Cupcake's Love

Cupcake's Love
#65



Michael mengambil ponselnya dan menelpon pak David.


"Bawa Marie segera ke rumahku, dia bersekongkol dengan Angela", ucap Michael.


Michael menutup telpon dan melempar ponselnya ke kasur.


"Ada apa, sayang?", tanya Sarah sembari melingkarkan tangannya pada lengan kiri Michael.


"Seseorang sengaja mengirimkan pesan itu padamu lewat ponselku"


Sarah mengernyitkan dahinya. "Siapa?"


"Marie, sekertarisku. Pesan itu dikirim pada pukul 3.20 pm, aku sedang meeting sayang. Aku tahu Marie pasti dengan sengaja mengirimkan pesan itu, dia bersekongkol dengan Angela"


"Ta... tapi... bagaimana bisa?"


"Aku juga belum tahu, tapi memang Marie mencurigakan akhir-akhir ini"


"Tenanglah. Kita makan dulu sambil nunggu mereka datang, OK?"


"Disituasi kayak gini mana bisa makan"


Sarah mendekat dan memeluk Michael. "Situasi udah aman, sayang. Angela juga udh ditahan, apalagi yang kamu khawatirkan?"


"Baiklah, ayo makan dulu", jawab Michael sembari mengusap punggung Sarah.


***


Pak David dan Marie datang saat Michael dan Sarah sedang makan malam.


"Tuan, pak David sudah datang", ucap bibi Rose.


Michael hanya mengangguk, dia menyelesaikan makannya dan segera minum.


"Kamu lanjutin makannya ya, aku temui mereka dulu", ucap Michael sembari beranjak dari tempat duduknya dan mencium kening Sarah.


Michael berjalan menuju ruang tamu, dilihatnya Marie yang menunduk dan menggenggam kedua tangannya.


"Jadi ini yang membuatmu sering menghilang saat jam kerja?", ketus Michael sambil duduk di hadapan Marie.


"Maaf, pak. Saya telah melakukan kesalahan yang fatal. Saya melakukan ini karena saya terpaksa", jawab Marie sambil menahan tangisannya.


"Terpaksa? Apa yang dijanjikan Angela padamu?"


"Saya sedang membutuhkan uang untuk biaya ibu saya di rumah sakit, saya tergiur dengan tawaran nyonya Angela. Maafkan saya pak"


"Udah tahu butuh uang, kenapa malah mengorbankan dirimu sendiri? Aku yakin sampai sekarang pun Angela belum mentransfer uang kepadamu kan?", ucap Michael sambil tersenyum sinis. "Kamu ga akan pernah dapat uang darinya, Marie. Dia udah ditahan polisi", sambung Michael.


Marie begitu terkejut dengan perkataan Michael, air matanya langsung mengalir dengan derasnya. "Ma-masuk penjara, pak? Itu tidak mungkin, pak"


"Apa aku terlihat seperti pembohong? Aku yang menjebloskan Angela ke penjara, untuk apa aku harus berbohong padamu"


"Ta... tapi, bagaimana bisa?"


Michael tersenyum sinis. "Kamu yang salah pilih majikan, Marie. Uang benar-benar membuatmu buta"


Marie hanya tertunduk dan terus saja menangis.


"Datanglah ke kantor untuk mengemasi barang-barangmu besok, pak David akan segera menempatkan orang untuk menggantikanmu", ucap Michael sambil berdiri.


Marie menyusul berdiri dan berlutut sambil membungkuk dan memegang kaki Michael. "Tolong maafkan saya, pak. Berikan saya kesempatan sekali lagi, saya berjanji akan bekerja dengan baik dan tidak akan mengecewakan bapak. Maafkan saya, pak. Saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini"


Michael menarik kakinya dengan kasar. "Pergilah, sebelum aku hilang kesabaran. Aku ga mau orang yang telah membahayakan nyawa istriku ada disekitarku", Michael menoleh ke arah pak David. "Tolong urus semuanya, pak", sambungnya.


Michael pergi meninggalkan pak David dan Marie di ruang tamu. Sarah masih terdiam di ruang makan, matanya berkaca-kaca. Sesungguhnya ia merasa iba dengan Marie, namun ia tahu bahwa suaminya sudah mengambil keputusan yang tidak akan bisa diubah lagi.


Michael melihat Sarah yang masih terduduk di meja makan, dia menghampiri Sarah dan menuntunnya masuk ke dalam kamar. Sarah berjalan menuju kasur dan menyandarkan tubuhnya pada headboard, Michael menghampiri dan duduk di sebelahnya.


"Apa... tidak ada jalan lain selain memecatnya?", tanya Sarah ragu.


"Hanya saja... dia sedang membutuhkan uang, sayang"


"Aku ga peduli, dia bisa cari pekerjaan di tempat lain. Jangan memancing emosiku, Sarah. Aku melakukan ini karena dia dengan sengaja membahayakanmu, aku ga bisa memaafkan itu", kata Michael dengan meninggikan nada bicaranya.


"Aku mengerti", ucap Sarah sembari memeluk Michael. "Istirahatlah, kamu pasti lelah. Aku akan pergi mandi", sambung Sarah.


***


keesokan harinya, Sarah pergi ke toko diantar Michael. Sarah terkejut melihat Lois mampir ke toko untuk menyapanya. Dia segera berlari menghampiri Lois dan memeluknya.


"Hei... Alice dan Michael bisa cemburu kalo kamu kayak gini", canda Lois.


"Aku kan kangen, kak", jawab Sarah sembari melepaskan pelukannya.


"Lehermu kenapa? Apa Michael menggigitmu saat kalian bercumbu?", goda Alice.


Sarah segera menarik tangan Alice dan Lois untuk duduk di meja pojok. Sarah menceritakan kejadian kemarin pada keduanya.


"Benar-benar gila Angela, untung saja Michael udah kirim orang untuk jagain kamu", kata Alice.


"Michael pasti akan melindungimu, aku tahu dia punya banyak orang yang handal. Aku cukup kagum dengan kerja pak David dan yang lainnya saat mencari info soal Denis. Kerja mereka benar-benar cepet", ucap Lois sambil mengacungkan jempolnya.


"Aku ga menyangka kalo akan terjadi hal-hal seperti ini setelah menikah dengannya", gumam Sarah.


"Hei... jangan mikir seperti itu! Semua pasangan pasti diuji, Sarah. Kebetulan aja kamu dapet pengalaman seperti ini karena disekitar kalian banyak orang gila", celetuk Alice.


"Jadi maksud kakak aku gila?", ketus Denis yang baru saja masuk ke toko dan telah berdiri di depan meja kasir.


"Hahahaha... kemarilah!", panggil Lois.


"Iya, dulu kamu memang gila. Sekarang udah balik normal lagi", kilah Alice.


"Aku akan tuntut, kakak. Pokoknya harus traktir aku makan sebelum aku balik ke Belanda", jawab Denis.


"Oke... nanti kita makan sama-sama ya, ajak juga sekertaris barumu itu", goda Alice.


"Udah kak, wajahnya mulai merona tuh hahahaha...", imbuh Sarah.


"Aku senang kamu ga gangguin adikku lagi, jadi aku ga perlu repot-repot untuk membuang otakmu", canda Lois.


Denis tersenyum sinis. "Bisa-bisanya seorang dokter berkata seperti itu", gumam Denis.


"Hei... aku juga manusia! Harusnya kamu beruntung aku tidak melakukan itu padamu kemarin", ucap Lois sambil memukul lengan Denis.


"Kenapa kau tidak lakukan itu aja sama Angela?", ucap Denis.


"Angela udah masuk penjara, bodoh! Apa kau juga menginginkan suamiku masuk penjara, hah?", bentak Alice sambil melotot.


"Hahahaha... aku tahu kenapa kau bisa segera melupakanku, Den. Itu karena kau takut dengan orang-orang di sekitarku yang terlihat seperti psikopat ini kan? Mereka memang kombinasi yang luar biasa, Den", kata Sarah sembari menahan tawa.


***


*Di kantor Michael*


"Polisi menanyakan apa kita juga akan menambahkan kejadian kemarin ke dalam tuntutan nyonya Angela, pak", kata pak David.


"Jika itu bisa untuk memperberat hukumannya masukkan saja, kita punya bukti-buktinya. Sarah pasti juga mau datang untuk bersaksi"


"Baik, pak. Akan saya lakukan. Eeee... Marie meminta waktu untuk bertemu dengan bapak.


Michael menggelengkan kepalanya. "Ga perlu, aku ga mau lagi berurusan dengan dia", Michael mengeluarkan selembar cek dari laci dan menyodorkan pada pak David. "Berikan ini padanya dan katakan untuk tidak pernah mendekati keluargaku lagi"


"Baik pak, akan saya berikan. Saya permisi dulu"


"Pak David... pastikan jangan sampai ada intervensi dari pihak luar soal kasus Angela. Aku ga mau dia kembali berkeliaran bebas dan kembali mengusik Sarah", kata Michael dengan mengepalkan kedua telapak tangannya.