
Hari sudah petang saat Michael pulang ke rumah. Dari kejauhan, dia melihat Denis turun dari mobilnya dan berdiri di depan pintu pagar. Denis nampak ragu untuk menekan bel pintu rumah, hingga akhirnya Michael menghentikan mobilnya dan turun dari mobil.
"Aku udah mencabut laporannya, apa maumu sekarang sampai harus kesini lagi?", kata Michael dengan nada marah.
"Aku sungguh minta maaf padamu atas kejadian yang telah aku lakukan, aku..."
"Pergilah, aku ga mau lihat kamu berkeliaran di dekat Sarah lagi", ucap Michael memotong perkataan Denis.
"Michael... tolong beri aku kesempatan untuk bertemu dengan Sarah. Dua hari lagi aku akan ke Belanda, aku harus meminta maaf pada Sarah dulu sebelum aku pergi", pinta Denis.
Michael diam sejenak, lalu dia berjalan menuju mobilnya.
"Aku akan menunggu disini, tolong ijinkan aku menemui Sarah"
Michael masuk setelah pintu gerbang rumahnya terbuka. Dia masuk ke rumah dan menemui Sarah yang sedang menemani Lucy bermain di kamarnya.
"Papa...", teriak Lucy sambil berlari dan memeluk Michael.
"Kau sudah pulang, sayang", ucap Sarah sembari mendekati Michael. Lucy kembali bermain, dan Michael beralih mencium kening istrinya.
"Mau minum sesuatu?", tanya Sarah.
"Enggak, eee... sayang...", ucap Michael terlihat ragu.
"Ada apa, sayang?", tanya Sarah penasaran
Michael mencoba mengatur nafasnya. "Denis... ada diluar. Dia ingin bertemu denganmu, apa kau mau menemuinya?".
"Apa... kamu akan mengijinkanku?"
"Itu terserah kamu, jika kamu mau menemuinya aku akan membiarkannya masuk. Tapi hanya kali ini aja"
Sarah diam sejenak. "Baiklah, aku akan menemuinya"
"OK, akan kusuruh dia masuk"
Michael berjalan menuju layar bel rumah dan menekan sebuah tombol. "Masuklah" ucapnya singkat.
Tak berapa lama, Denis memasuki rumah. Wajahnya terlihat berbeda, ia merasa begitu takut untuk bertatap muka dengan Sarah. Lalu langkahnya bergerak mengikuti Sarah yang membawanya ke balkon belakang rumah, Sarah berdiri sambil melihat ke arah taman. Sementara Michael memperhatikan mereka dari jendela ruang kerjanya.
"Apa... keadaanmu baik-baik saja?", tanya Denis.
Sarah mengangguk. "Iya, sekarang udah baikan"
"Aku... sungguh minta maaf padamu, Sarah. Aku telah berbuat jahat dan kasar padamu. Aku sungguh menyesalinya"
"Udahlah, Den. Aku ga mau bahas soal itu lagi. Aku sedang berusaha keras untuk melupakannya"
"Apa... kau sangat membenciku?"
"Ya, aku sangat membencimu ketika kau mengurungku di rumah itu. Itu sebabnya aku memukulmu dan lari darimu"
Denis tersenyum. "Ya, pukulan itu sangat keras"
"Apa kepalamu mengalami cedera?"
Denis menggelengkan kepalanya. "Hanya pusing aja setelah kau memukulnya"
"Aku minta maaf, padahal aku udah berusaha untuk memukulnya tidak terlalu keras"
"Kenapa malah kau yang meminta maaf padaku? Oiya, kau harus tetap menerima ini Sarah", ucap Denis seraya menyodorkan hadiah ulang tahun Sarah yang berisi cincin berlian itu.
"Maaf Denis, aku beneran ga bisa"
"Tapi ini tulus, Sarah. Aku cuma mau ngasih kamu ini sebagai kado"
"Seriusan, Den. Aku ga mau terima kado ini. Simpanlah, mungkin bisa kau berikan pada calon istrimu nanti"
Denis terdiam mendengar perkataan Sarah.
"Aku lebih seneng kalo kamu kasih aku noka chocolate daripada cincin berlian ini", ucap Sarah.
"Baiklah, nanti akan aku kirimkan noka chocolate padamu setiap bulan sehabis aku gajian", canda Denis.
"Ga perlu tiap bulan, itu pemborosan", jawab Sarah.
"Kau kesana lagi? Papamu pasti mengasingkanmu lagi"
"Tenanglah, aku ga masalah kok"
"Carilah wanita disana, Denis. Siapa tahu jodohmu ada disana", kata Sarah.
Denis mengangguk dan tersenyun. Lalu Sarah berjalan mendekati Denis dan memeluknya.
"Jangan berkecil hati, Denis. Ayahmu hanya ingin kau semakin mahir dalam menjalankan bisnisnya", kata Sarah.
"Terimakasih, Sarah. Aku akan menebus segala kesalahanku padamu dikemudian hari"
Denis segera pulang setelah menemui Sarah. Sarah berjalan menuju ruang kerja Michael, dan nampak Michael sedang mencari buku pada rak bukunya.
"Kenapa memeluk Denis?", ketus Michael.
"Enggak ada apa-apa, kamu cemburu?", tanya Sarah.
Michael hanya diam saja sambil tetap fokus membaca sinopsis buku yang ia pegang. Sarah mendekati Michael dan memeluknya dari belakang.
"Jangan marah, sayang. Aku hanya ingin Denis pergi tanpa beban. Aku kan tetap jadi milikmu", ucap Sarah.
Michael meletakkan bukunya, memegang tangan Sarah dan membalik tubuhnya menghadap ke Sarah.
"Tapi jangan lakukan itu lagi, tetap saja itu menyakiti perasaanku sayang", jawab Michael.
Sarah tersenyum. "Baiklah, maafkan aku sayang"
Michael mengecup bibir Sarah. "Kalo mau berduaan disini, akan aku kunci pintunya biar Lucy ga masuk", goda Michael.
"Mulai deh...", ucap Sarah sambil mengeratkan tangannya pada pinggang Michael.
Michael mengangkat tubuh Sarah dan mendudukkannya pada meja kerjanya. Tangan kanannya menarik leher Sarah, dia mendekatkan wajahnya pada Sarah dan mulai mencium Sarah dengan mesra.
Sarah membalas ciuman Michael, tangannya erat memeluk pinggang suaminya itu.
***
Malam harinya, Sarah menidurkan Lucy di kamarnya.
"Apa mama akan ikut papa bekerja?", tanya Lucy.
"Iya, gapapa kan kamu sama nenek dulu?"
"Iya. Tapi mama akan kembali kan?"
"Tentu, sayang. Mama pasti akan selalu bersamamu".
Sarah pergi ke kamarnya setelah Lucy tertidur. Michael masih terjaga untuk mengecek beberapa dokumen dengan duduk bersandar di headboard kasur. Sarah membaringkan tubuhnya disebelah Michael.
"Aaahhh... aku selalu benci jika kamu membawa pekerjaanmu ke kasur. Itu mengingatkanku pada masa awal kita baru menikah", ucap Sarah.
Michael menatap Sarah. "Emang ada apa?", tanya Michael.
"Iya, saat itu kita baru saja menikah dan kau menyibukkan diri dengan pekerjaanmu. Waktu itu kamu masih dingin, cuek dan galak padaku", canda Sarah.
Michael merapikan dokumennya dan meletakkan dimeja samping tempat tidurnya. Dia segera membaringkan tubuhnya dan miring menghadap Sarah. "Apa aku masih seperti itu sekarang, sayang?"
Sarah menggelengkan kepalanya. "Enggak, kamu udah ga dingin lagi seperti dulu. Dan juga udah ga cuek, tapi masih galak hahahaha...", jawab Sarah.
"Emangnya aku galak?"
"Iya, kamu galak. Kamu udah sering ngebentak aku, bahkan aku baru balik dari rumah sakit udah kena bentak", keluh Sarah.
Michael tertawa. "Sudah kubilang waktu itu kan aku cemburu, jadinya terbawa emosi. Tapi aku memperlakukanmu dengan baik kan?", tanya Michael.
Sarah memiringkan badannya dan menatap Michael, tangannya membelai pipi Michael. "Sekarang udah beda, aku sangat bersyukur memiliki suami yang begitu perhatian sepertimu", ucap Sarah.
Michael menarik tangan Sarah dan memeluknya. "Ya Tuhaaaannn... berapa lama lagi aku harus bersabar?", gumam Michael.
Sarah mencubit perut Michael. "Kau ini, bisa tahan sampai 3 tahun tapi cuma disuruh nahan beberapa hari lagi aja ga bisa", ucap Sarah.
"Bedalah, waktu itu kan ga ada kamu. Sekarang mana bisa tahan", goda Michael sambil memeluk erat Sarah.