbatuk-batuk dan sedikit pucat.


Sarah hanya menganggukkan kepalanya, Michael segera melepas tangan Sarah yang berpegang pada tangan pengawalnya dan memeluknya.


"Nyonya Angela Carson, Anda kami tahan atas kasus penggelapan pajak", ucap salah seorang polisi dengan menunjukkan surat penahanannya.


"Hei... ga usah mengada-ada, bodoh! Aku ga akan mungkin menggelapkan pajak, kau harus tangkap pria sialan ini karena menembakku!", bentak Angela.


"Anda bisa memberikan penjelasan di kantor polisi, nyonya", jawab polisi tadi sambil memberikan kode untuk segera menahan Angela.


"Apa ini rencanamu, Michael? Kau pasti dalang dari semua ini kan?"


"Aku hanya membantu polisi mengungkap kebusukanmu. Aku terpaksa melakukannya karena kau mengganggu istriku"


"Kau lihat saja, Michael. Aku akan menghancurkan kalian berdua! Aku akan menghancurkan keluargamu juga!", teriak Angela.


"Anda semua dengar perkataan wanita itu barusan kan? Itu sebuah ancaman, kalian bisa jadi saksi untuk memperberat hukumannya supaya dia membusuk di penjara" ucap Michael menatap beberapa polisi yang ada disana.


"Kau brengsek!", teriak Angela saat dipaksa masuk ke dalam mobil polisi.


Michael melepaskan pelukannya. "Kita ke rumah sakit dulu, OK?"


"Ga usah, sayang. Aku udah gapapa kok, kita pulang aja ya. Lucy pasti udah nunggu kita di rumah"


"Kau yakin?"


Sarah menganggukkan kepalanya.


"Pak David, tolong kau bawa mobil Sarah. Aku akan membawa pulang Sarah bersamaku, dan kau...", ucap Michael sambil menunjuk ke arah pengawal Sarah. "Aku akan mendengarnya penjelasan darimu!"


"Baik, tuan. Maaf karena saya lalai dalam menjalankan tugas"


"Sayang, ini bukan salahnya. Aku yang melarangnya bertindak, ini semua salahku. Dia melakukan apa yang aku perintahkan. Lagian sekarang Angela juga udah ditangkap kan, jadi ga usah mempermasalahkan ini lagi. OK?"


Michael menatap lekat Sarah. "Baiklah, aku memaafkanmu hari ini. Ayo kita pulang sekarang, sayang"


Michael membawa Sarah pulang ke rumah. Lucy berlari memeluk Sarah yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Apa mama sakit?", tanya Lucy sembari meneyntuh dahi Sarah.


Sarah mengangguk. "Iya, mama agak capek. Kamu udah ngerjain tugas?"


"Udah, tadi dibantuin bibi Rose"


"Good girl!", puji Sarah sembari mencium kedua pipi Lucy.


"Papaaaa...", seru Lucy saat melihat Michael yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Michael segera memeluk Lucy dan menggendongnya. "Kamu udah makan? Mengerjakan PR?"


Lucy menjawab dengan senyuman dan anggukan.


"Sekarang istirahat ya, papa mau obatin mama dulu"


"Oke, papa"


Michael berjalan mengambil kotak obat dan membawanya ke kamar. Sarah sudah duduk di pinggir kasur sambil meregangkan tubuhnya.


"Coba sini lihat", ucap Michael sembari mengecek leher Sarah. "Beraninya wanita sialan itu mencekikmu"


"Kamu mengolok Angela? Bukannya dia mantan pacarmu?", canda Sarah.


Michael hanya menatap tajam Sarah, dia tidak menghiraukan pernyataan Sarah dan mengambil salep untuk mengobati luka Sarah.


"Maaf, sayang. Aku cuma bercanda", ucap Sarah dengan mencium pipi Michael.


"Perih?", tanya Michael sembari mengoleskan salep.


Sarah mengangguk sambil meremas paha Michael untuk menahan sakitnya.


"Kau menggodaku?", ucap Michael dengan senyuman menggoda Sarah.


"Enggak... aku kan cuma... nahan perihnya"


"Menggoda juga gapapa, kita bisa lakukan malam ini", goda Michael yang semakin membuat Sarah tersipu malu.


"Bagaimana bisa kamu kenal wanita seperti Angela?", tanya Sarah sembari menahan tawa.


"Kenapa bahas itu sih"


"Darimu juga", jawab Michael singkat sambil meniup leher Sarah yang sudah dioles salep.


"Apa dulu... dia manis?"


Michael hanya melirik ke arah Sarah.


"Ayolah, sayang. Aku cuma pengen tahu, aku yakin kamu ga sembarangan mengencani wanita. Bahkan untuk menikahiku pun kamu pasti banyak pertimbangan kan? Aku ga bermaksud apa-apa, aku yakin pasti dulu Angela wanita yang baik. Buktinya kamu sampai memacarinya dan tidur dengannya"


"Apa kamu cemburu?"


Sarah menggelengkan kepalanya. "Itu kan hanya masa lalu"


Michael mengusap pipi Sarah. "Dia dulu gadis yang baik, sama sepertimu dan Leona. Entah sejak kapan dia berubah jadi menyeramkan seperti sekarang"


"Mungkin setelah kau mengakhiri hubungan dengannya dan dia berubah menjadi gila"


"Pesonaku memang luar biasa"


"Hahahaha... sekarang kau berani menyombongkan diri? Tadi aja ga mau jawab"


Michael menutup kotak obatnya dan berjalan menuju meja rias. Dia melepas jasnya, Sarah membantu membuka dasi dan kemeja Michael.


"Mau aku buatkan minuman hangat?", tanya Sarah sambil mengambil jas Michael di kursi.


"Boleh, jika itu tidak merepotkanmu. Apa kau mau berendam?"


"Kamu mau mandi dulu aja, aku mau rebahan sebentar"


"Baiklah", jawab Michael lalu mengecup kening Sarah dan masuk ke kamar mandi.


Sarah berjalan menuju dapur dan membuat teh untuk Michael.


"Apa Lucy sudah tidur, bi?", tanya Sarah pada bibi Rose yang sedang mermbersihkan dapur.


"Iya nyonya, baru saja. Apa nyonya mau makan malam? Saya akan menghangatkan makanannya"


"Hmm... boleh. Aku akan makan setelah Michael mandi"


"Baik, nyonya"


"Eee... bibi, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tentu nyonya, silahkan"


"Ini... tentang Leona. Aku... hanya penasaran. Apa dulu Michael dan Leona juga sering bertengkar sepertiku?"


Bibi Rose terdiam, dia merasa sungkan untuk menjawab pertanyaan Sarah.


"Aku hanya penasaran, bi", ucap Sarah sembari mengelus lengan bibi Rose.


"Iya, mereka sering bertengkar. Dulu tuan Michael selalu sibuk bekerja, jadi nyonya Leona merasa diabaikan"


"Apa Michael tahu sejak awal jika Leona sakit?"


Bibi Rose menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang tahu, nyonya. Bahkan keluarga nyonya Leona sendiri pun juga sangat terkejut. Sejak itu, tuan Michael mulai mengurangi pekerjaannya dan merawat nyonya Leona"


"Baiklah, terimakasih sudah mau bercerita bi. Aku akan ke kamar, tolong hangatkan makanan ya"


"Baik, nyonya"


Sarah berjalan menuju kamar dan meletakkan teh di meja sebelah kursi. Dia mengambil ponsel ditasnya dan memainkan ponselnya. Tak berapa lama, Michael keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya.


"Biar aku bantu", ucap Sarah sembari mengambil handuk yang dipegang Michael.


Michael duduk di lantai sementara Sarah duduk di kursi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Aku sudah minta bibi Rose untuk menghangatkan makanan, kita makan dulu ya"


Michael mengangguk. "Kenapa kamu begitu ceroboh? Kenapa kamu sampai mau diajak Angela ketemu ditempat seperti itu?"


Sarah berhenti mengeringkan rambut Michael. "Sayang, aku kesana karena kamu yang menyuruhku datang. Aku bahkan kaget saat tahu justru Angela yang datang kesana"


Michael membalikkan badannya dan menatap Sarah, dia mengernyitkan dahinya. "Aku? Aku yang menyuruhmu datang?"


Sarah mengangguk, dia mengambil ponselnya dan menunjukkan pesan yang dikirim dari ponsel Michael. "Kamu yang kirim pesan minta aku datang kesana"


Michael mengambil ponsel Sarah, dia mengamati dengan teliti pesan tersebut.


"Jam 3.20 p.m?", gumam Michael.


Michael berdiri dan mengepalkan tangannya, dia menendang pintu kamar mandi untuk melampiaskan emosinya.