
Michael segera masuk ke dalam mobilnya dan mengejar Sarah ke apartemennya.
"Sarah!", teriak Michael sambil berlari dan memegang pergelangan tangan Sarah saat hendak naik ke lantai dua. "Kamu kenapa sih?", ucap Michael dengan nada tinggi.
"Apa lagi?", ketus Sarah sambil menarik tangannya.
"Kita masih bisa memperbaiki rumah tangga kita, Sarah. Aku akan lebih memperhatikanmu lagi, aku tidak akan lagi melakukan kesalahan-kesalahan bodoh seperti yang selama ini aku lakukan"
"Udahlah, Mic. Bukankah keputusan ini udah kita sepakati?"
"Hanya kamu yang pengen cerai, Sarah. Kamu ambil keputusan untuk kepentingan dirimu sendiri, kamu ga mikirin aku ataupun Lucy"
"Aku udah bilang aku akan tetap bantu ngerawat Lucy, kamu ga usah khawatir. Kalau kesini hanya untuk ngomong ini, pulanglah! Aku mau istirahat", ucap Sarah sambil beranjak pergi menaiki tangga.
"Bagaimana denganku? Apa kamu memikirkan perasaanku? Kamu bahkan ga mau dengar penjelasan dariku"
Langkah Sarah terhenti dengan ucapan Michael, namun Sarah kembali berjalan menuju kamarnya. Berlalu tanpa menghiraukan Michael, lagi, dan lagi.
***
Sarah melempar tasnya ke sofa dan masuk ke kamar mandi, dia berdiri didepan cermin kemudian mencuci wajahnya. Sarah memandangi wajahnya pada cermin, matanya mulai berkaca-kaca.
"Sorry, Mic", ucapnya sambil meneteskan air mata.
Sarah masih membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya. Terlebih keputusan yang ia ambil untuk berpisah dengan Michael benar-benar terasa begitu berat baginya. Pernikahannya dengan Michael terjadi memang bukan karena cinta, namun sekarang... mereka saling mencintai. Bukan hanya disatu pihak, tapi kedua belah pihak.
***
Michael pulang kembali ke rumahnya, dia memandangi sekeliling rumahnya, mengingat malam kemarin Sarah begitu repot mondar-mandir kesana-kemari untuk merawatnya. Michael berjalan dan berhenti di dapur, mengingat bayangan Sarah yang tadi pagi sibuk memasakkan makanan untuknya.
Michael berjalan menuju kamarnya, dilihatnya koper besar berada didepan lemari Sarah. Michael bergegas membuka lemari Sarah, dan ternyata sudah kosong. Mungkin tadi siang bibi Rose telah mengemas barang-barang Sarah. Michael tertunduk, hatinya begitu berat untuk berpisah dengan Sarah.
Michael tak bisa membayangkan jika rumah tangganya akan berakhir secepat ini. Bagaimana pula ia harus menjelaskannya kepada Lucy? Karena suatu hari nanti, mungkin Sarah akan kembali menikah dengan orang lain. Orang yang begitu mencintainya dan akan selalu membahagiakannya.
Kemungkinan itu tak akan dapat ia cegah hanya demi kepentingan Lucy. Jika nantinya mereka berpisah, Sarah pasti akan kembali membutuhkan seseorang untuk menemani sisa hidupnya. Sarah masih muda, dan Sarah pantas bahagia. Michael bahka tidak memikirkan dirinya sendiri. Mungkin nanti, kebahagiaan Lucy akan menjadi tujuan utama hidupnya. Biarlah dia hidup sendirian, karena ia yakin Lucy akan selalu dapat membuatnya kuat untuk melanjutkan kehidupannya.
***
Michael mulai pergi ke kantor setelah beberapa hari di rumah karena sakit. Dia mencoba menyibukkan dirinya agar terlupa masalah perceraiannya dengan Sarah. Michael yang sedang berdiskusi dengan pak David mengenai pekerjaan, dikejutkan dengan pintu ruang kerjanya yang didorong dengan sangat kuatnya.
Angela datang dengan raut wajah marah. Pak David meminta ijin untuk keluar dan meninggalkan ruangan. Michael hanya melirik Angela dan melanjutkan pekerjaannya.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini padaku, Mic?", bentak Angela.
Michael masih saja terdiam dan melanjutkan pekerjaannya. Dirinya sudah merasa cukup berurusan dengan wanita ini. Merasa diabaikan, Angela menghampiri Michael dan berdiri disamping meja Michael.
"Michael! Apa yang Sarah katakan padamu sehingga kamu begitu membenciku?", ucap Angela sambil menggebrak meja.
Michael mendongak ke arah Angela dengan tatapan sinis. "Sarah ga bilang apa-apa tentangmu. Dia bukan wanita yang senang menjelek-jelekkan orang lain sepertimu", ucap Michael sambil beranjak dari duduknya.
"Lalu kenapa kau bersikap seperti ini padaku?"
"Lalu, bagaimana aku harus bersikap pada orang yang telah merusak rumah tanggaku? Jawab!", bentak Michael.
Michael menyentakkan tangannya. "Keluar! Sebelum ku panggil satpam untuk menyeretmu keluar"
Angela tersenyum sinis. "Kamu akan menyesalinya, Mic. Kamu akan menyesal karena memperlakukanku seperti ini!", ucap Angela bernada kesal dan meninggalkan ruang kerja Michael.
Michael duduk dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk. Pak David masuk kembali ke ruangan Michael setelah Angela benar-benar menghilang seiring tertutupnya pintu lift.
"Pak David, kalo ada Angela datang lagi ke kantor segera minta security untuk mengusirnya", kata Michael kesal.
"Baik, pak. Eeee... maaf pak, apa... Anda benar-benar tidak membutuhkan video rekaman cctv di The Edgewater lagi?", tanya pak David.
Michael menggelengkan kepalanya. "Sarah tetap ngotot untuk berpisah, itu... ga akan membantu. Maaf telah merepotkanmu"
***
*Di toko Sarah*
Sarah beristirahat setelah dari pagi membuat karakter hiasan kue dengan fondan, dia duduk di kursi dekat jendela. Sarah membuka galeri ponselnya, melihat foto-foto kebersamaannya dengan Michael dan Lucy.
"Kamu kenapa?", tanya Alice sambil menyodorkan botol air mineral.
Sarah hanya menggelengkan kepalanya.
"Soal Michael?"
Sarah diam sejenak. "Kakak, apa keputusanku ini benar?", tanya Sarah ragu.
"Eeee... menurutku ya... itu bener. Kamu menceraikan Michael bukan tanpa alasan. Kenapa?"
"Bagaimana kalo ternyata Michael tidak melakukannya?"
"Sarah... jika benar Michael ga ngelakuin itu, harusnya dia udah mati-matian jelasin ke kamu. Ini kamu minta cerai aja langsung diiyain, berarti dia nyerah untuk mempertahankanmu, Sarah. Aku... ga bermaksud untuk mencampuri urusan kalian. Tapi, ini melibatkan orang ketiga, Sarah. Harusnya Michael bisa lebih mempertanggung jawabkan perbuatannya itu padamu"
"Dia... ga pernah mengiyakannya, kak"
"Terus?"
"Ya... aku... yang maksa Michael untuk bercerai"
"Itu memang keputusan yang sulit, Sarah. Saat kamu menikah, kepentinganmu bukanlah satu-satunya. Kamu harus memikirkan Michael dan Lucy juga, belum lagi kelurga kita dan keluarga Michael. Jika nanti kamu dan Michael berpisah, Lucy mungkin akan lebih terluka. Kamu ga hanya terikat sama Michael doang, Sarah. Lucy mungkin akan merasa sedih karena akan kehilangan sosok ibu lagi"
Sarah menyeka air mata yang mulai bercucuran. Lucy memang bukan anak kandungnya, tapi karena dialah alasan terkuatnya untuk mau menerima ajakan menikah dari Michael. Sarah begitu mencintai Lucy. Sangat!
"Kamunya sendiri gimana? Masih cinta ga sama Michael? Kalo kamu masih cinta, masih bisa memaafkan kelakuan Michael, yaudah batalin aja"
Sarah hanya melamun memandang ke arah luar jendela.
"Sarah!", seru Alice sambil menepuk lengan Sarah. "Masih cinta ga?", Alice mengulang perkataannya.
"Dia... laki-laki yang membebaskanku dari belenggu Denis. Dia juga... mampu membuatku jatuh hati", ucap Sarah sambil menundukkan kepala dan kembali menyeka air matanya.
"Jangan diteruskan, Sarah. Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri"