Cupcake's Love

Cupcake's Love
#25



"Tolong jalan dulu aja pak, aku akan cari alamatnya dulu", ucap Sarah pada sopir taksi.


Sarah membuka ponselnya dan mencari tempat untuk dia tinggal.


"Ga mungkin aku pulang ke rumah mama papa, pasti akan ada masalah besar. Kak Lois bisa memukul Michael karena dia menuduhku. Ga mungkin juga aku nginep di hotel, Michael pasti bisa dengan mudah melacakku", gumam Sarah dalam hati.


Dia mencari informasi mengenai penyewaan apartment, dan menemukan apartment yang sedang disewakan.


"Tolong pergi ke South Hualapai Way ya pak", kata Sarah.


Sarah segera mengurus penyewaan apartment dan menempati apartment yang dia sewa. Sarah membaringkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya.


"Kenapa dia begitu jahat sekali", gumam Sarah yang kembali meneteskan air mata.


*Di rumah Michael*


Lucy baru saja pulang diantar kakek neneknya dan menuju ke ruang makan menemui bibi Rose.


"Kenapa sepi sekali? Sarah belum pulang? Ini kan udah jam 8", kata Lidya.


"Eeee... nyonya Sarah... eeee... itu...", bibi Rose kesulitan untuk mengatakan yang sebenarnya.


Eddy melihat barang-barang yg Sarah letakkan di atas meja makan dan mengambilnya. Eddy membuka buku tabungannya.


"Dimana Michael?", tanya Eddy.


"Ada di ruang kerjanya, tuan", jawab bibi Rose.


Eddy menatap Lidya.


"Eee... Lucy, kau ganti baju sama bibi Rose ya sayang", kata Lidya.


"Oke, nenek", jawab Lucy.


Eddy dan Lidya masuk ke ruang kerja Michael. Michael yang sedang memijat dahinya kaget dengan kedatangan orangtuanya. Michael segera berdiri dan berjalan menghampiri Eddy dan Lidya.


"Kalian sudah pulang?", tanya Michael.


Eddy melempar barang-barang yang dia ambil dimeja makan tadi ke tubuh Michael.


"Dimana Sarah?", tanya Eddy.


"Sarah..."


"Kau apakan dia?", bentak Eddy.


Michelle membuang nafasnya kasar. "Aku menuduhnya berselingkuh dan dia pergi meninggalkan rumah", jelas Michael.


Eddy langsung meninju Michael dan mengenai ujung bibir kanannya. Michael mengelap darah yang keluar dari luka di bibirnya.


"Anak bodoh! Atas dasar apa kau menuduhnya seperti itu?", tanya Eddy dengan sangat marah.


"Cari Sarah sampai ketemu, minta maaflah kepadanya", imbuh Eddy. Michael hanya menunduk dan mengangguk.


"Kau berjanji pada Lucy akan pergi liburan hari Kamis ini, kenapa kau berbuat seperti ini? Sarah tidak mungkin berselingkuh", kata Lidya sambil menangis.


Eddy segera menarik Lidya untuk keluar dari ruang kerja Michael dan pulang ke rumah. Sementara Michael merasa bingung harus mencari Sarah kemana.


Michael pergi menuju rumah Sarah. Michael memarkir mobilnya agak jauh dari rumah Sarah untuk memantau situasi. Rumah Sarah terlihat sepi, seperti sedang ditinggal pergi. Tak berapa lama, muncul sebuah mobil yang dikendarai oleh Lois. Keluarga Sarah turun dari mobil, mereka seperi baru saja pulang dari suatu acara. Namun tidak terlihat ada Sarah disana.


Michael melajukan mobilnya menuju toko kue Sarah. Toko kue tersebut sudah tutup dari jam 6 sore. Michael mencoba menelpon Sarah, namun ponsel Sarah tidak aktif.


"Kamu dimana Sarah?", ucap Michael sambil membenturkan kepalanya pada setir mobil.


***


Pagi harinya, Lucy menanyakan keberadaan Sarah pada Michael.


"Emmm... mama Sarah... sedang ada kerjaan, jadi mama enggak pulang ke rumah"


"Apa mama ga bisa ngerjain di rumah?"


Michael tersenyum. "Eeee... Lucy, sepertinya kita harus undur rencana ke Disneyland-nya ya. Kita tunggu mama Sarah pulang dulu"


Sesampainya di kantor, Michael meminta pak David untuk mengecek pengunjung tamu di semua hotel yang ada di kota ini.


"Untuk apa, pak?", tanya pak David kebingungan.


"Bilang saja aku sedang mencari seseorang", kata Michael sambil menatap pak David. "Sarah pergi meninggalkan rumah, ku mohon padamu bantulah aku", jelas Michael.


"Dan tolong cek CCTV di Playa Vista hari ini dan kemarin, tolong cari tahu keberadaan Sarah", imbuh Michael.


"Eee... Baik pak, akan saya lakukan".


Siang harinya, pak David membawa beberapa berkas yang dibutuhkan Michael.


"Saya sudah coba cari informasi ke semua hotel tapi tidak ada pengunjung bernama Sarah Hilary, pak", ucap pak David.


"Nyonya Sarah terpantau CCTV di Playa Vista hari selasa kemarin pukul 12 siang dan meninggalkan tempat itu pada pukul 4 sore, pak", sambung pak David.


Michael makin panik dan diam sejenak. "Dia tidak ada di tempat Denis", gumam Michael dalam hati.


"Pak David, jika kau istriku dan aku menuduhmu yang bukan-bukan, kemana kau akan pergi selain ke rumah orangtuamu?", tanya Michael.


"Eeeee... saya ga begitu yakin, pak. Tapi mungkin saya tidak akan menginap di hotel, karena akan mudah terlacak oleh Anda. Mungkin saya akan ke rumah teman saya atau menyewa tempat tinggal untuk sementara", jawab pak David.


Michael mengangguk. "Kita cari tahu semua penyewaan apartment dan rumah ya, pak", kata Michael.


"Baik, pak", jawab pak David.


Michael dibantu pak David mencari informasi terkait penyewa apartment.


"Ketemu, pak! Nyonya Sarah menyewa sebuah apartment di Eden. Lokasinya di South Hualapai Way", seru pak David sesaat setelah menutup telponnya.


Michael merasa sangat lega. "Terimakasih banyak telah membantuku, pak", ucap Michael sambil tersenyum.


Michael bergegas menuju apartment Eden. Dia menanyakan tempat Sarah menginap pada lobi apartment. Michael berjalan menuju apartment yang ditempati Sarah, namun langkahnya ragu karena takut Sarah tidak ingin bertemu dengannya.


Kemudian, ada seorang pengantar makanan menuju arah yang sama dengan Michael. Michael segera memanggilnya.


"Aku akan berdiri disisi sini, OK?", kata Michael.


"Baik, pak"


Pengantar makanan segera menekan bel dan Sarah membukakan pintu.


"Terimakasih banyak", seru Sarah.


Saat pengantar makanan pergi, Michael menahan pintu apartment Sarah dengan tangannya. Sarah terkejut dengan kedatangan Michael.


"Bagaimana... kau... bisa ada... disini?", ucap Sarah terbata-bata.


"Boleh aku masuk?", tanya Michael.


Sarah diam, dia hanya menggeser posisi berdirinya untuk memberi jalan pada Michael. Sarah menyiapkan makanan yang ia pesan di meja.


"Kau mau makan?", tanya Sarah.


Michael mengangguk dan makan bersama Sarah. Suasana hening menyelimuti ruangan itu, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Michael dan Sarah selama makan. Selesai makan, Sarah segera merapikan mejanya.


"Jika sudah selesai pulanglah, Lucy pasti menunggumu pulang", kata Sarah.


"Pulanglah denganku", jawab Michael. "Aku benar-benar minta maaf padamu atas perkataanku kemarin, tidak seharusnya aku mengatakan hal itu", sambung Michael.


Seketika dada Sarah menjadi sesak, Sarah mencoba untuk menahan tangisnya di depan Michael. Sarah menghela nafas panjang.


"Pulanglah, aku ga mau bahas itu lagi", kata Sarah.


"Kau harus pulang, Sarah. Kita menjanjikan liburan keluarga untuk Lucy. Kumohon pulanglah demi Lucy", pinta Michael.


Sarah tak bisa lagi menahan air matanya, dia mulai menangis di depan Michael.


"Kenapa selalu menjadikan Lucy sebagai alasan?", ucap Sarah sambil terisak.