Cupcake's Love

Cupcake's Love
#27



"Tapi sekarang aku masih kesal padamu!", ucap Sarah sambil menarik tangannya dan berjalan keluar kamar dan tidur di kamar Lucy.


"Aku mencintaimu, sayang!", seru Michael sambil tersenyum. Dia membaringkan tubuhnya dengan perasaan lega.


***


Pagi harinya, Sarah dan Lucy bersiap untuk sarapan. Namun, tidak ada tanda-tanda Michael keluar dari kamar.


"Kenapa papa belum bangun? Kita jadi ke Disneyland kan, ma?", tanya Lucy.


Sarah mengangguk. "Mama lihat papa dulu ya di kamar, kamu makan duluan aja", ucap Sarah.


Sarah masuk ke kamar dan melihat Michael masih tertidur pulas dengan posisi tengkurap. Michael masih mengenakan baju kerja yg kemarin dia pakai.


"Kenapa semalam ga ganti baju?", gumam Sarah sambil berjalan mendekati Michael.


"Sayang...", ucap Sarah sembari menggoyangkan bahu Michael. Michael membuka matanya dengan perlahan dan menggeliat.


"ini sudah hampir jam 8, ayo bangun dan sarapan. Lucy udah nungguin"


"Kita jalan siangan aja ya?", kata Michael.


"Kamu sakit?"


"Enggak, cuma pegel aja. Ijinkan aku untuk persiapan mengemudi 4,5 jam lagi ke Disneyland"


"Biar aku yg nyetir mobil, kamu istirahat aja"


Michael bangun dan duduk dipinggir kasur. "Kamu yakin?", seru Michael.


"Iya, cepat siap-siap", kata Sarah.


***


Sarah menggantikan Michael menyetir mobil dalam perjalanan ke Disneyland. Sarah dan Michael memutuskan untuk pergi ke Disneyland pada hari berikutnya karena hari sudah menjelang malam.


"Kenapa ga booking hotel deket Disneyland aja sih?", keluh Sarah saat mengambil barang di bagasi mobil.


"Besok aku yang nyetir, sayang. Kita biasa kok nginep disini", ucap Michael sambil memijit bahu Sarah.


***


Keesokan harinya, mereka bersiap untuk pergi ke Disneyland. Sarah dan Lucy begitu menikmati liburan itu.


"Lucy, kita istirahat sebentar. Mama Sarah kecapekan", seru Michael pada Lucy yang menarik tangan Sarah untuk mengantri wahana carousel. Lucy tidak menghiraukannya, Michael berjalan mendekati Sarah.


"Istirahatlah, sayang. Kakimu bisa kram nanti", ucap Michael.


"Enggak apa-apa, tenang aja", jawab Sarah.


Meskipun bukan kali pertama, namun Lucy tetap senang mengunjunginya.


"Mama... ayo kita ke mad tea party. Aku mau naik itu", ucap Lucy.


"Hmm... OK, c'mon!", seru Sarah.


"Hey... kalian harus istirahat!", teriak Michael. Dia segera merogoh kantungnya untuk mengambil ponsel untuk mengambil foto Lucy dan Sarah lagi.


Setelah puas berkeliling, mereka kembali ke hotel. Sarah langsung membaringkan tubuhnya di kasur begitu masuk ke kamar.


"Lucy, cepat pergi mandi ya", kata Michael.


"OK, papa", jawab Lucy yg segera masuk ke kamar mandi.


Michael menghampiri Sarah yang sedang menikmati posisi tengkurapnya. Michael melepas sepatu dan kaos kaki yang Sarah pakai.


"Mau ngapain?", tanya Sarah kaget sambil membalikkan badannya dan menatap Michael.


"Aku cuma mau pijit kaki kamu doang, emangnya aku mau ngapain?", jawab Michael sambil menahan tawa. "Cepat sini luruskan kakimu!", imbuh Michael.


"Eeee... ga usah, kakiku gapapa kok", jawab Sarah. Dia segera masuk ke kamar mandi untuk membantu Lucy membersihkan diri.


***


Malam itu, Sarah menemani Lucy tidur. Sementara Michael menyandarkan badannya pada headboard kasur sambil memainkan ponselnya.


Ponsel Sarah berdering, Sarah segera turun dari kasur dan mengambil ponselnyabyang ada di tas.


"Ada apa?", ucap Sarah.


"Kau kemana? Kemana beberapa hari ini menghilang? Ponsel juga susah dihubungi", tanya Denis.


"Oohh... aku... eee... sedang ada liburan. Kau... udah sehat?"


"Iya, udah sehatan. Liburan? Kemana?"


"Kapan ke toko? Aku cuma pengen ketemu aja"


"Eee... nanti aku kabari. Bye...", Sarah mengakhiri panggilan dari Denis. Dia berjalan menuju kasur dan berbaring lagi disebelah Lucy.


"Kenapa Denis?", tanya Michael menoleh ke arah Sarah.


"Gapapa. Cuma... tanya aja lagi dimana"


Michael mengangguk. "Ku kira dia mau nyusul kesini", celetuk Michael sambil memainkan ponselnya.


Sarah membalikkan badan dan menyerngitkan dahinya ketika memandangi Michael. Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk merapikan tas make up-nya. Saat keluar kamar mandi, Sarah merasa otot kakinya begitu tegang dan sakit. Dia mematung di depan pintu kamar mandi sambil menahan rasa sakitnya.


Bruukkk...


Sarah menjatuhkan tas make up-nya. Michael menoleh ke arah Sarah dan melihat Sarah yang memandanginya dengan mata berkaca-kaca.


"Kakiku kram", ucap Sarah sambil menahan tangisnya.


Michael segera menghampiri Sarah dan membopongnya ke kasur.


"Udah ku bilang tadi siang jangan kebanyakan jalan, kenapa ga dengerin sih?", kata Michael sambil menarik jari-jari kaki Sarah.


Sarah membaringkan tubuhnya di kasur dan menutup kepalanya dengan bantal agar suara tangisannya tidak terdengar. Michael terus memijit kaki Sarah.


Setelah beberapa saat, kram kaki Sarah mulai membaik. Sarah mendudukkan dirinya di kasur.


"Kakiku udah mendingan", ucap Sarah sambil menarik kaki kanannya yang sedang dipijit Michael.


"Luruskan dulu kakimu", jawab Michael sambil menahan kaki Sarah.


"Terimakasih...", kata Sarah lirih.


Michael menoleh ke arah Sarah dan tersenyum. "Ayo turun dan berjinjitlah dikakiku", kata Michael.


"Berjinjit? Aku kan habis kram", seru Sarah.


"Itu cuma peregangan, ayolah...", kata Michael. Sarah turun dari kasur, Michael memegang pinggang Sarah dan membantu Sarah berjinjit diatas kakinya. Sarah meletakkan tangannya pada bahu Michael. "Sakit?", tanya Michael.


Sarah menggelengkan kepalanya. Dia merasa begitu gugup dengan posisi itu.


"Rileks aja, anggap kita sedang berdansa", ucap Michael sambil melangkahkan kakinya perlahan.


Sarah terus diam dan memalingkan wajahnya dari Michael.


"Sepertinya kita harus sering melakukan ini agar kakimu ga gampang kram", kata Michael sambil tersenyum memandangi Sarah.


"Ke... kenapa harus? Aku... bisa... melakukan peregangan dengan... cara lain", jawab Sarah gugup.


Michael tersenyum. "Kembalilah ke rumah, Sarah. Aku akan mengurus sewa apartemenmu di Eden", ucap Michael.


Sarah menatap Michael. "Apakah harus?", tanya Sarah lirih.


"Aku... ga mau lagi jauhan sama kamu. Aku ga bisa", jawab Michael.


"Eeee... aku rasa kakimu sakit, aku mau turun aja", ucap Sarah dengan menarik tangannya dari bahu Michael dan meluruskan telapak kakinya.


Michael menahan Sarah, dia mendekap pinggang Sarah dengan erat. "Aku merindukanmu", kata Michael.


Sarah menatap Michael yang mulai berkaca-kaca. "Dari kemarin aku sudah kembali ke rumah kan?", ucap Sarah dengan tersenyum tipis.


"Kamu ga akan kembali ke Eden kan?"


"Aku harus kesana, masih ada barang-barangku yang belum terbawa"


Michael merasa sangat lega dengan perkataan Sarah, senyum lebar terkembang dibibirnya. "Aku akan membantumu mengemasinya", kata Michael.


Sarah mengangguk, lalu meraba lembut luka diujung bibir kanan Michael. "Apa... papa yang melakukannya?", tanya Sarah.


Michael mengangguk. "Aku memang pantas dipukul", jelas Michael. "Luka ini... ga seberapa dengan lukamu. Maafkan aku", imbuh Michael sambil menunduk.


Sarah tersenyum. "Aku senang orangtuamu begitu menyayangiku", ucap Sarah. "Mereka juga alasan terberat bagiku jika harus meninggalkanmu", sambung Sarah sambil menatap Michael.


"Kita hanya akan terpisah oleh takdir, Sarah", kata Michael sambil membelai pipi Sarah.


Sarah tersenyum dan melingkarkan tangannya pada pinggang Michael. "Aku senang mendengarnya", ucap Sarah.


Michael mencium bibir Sarah, menyalurkan rasa rindu pada wanita yang sekarang sangat dicintainya itu.


"Lucy akan terbangun, sayang", ucap Sarah sambil memalingkan wajahnya.


"Lucy ga akan bangun karena kita berciuman", jawab Michael.


Michael mendekap erat Sarah dan kembali menciumnya. Sarah terbawa suasana dan membalas ciuman Michael. Ciuman yang sebagai tanda telah membaiknya hubungan mereka sekarang ini.