Cupcake's Love

Cupcake's Love
#55



Sore hari, Sarah mengajak Lucy pulang lebih awal untuk berbelanja bahan kebutuhan dan buah sebelum kembali ke apartemennya. Sarah memasak untuk makan malam, sedangkan Lucy asik berjoged menirukan gerakan video yang ia tonton ditv. Sarah memperhatikan Lucy dari dapur sambil tersenyum.


"Lucy, ayo makan dulu", panggil Sarah.


"Yeaayyy... buffalo chicken wings!", seru Sarah.


"Makan pelan-pelan ya, abis itu kita mandi terus tidur"


"OK, mama"


Setelah selesai makan dan mandi, Sarah dan Lucy sudah berbaring ditempat tidur. Sarah melingkarkan tangannya pada perut Lucy sambil memandangi wajah Lucy.


"Tidurlah, kamu pasti capek kan?", tanya Sarah.


"Iya, aku ikut mama kerja"


"Besok kita di rumah aja ya? Mama cuma pengen main-main sama kamu"


"Mama kangen sama aku?"


"Tentulah... mama kangeeeeeen banget sama kamu"


"Kalo gitu besok mama ikut pulang aja ya, papa pasti juga kangen sama mama"


Sarah hanya menjawab perkataan Lucy dengan senyuman. Sarah dan Lucy tertidur lelap setelah saling bercerita, keduanya tidur dengan saling berpelukan.


***


Hari Minggu itu, Sarah dan Lucy menghabiskan waktu berdua di apartemen. Sarah mengajak Lucy berolahraga di taman, membuat roti panggang untuk sarapan, mandi bersama, menonton film kartun kesukaan Lucy dan membantu Lucy mengerjakan tugasnya.


"Mama sudah rapikan barang kamu ditas ini, sebentar lagi pak Kim akan datang untuk menjemputmu", ucap Sarah sambil menarik resleting tas Lucy.


"Tapi aku masih kangen sama mama", rengek Lucy sambil memeluk Sarah.


Sarah mengelus punggung Lucy dan mencium keningnya. "Kamu bisa nginap di rumah mama kapan pun kamu mau, OK?"


Lucy menggelengkan kepalanya. "Aku mau mama pulang"


Sarah terdiam, dia tidak tahu harus menjelaskan keadaan sebenarnya pada Lucy. Bel pintu kamar Sarah pun berbunyi, Sarah bergegas membuka pintu kamarnya. Pak Kim datang untuk menjemput Lucy, Sarah membantu Lucy membawakan tasnya sampai ke tempat parkir mobil.


"Apa... mama dan papa sehat, pak?", tanya Sarah.


"Eeee... nyonya Lidya sedang tidak enak badan sejak kemarin"


"Mama sakit? Sakit apa, pak?"


"Ada masalah dengan lambungnya"


"Mama, ayo jenguk nenek. Biar nenek cepet sembuh", ucap Lucy sambil menarik tangan Sarah.


"Eeee... pak Kim, apa Anda bisa menunggu sebentar? Aku akan ganti baju dulu"


"Yeaaayyyyy...!", seru Lucy.


"Silahkan, nyonya", jawab pak Kim.


Sarah segera berganti baju dan ikut ke rumah orangtua Michael untuk menjenguk Lidya. Bibi Rose menyambut kedatangan Sarah dengan senyuman lebar.


"Nyonya... Anda kembali?", ucap bibi Rose.


"Eeee... aku... cuma mau jenguk mama", jawab Sarah.


Bibi Rose segera mengantar Sarah ke ruang tengah, dimana Lidya dan Eddy tengah menonton TV bersama. Lucy berlari memeluk kakek neneknya, Lidya dan Eddy terkejut dengan kedatangan Sarah. Ini adalah kali pertama Sarah bertemu orangtua Michael sejak dia meminta cerai.


"Lucy, kamu main di kamar dulu ya", ucap Eddy.


"OK, kakek", jawab Lucy yang kemudian berlari menuju kamarnya. Bibi Rose datang dan menyuguhkan minuman untuk Sarah.


Sarah terlihat canggung bertemu dengan orangtua Michael. Dia sebenarnya bingung harus berkata apa untuk memulai pembicaraan.


"Pak Kim bilang... mama sedang sakit, jadi... aku datang untuk menjenguk mama. Maaf aku hanya buah, ma", ucap Sarah.


Mata Lidya mulai berkaca-kaca. "Mama udah sehatan, Sarah. Terimakasih kamu sudah mau datang menjenguk mama"


"Bagaimana keadaanmu? Apa kamu sehat?", tanya Eddy.


Sarah mengangguk. "Aku baik-baik saja, pa"


"Apa tempat tinggalmu yang sekarang nyaman? Tidak ada yang mengganggumu kan?", tanya Lidya.


"Michael sudah menceritakan semua, kami... menyerahkan semua keputusan ini pada kalian. Kalian yang menjalani biduk rumah tangga itu, kalian pasti tahu yang terbaik. Kumohon, jangan melupakan perhatian untuk Lucy", kata Eddy.


"Apa itu jalan satu-satunya, Sarah? Tolonglah Sarah, kumohon bersatulah kembali dengan Michael", ucap Lidya sambil menitikkan air mata. Eddy memegang tangan Lidya untuk menahan istrinya agar tidak menekan Sarah.


"Maaf pa... ma...", ucap Sarah sambil menangis.


Tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulut Sarah, dia takut semakin melukai orangtua Michael. Tak lama setelah mengobrol dengan orangtua Michael, Sarah memutuskan untuk pulang.


"Pak Kim akan mengantarmu ya", kata Eddy sambil beranjak dari duduknya


"Ga usah, pa. Aku naik taksi aja"


"Oohh... Michael!", seru Lidya. Mata Eddy dan Sarah segera tertuju pada Michael yang baru saja tiba di rumah.


"Kamu pulang lebih cepat? Tolong antar Sarah pulang ke rumah ya", pinta Lidya.


Michael memandangi Sarah, keduanya saling menatap dan menjadi canggung.


"Enggak usah, ma. Aku... aku akan naik taksi aja. Michael harus istirahat", Sarah menolak.


"Aku akan mengantarmu pulang", ucap Michael sambil meletakkan tas bajunya di lantai dan berbalik badan berjalan keluar rumah.


"Hati-hati dijalan ya", ucap Eddy sambil tersenyum.


Dengan terpaksa, Sarah berjalan menuju mobil Michael. Mobil pun segera melaju meninggalkan halaman rumah orangtua Michael.


"Berhenti aja di depan, aku bisa naik taksi", ucap Sarah.


"Aku akan mengantarmu sampai Vue", jawab Michael yang masih tetap fokus menyetir.


"Ini belum larut malam, ga akan masalah kalo aku naik taksi"


Michael mendadak menepikan mobilnya dan menoleh ke arah Sarah. "Statusmu masih istriku, dan kamu masih tanggung jawabku", ketus Michael, kemudian kembali melajukan mobilnya.


Setelah itu tak ada lagi yang pembicaraan antara Michael dan Sarah, hanya suara mesin mobil yang terdengar. Sarah memandangi keluar jendela dan Michael tetap fokus menyetir.


"Terimakasih", Jawab Sarah seraya membuka pintu mobil. Dia segera berjalan menuju kamar apartemennya. Michael juga langsung melajukan mobilnya kembali ke rumah orangtuanya tanpa melihat ke arah Sarah.


***


Keesokan harinya, orangtua Michael dan Lucy merayakan ulang tahun Michael. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan memberi ucapan selamat kepada Michael.


"Papa mau kue ulang tahun kayak dulu? Kue buatan mama?", celetuk Lucy.


Michael kembali teringat cupcake berhias fondan karakter superhero yang dibuat khusus oleh Sarah untuk ulang tahunnya. Dua tahun yang lalu, adalah awal pertemuan keluarganya dengan Sarah.


"Aku bahkan belum pernah merayakan hari ulang tahunku dengan Sarah", gumam Michael dalam hati.


"Papa... mau kue buatan mama Sarah ga?", tanya Lucy yang membuyarkan lamunan Michael.


"Eeee... enggak, sayang. Papa lagi ga pengen makan yang kue yang manis", ucap Michael sambil mencium kening Lucy.


***


*Di apartemen Sarah*


Sarah masih terbaring dikasurnya, dia merasa tidak enak badan. Sarah bangun dan meraih ponselnya dimeja sebelah kasurnya. Lalu mencari nomer Alice dan menelponnya.


"Kakak... hari ini aku ga ke toko ya. Badanku pegel semua"


"........."


"Enggak usah, ntar juga ilang sendiri pegelnya. Aku hanya butuh tidur lebih lama hehehehe"


"........."


"Oke, kak"


Sarah kembali membaringkan badannya dan tidur kembali. Seharian itu Sarah lebih banyak berbaring, dia hanya bangun untuk makan dan keperluan ke kamar mandi.


Sementara itu, Michael terus saja memperhatikan layar ponselnya selama bekerja. Tak ada satu pun pesan yang ia terima dari Sarah. Malah Angela yang begitu awal memberikan ucapan untuknya dan mengajaknya makan malam. Tentu pesan itu hanya dibaca saja, Michael tak berniat sama sekali untuk membalasnya.


Michael melempar ponsel yang seharian ini sering dia pegang di meja kerjanya. Dia merasa kesal karena Sarah sama sekali tak memberikan ucapan untuknya.


"Secepat ini dia melupakanku?", gumamnya.


Sarah justru asik menonton film secara maraton. Dia mengabaikan ponselnya dan masih tergeletak dikasur dari pagi setelah dia menelpon Alice. Ya, Sarah lupa kalo hari itu Michael berulang tahun karena Sarah memasang pengingatnya seminggu yang lalu.