
Sarah beranjak dari duduknya untuk menghampiri Michael, tangannya segera menarik tangan Michael yang telah berbalik badan untuk keluar toko.
"Sayang... jangan marah dulu", ucap Sarah sambil mengelus lengan Michael.
Michael diam, matanya menatap Sarah dengan tajam.
"Aku enggak bermaksud menemui Denis dibelakangmu, duduklah dulu dan dengarkan penjelasan Denis ya"
Michael memalingkan wajahnya dan menghela nafas. "OK", jawabnya singkat.
Michael dan Sarah duduk berhadapan dengan Denis dan Alice. Pandangan Michael nampak begitu kesal saat menatap Denis, berbeda dengan Denis yang terlihat begitu santai.
Denis menyodorkan ponselnya pada Michael, Michael melihat sekilas ponsel Denis yang menampilkan gambar depan toko Sarah.
"Apa ini?", ketus Michael.
"Tekan play aja, kamu akan tahu apa yang udah dilakukan mantan pacarmu itu ke Sarah", jawab Denis yang kemudian meminum cokelat panas.
Michael memutar video dari ponsel Denis, nampak Sarah kesakitan saat rambutnya dijambak oleh Angela. Michael segera memandangi Sarah yang duduk disebelahnya.
"Aku gapapa, sayang", ucap Sarah sambil tersenyum dan menggenggam tangan Michael.
"Denis datang tepat pada waktunya, Mic. Kalo enggak mungkin Angela bisa menyiksa Sarah", kata Alice.
"Hei... aku ga bermaksud apa-apa, tadi aku mengancammu begitu biar kamu cepet sampai disini. Percayalah, niatku baik. Aku udah janji sama Sarah ga akan gangguin kalian lagi", jelas Denis yang gelagapan karena ditatap oleh Michael.
"Terimakasih", ucap Michael sambil menyerahkan ponsel Denis.
"Aku akan kirim video ini ke ponselmu, terserahlah kau mau apakan. Aku tadi udah ancam dia juga dengan video ini"
"Kenapa?", tanya Michael.
"Ayolah, Mic. Dia nyerang Sarah, sampai kapan mau kamu biarin? Aku tahu Sarah itu istrimu, aku ga akan ganggu hubungan kalian lagi. Tapi aku ga terima kalo Sarah dapat perlakuan kayak gitu lagi"
"Benar, Mic. kita harus melawan Angela, kalo enggak dia akan semakin gencar untuk ngelukain Sarah", inbuh Alice.
Michael kembali memandangi wajah istrinya. "Apa rencanamu?", tanya Michael kepada Denis.
"Kita tadi udah ngomong panjang lebar disini, aku udah cari info soal Angela. Dia sedang dalam persaingan untuk jadi CEO di hotel Treasure Island, kita bisa sebarin video itu kepada petinggi disana. Aku sedang cari informasi lain soal Angela. Alice bilang dia juga punya bukti CCTV saat dia datang kesini dan menampar Sarah, aku..."
"Dia menamparmu, sayang?", tanya Michael kepada Sarah, memotong perkataan Denis.
"Itu... itu udah lama, sayang. Ga perlu dibahas", jelas Sarah gugup.
"Kenapa ga cerita?", tanya Michael.
"Ya Tuhaaannnn... Michael! Kamu ga tahu istrimu ditampar oleh wanita jahat itu?", ketus Denis yang kemudian menepuk jidatnya.
Alice mencubit lengan Denis agar tidak terlalu memancing amarah Michael.
"Maaf sayang, aku... aku bukannya ga mau cerita. Aku pikir... itu ga perlu aku ceritain sama kamu. Karena waktu itu kan... hubungan kita juga... lagi ga baik", jelas Sarah.
"Kapan?", tanya Michael sambil menahan emosinya.
"Itu... waktu kau... sakit", Sarah ketakutan dengan tatapan Michael yang sedang marah. "Dia datang kesini dan marah, dia bilang... aku tega ninggalin kamu yang sekarat di rumah. Jadi... dia menamparku. Padahal aku beneran ga tahu kalo kamu sedang sakit", sambung Sarah.
Michael diam sejenak. "Jadi... karena itu kau datang ke rumah dan merawatku?".
Sarah mengangguk. Michael merasa begitu bersalah karena selalu melibatkan Sarah dalam masalah. Tiba-tiba ponsel Denis berdering, Denis membuka surel yang baru saja ia terima.
"Jackpot!", seru Denis yang memancing semua mata dimeja itu tertuju padanya. "Aku dapat info kalo Angela terlibat penggelapan uang dan semacamnya. Kita bisa gunakan ini untuk menjatuhkannya", kata Denis sambil menunjukkan surelnya.
"Ini laporan indikasi penggelapan harta yang dilakukan Angela saat menikahi suaminya kemarin, kita bisa paksa mantan suaminya untuk angkat bicara", Denis menggeser layar pada ponselnya yang memperlihat beberapa foto.
"Whoaaaa... orangmu kerjanya cepet banget, Den!", puji Alice.
"Aku yang menyuruhnya cepet biar ga keduluan Michael", celetuk Denis.
"Heh... apa maksudmu?", ucap Alice sambil memukul bahu Denis.
"Sakit, kak. Maksudku biar kita bisa cepet nanganin Angela, kalo Michael kesini dan aku udah punya bukti, Michael tinggal selesaiin kan"
"Aahhh... ternyata obsesimu terhadap Sarah ada pengaruh positifnya juga hahahaha", seru Alice.
"Kirimkan file itu padaku, aku akan segera mengurusnya", ucap Michael.
"Suruh orangmu cari informasi lainnya, aku yakin Angela punya banyak kasus", kata Denis sambil memainkan ponselnya untuk mengirim file kepada Michael.
"Jangan bertindak berlebihan, sayang. Cukup buat dia ga gangguin kita aja", ucap Sarah sambil melingkarkan tangannya pada lengan Michael dan menyandarkan kepalanya.
Michael mengangguk dan mengusap pucuk kepala Sarah, matanya tetap fokus pada ponselnya.
"Kau emang terlalu baik, Sarah. Aku yang menyiksamu berulang kali aja, masih kamu maafin", kata Denis sambil tersenyum malu.
"Hahahaha... kenapa baru sadar?", jawab Alice sambil menepuk kepala Denis.
"Aku harus kembali lagi ke kantor, setengah jam lagi aku ada meeting", ucap Michael sambil memasukkan ponselnya pada saku jasnya.
"Aku akan mengirimkan orang untuk mengawasimu, kabari aku terus ya", sambung Michael sembari mencium kening Sarah.
"Heeehhh... kenapa bermesraan didepanku?", keluh Denis sambil memalingkan wajahnya.
"Hahahaha... makanya, cepat cari pacar. Emang di Belanda enggak ada yang menarik perhatianmu?", goda Alice.
"Ada", jawab Denis malu-malu.
"Terimakasih banyak atas bantuannya, tolong kabari aku jika kau menemukan informasi terbaru soal Angela", kata Michael sambil mengajak Denis berjabat tangan.
Denis mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Michael. "Oke, akan aku kabari", jawab Denis.
"Alice, titip jagain Sarah ya. Terimakasih banyak atas bantuanmu", sambung Michael dengan menepuk bahu Alice.
Alice tersenyum dan mengangguk.
"Hati-hati, sayang. Aku mencintaimu!", seru Sarah dengan senyum lebarnya. Michael menoleh dan membalas senyuman Sarah sambil melambaikan tangannya.
"Apa kalian selalu semesra itu?", celetuk Denis.
"Hahahaha... kenapa penasaran? Apa kau masih cemburu?", tanya Sarah.
"Enggak, aku... cuma... tanya aja. Aku kan... kurang pengalaman untuk... hal semacam itu", Denis menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Whoooaaaaa...", seru Sarah dan Alice menggoda Denis.
"Siapa? Cepetan kasih tahu!", paksa Sarah.
"Belum pasti, Sarah. Nanti aja kalo udah pasti, nanti baru aku kenalin", jawab Denis dengan senyum bahagianya.
"Kalo bisa secepat ini move on dari Sarah, kenapa ga kamu lakuin dari dulu?", ucap Alice.
"Beda, kak. Dulu aku cuma fokus sama Sarah, sekarang ada Michael yang siap ngebunuhku kalo macam-macam lagi sama dia. Aku harus tetap hidup untuk melanjutkan bisnis keluarga"
"Hahahaha... siapa dia? Orang Belanda?", tanya Sarah.
Denis menggelengkan kepalanya. "Dia tinggal disini, aku kembali kesini untuk menjemputnya. Dia sekretaris baruku", jawab Denis malu-malu.