Cupcake's Love

Cupcake's Love
#47



"Apa kau sudah gila?", seru Alice dengan memukul lengan Sarah. "Ayo, cepetan ganti baju. Kita ngobrol di luar aja sama Lois. Kalo mama denger bisa shock nanti", sambung Alice.


Sarah dan Alice segera menuju ke Market Street Cafe untuk bertemu dengan Lois.


"Pesan menu gitu aja sulit ya saking buntunya pikiran kamu?", canda Lois.


"Berisik deh...", jawab Sarah. "Eee... aku mau steak and eggs ya", sambung Sarah sambil menyerahkan buku menunya pada pelayan.


"Sebenarnya kalian ada masalah apa? Kenapa kamu sampai punya pikiran untuk bercerai dengan Michael?", tanya Lois.


"Dia enteng banget ngomongnya, sayang. Makanya aku ajakin keluar, takut mama denger", imbuh Alice.


"Aahhh... entahlah, kepalaku pusing", ucap Sarah sambil meletakkan kepalanya dimeja.


"Kamu ambil keputusan ini karena lagi emosi, Sarah. Ini bukan keputusan yang tepat", kata Lois sambil mengusap rambut Sarah.


Sarah menegakkan posisi duduknya. "Michael berselingkuh dengan mantan pacarnya, dia nyusul kita ke The Edgewater. Aku lihat sendiri mereka mesra-mesraan di lift"


Mata Lois dan Alice membelalak, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar dari Sarah.


"Kamu serius?", tanya Alice.


Sarah mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. "Waktu itu aku mau nyusul Michael ke bawah, tapi pas pintu lift kebuka, mereka lagi pada duduk di lantai lift. Gaun ceweknya tersingkap ke atas, rambutnya agak berantakan dan meluk Michael", jelas Sarah yang kemudian mulai menangis.


"Ya Tuhaaannn... apa benar Michael orang yang seperti itu? Kamu ga asal bicara kan, Sarah?", tanya Alice.


"Enggaklah, kak. Itu aku beneran lihat", jawab Sarah menahan tangisnya.


"Trus Michael gimana?", tanya Lois.


"Ya dia bilang, itu ga seperti yang aku lihat. Wanita itu ngejar Michael lagi, dia juga pernah datang ke rumah nyariin Michael"


"Aku ga percaya Michael seperti itu. Dia bahkan terlihat begitu setia saat kamu kecelakaan kemarin, dia menghajar Denis habis-habisan. Ga taunya dia menyelingkuhi Sarah", kata Alice geram.


"Kau di rumah mama dulu aja, tenangin diri dulu. Aku akan bantu nyelesaiin masalah ini", ucap Lois.


"Aku mau cari tempat tinggal lain aja, kak. Mama pasti akan sering ngomel kalo aku kelamaan di rumah. Mama kan juga gatau masalah ini"


"Kamu mau tinggal dimana?", tanya Alice.


"Gampanglah kak, aku bisa cari sendiri"


"Jangan pergi ke luar kota, pikiranmu lagi kacau. Nanti terjadi apa-apa", kata Lois.


"Iya kak, aku ngerti", jawab Sarah.


***


Keesokan harinya, Sarah pergi ke toko yang telah ia tinggalkan lebih dari dua minggu.


"Kita sedih banget pas bu Sarah koma, pak Michael sempat kesini minta kue sebox. katanya biar bu Sarah cepet bangun", kata Lily.


"Setelah ini, bu Sarah bakal sering ke toko lagi kan?", tanya Ellen.


Sarah mengangguk. "Kan ada kak Alice juga yang akan bantu kalian disini", jawab Sarah.


Sarah senang dapat kembali ke rutinitasnya lagi. Aktifitas yang terpaksa ditinggalkannya selama beberapa saat, dan kini waktunya untuk kembali sekaligus untuk menenangkan pikirannya.


"Apa... Sarah Hilary ada disini?", tanya Angela yang saat itu mengunjungi toko.


"Eee... iya ada, sebentar saya panggilkan dulu", jawab Lily.


Tak berapa lama, Sarah keluar dari dapur dan langsung terlihat kesal begitu melihat Angela yang telah menunggunya di depan meja kasir.


"Mau apa kau?", tanya Sarah.


"Enggak, aku cuma mampir aja. Michael bilang toko kuemu ada di sekitar Tropicana Ave, jadi ya aku mampir aja pas lewat disini", jawab Angela dengan senyum lebarnya.


Sarah mengangguk. "Teruskanlah, aku ga ada waktu untuk ngelayanin orang ga penting kayak kamu. Aku sedang banyak kerjaan", ucap Sarah yang kemudian berjalan masuk ke dapur.


"Itu tadi orangnya?", bisik Alice.


Sarah mengangguk.


"Berani sekali dia datang kesini", ucap Alice geram.


"Udahlah kak, aku mau keluar dulu sebentar", kata Sarah sambil melepaskan apronnya dan pergi meninggalkan toko.


"Mamaaaaaa...", teriak Lucy saat Sarah baru saja berjalan meninggalkan tokonya.


Sarah menengok ke arah sumber suara, terlihat Lucy berlari ke arahnya masih dengan seragam sekolahnya. Sarah memeluk erat Lucy, dan Michael turun dari mobil lalu menghampiri keduanya.


"Mama kenapa ga pulang ke rumah? Aku kan kangen", ucap Lucy.


"Mama... eeee... ada urusan di rumah nenek", jelas Sarah.


"Kita pergi ke Handel's dulu, Lucy bilang dia pengen makan es krim", kata Michael.


"Mama mau makan es krim kan?", tanya Lucy.


Sarah mengangguk. "Ayo kita makan es krim bersama".


Interaksi Michael dan Sarah menjadi kaku, Sarah hanya berinteraksi dengan Lucy saja dan tidak menghiraukan Michael. Dalam perjalanan pulang pun, Sarah masih memilih duduk dibelakang menemani Lucy yang tertidur. Dia hanya melihat ke arah luar jendela daripada berbicara dengan Michael.


Sesampainya di rumah, Michael menggendong Lucy tertidur dan membawanya ke kamar. Sedangkan Sarah mengikutinya di belakang dengan membawa tas sekolah Lucy.


"Tolong urus Lucy ya, bi", ucap Michael pada bibi Rose. "Kita harus bicara", sambung Michael sambil menarik tangan Sarah dan mengajaknya ke kamar.


"Lepasin!", ucap Sarah menarik tangannya. "Mau ngomong apa sih?", sambung Sarah.


Michael tak menghiraukan ucapan Sarah, ia tetap memaksa Sarah dan menariknya masuk ke dalam kamar.


"Mau sampai kapan kita kayak gini? Aku harus gimana lagi biar kamu percaya dan maafin aku?", tanya Michael dengan nada kesal.


"Apalagi yang mau dijelasin? Semuanya udah jelas kan?"


"Kamu kan cuma lihat sekilas, tapi nuduhnya malah macem-macem gitu"


"Udahlah, aku ga mau bahas itu lagi", ucap Sarah sambil berjalan ke arah pintu kamar. Michael menarik pergelangan tangan Sarah dan memeluknya dengan erat.


"Kumohon percayalah padaku, Sarah. Aku sama sekali ga melakukan apapun sama Angela. Kamu cuma salah paham aja".


Sarah mendorong tubuh Michael dan melepaskan pelukannya.


"Kita akhiri saja pernikahan ini, aku mau bercerai darimu", ucap Sarah.


Mata Michael membelalak dan berkaca-kaca.


"Kamu ngomong apaan sih? Kamu jangan asal ambil keputusan disaat seperti ini, Sarah!"


"Aku udah mikirin itu selama di rumah mama, ini sepertinya pilihan yang tepat. Aku ga akan ganggu hubungan kamu dan Angela lagi"


Michael menghela nafasnya, dia berbalik badan dan meninju pintu lemari disebelahnya.


"Ga usah marah-marah gitu, diluar ada bibi Rose dan Lucy"


Michael tidak menghiraukan perkataan Sarah. "Cerai? Gampang sekali kamu mengambil keputusan itu"


"Aku udah mikirin keputusan ini, aku juga udah bilang ke kak Lois dan kak Alice. Aku... tetap akan bantu ngerawat Lucy jika kau mengijinkannya, aku..."


Perkataan Sarah terpotong oleh ponsel Michael yang berdering. Lagi-lagi Angela menelpon Michael. Michael yang sedang terbawa emosi langsung melempar ponselnya ke arah meja rias dan mengenai cerminnya.


Pyaaarrrr...


Cermin itu pecah dan berhamburan di lantai kamar. Sarah yang begitu takut berusaha menahan tangisannya dan menyeka air matanya.