
*Malam harinya di rumah Michael*
"Mama... tadi Kate menciumku", ucap Lucy ketika bersiap untuk tidur.
"Oiya? Kenapa dia menciummu?"
"Dia berterimakasih karena mama kasih Kate kue yang enak"
"Kate menyukainya?"
Lucy mengangguk. "Semua teman-teman menyukai kue buatan mama, mereka semua pengen ke toko mama. Mereka bilang pengen beli kue yang banyak"
"Benarkah? Kalo begitu bagaimana kalo kita adakan pesta kue di sekolah saat kamu ulang tahun nanti?"
"Yeaaayyyyy... teman-temanku pasti akan sangat menyukainya", seru Lucy bahagia.
"Oke, sayang. Waktunya tidur ya", ucap Sarah sambil mencium kening Lucy.
Beberapa saat kemudian, Michael membuka pintu kamar Lucy dengan perlahan.
"Udah tidur?", tanya Michael.
Sarah mengangguk. Sarah segera turun dari kasur dan berjalan menuju kamar bersama Michael. Michael pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sarah menghampiri meja disebelah Michael tidur, terdapat sebuah buku yang biasa dibaca Michael.
Sarah mengambilnya, dia memposisikan diri dengan menyandarkan punggungnya pada headboard dan mulai membaca bukunya. Michael keluar dari kamar mandi dan melihat Sarah yang sedang asik membaca bukunya.
Michael membaringkan tubuhnya dipangkuan Sarah.
"Kau lelah?", tanya Sarah yang masih asik membaca buku sambil mengusap rambut Michael.
"Kerja mana ada yang ga lelah", canda Michael.
"Sayang, sejak kapan kau mulai membaca buku seperti ini?", tanya Sarah sambil menutup bukunya.
"Hmmm... sejak Leona meninggal. Sejak itu aku mulai membaca buku-buku Leona"
"Leona suka membaca ya?"
"Iya, bahkan ketika dia dirawat pun juga masih sempat baca"
"Kau membacanya saat merindukan Leona?"
Michael menatap Sarah. "Kau cemburu, sayang?", tanya Michael.
"Enggak. Aku cuma pengen tahu aja. Aku kan juga pengen tahu cerita tentang Leona"
Michael tersenyum, dia menghela nafasnya. "Ya, aku membaca bukunya karena aku merindukannya. Sangat sulit bagiku untuk merelakannya begitu saja, terlebih saat itu Lucy masih sangat kecil. Aku bahkan merasa mulai gila saat melihat Lucy menangis menanyakan keberadaan Leona", ucap Michael sambil meraih tangan Sarah dan menciumnya.
"Tapi kau bisa melewatinya dengan sangat baik, kau mampu bertahan demi Lucy", kata Sarah sambil mengelus kepala Michael. "Ya meskipun kau terlihat begitu dingin terhadap wanita", sambung Sarah.
Michael tertawa. "Aku emang kayak gitu dari dulu, sayang", jawab Michael.
"Emmm... bagaimana jika nantinya aku meninggalkanmu lebih dulu. Apa yang akan kamu lakukan saat merindukanku? Apa kau akan membuat kue?", tanya Sarah.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Gapapa, aku cuma pengen tahu aja hehehehe..."
"Hmmm... aku akan meninggalkan perusahaan dan mengambil alih toko kuemu"
"Oiya? Kenapa begitu?"
"Toko kue itu sangat berharga kan bagimu?"
Sarah mengangguk.
"Kau juga sangat berharga bagiku"
"Aaahhh... kau pasti membuat wajahku memerah", ucap Sarah sambil memegang kedua pipinya.
"Jangan tanya kayak gitu lagi, itu membuatku merasa sedih", kata Michael.
"Whoaaa... suamiku ternyata sensitif sekali"
"Sudahlah, ayo tidur. Ini sudah larut", ucap Michael sambil berpindah posisi tidur.
Sarah segera memeluk Michael dari belakang. "Maafkan aku, sayang. Berbaliklah kesini dan jangan marah lagi", kata Sarah.
Michael membalikkan posisinya dan memandangi langit-langit kamar, Sarah menyandarkan kepalanya pada dada Michael yang bidang itu.
"Aku sudah cukup gila karena kehilangan Leona. Aku ga mau lagi kehilangan orang-orang yang aku cintai", kata Michael.
"Enggak akan, aku akan selalu berada disisimu", ucap Sarah yang kemudian mengecup mesra bibir Michael.
Michael menidurkan Sarah dan menindihnya. Lalu mulai mencumbu istrinya itu dengan penuh gairah.
***
Keesokan paginya, Michael terbangun untuk mematikan alarmnya. Saat dia akan turun dari kasur, Sarah menahannya dengan memeluknya secara erat. Michael tersenyum dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Sarah yang tanpa busana itu.
"Jangan pergi dulu, aku masih pengen begini", ucap Sarah manja.
"Kenapa? Apa yang semalam masih kurang?", goda Michael.
Sarah tertawa. "Tentu masih kurang, kita harus lebih sering melakukannya", Sarah membalas menggoda Michael.
"Ya Tuhaaannn... bagaimana aku akan tenang di kantor jika istriku memancingku seperti ini?", kata Michael sambil menciumi Sarah.
Sarah tertawa geli. "Ayo mandi bersama", bisik Sarah.
"Aahhh... bagaimana aku bisa menolak ajakanmu yang seperti ini", seru Michael. Dia kemudian mengikuti Sarah yang telah berlari kecil ke kamar mandi.
Seperti biasa, Michael mengantar Sarah ke toko. Lily dan Ellen tengah disibukkan dengan pesanan kue yang mendadak tersebut.
"Kenapa mendadak sekali?", seru Sarah.
"Entahlah, dia menelpon dan meminta disediakan kue yang sudah selesai kita buat. Aku dan yang lain udah mulai bikin adonan kue lagi di dapur", jawab Alice.
"Kakak istirahat aja, biar aku yang handle. OK?", ucap Sarah.
"Aku akan istirahat di dapur aja", jawab Alice.
Setelah selesai menyiapkan pesanan kue, orang yang memesan kue pun datang.
"Maaf karena memesan begitu mendadak", kata wanita berambut blonde itu.
"Ehhh... tidak apa-apa", jawab Sarah sambil menghitung box kue yang cukup banyak itu.
"Eeee... bisa minta tolong kau bawakan ke mobil. Aku tidak bisa membawanya sendiri"
"Baiklah, nyonya. Akan saya bawakan", kata Sarah.
Sarah membantu membawa 5 box kue.
"Sebentar ya, aku masuk terlebih dulu", wanita tersebut masuk ke dalam mobil van-nya terlebih dulu dan menyusun box kue pada jok belakang. "Tolong berikan padaku", imbuh wanita itu meminta box kue yang dipegang Sarah.
Sesaat setelah Sarah memberikan box kue tersebut, seorang pria berbadan besar mendorong Sarah dari belakang. Sarah tersungkur ke dalam mobil, pria itu segera masuk ke mobil dan mengunci pintunya.
"Ayo jalan", ucap pria itu pada sopir mobilnya.
"Hey, apa yang kalian lakukan? Kalian mau bawa aku kemana?", ucap Sarah ketakutan.
"Diamlah, kau akan baik-baik saja", ucap wanita blonde itu.
"Turunkan aku disini, cepat turunkan aku sekarang!", Sarah meronta pada pria berbadan besar itu.
Plaakk...
Pria tersebut menampar Sarah dan membuatnya tersungkur kembali. Wanita blonde itu mengeluarkan sapu tangan dan menyemprotkan cairan pada permukaan sapu tangannya.
"Hiruplah, kau akan merasa rileks", bisik wanita itu sambil membungkam mulut dan hidung Sarah dengan sapu tangan itu.
Sarah menjadi tak sadarkan diri, mobil van itu terus melaju entah kemana.
***
*Di toko Sarah*
Lily membersihkan meja toko sambil melihat keluar.
"Kemana bu Sarah pergi? Apa dia menemui seseorang?", gumam Lily.
Alice memperhatikan dari kejauhan, dia segera berjalan mendekati Lily.
"Kau kenapa?", tanya Alice.
"Eeee... aku hanya penasaran bu Sarah pergi kemana. Setelah membantu membawakan box kue tadi, bu Sarah belum juga kembali", jawab Lily.
Alice diam sejenak. "Entahlah, mungkin dia ada janji dengan seseorang", ucap Alice.
Mobil van berhenti di sebuah rumah yang terlihat masih baru. Rumah tersebut berada di kawasan cukup sepi, butuh waktu 10 menit untuk sampai di kawasan pertokoan dan jalan raya.
Pria berbadan kekar itu membopong Sarah yang masih tak sadarkan diri. Mereka berjalan keluar menuju rumah itu dan menekan tombol bel rumah.