
Sampai di kost gadis itu masuk ke dalam rumah. Dia merasa sangat lelah untuk hari ini. Ternyata pekerjaan yang dia terima sekarang jauh lebih berat daripada dia ajukan posisinya.
Sekarang yang harus dia pikirkan adalah mendapat uang untuk membayar kostnya yang sudah menunggang beberapa bulan ini.
"Aku harus cari dimana uang itu? Sekarang sudah hitungan satu hari, besok dan lusa. Huff! Dua hari lagi cari dimana? Ma, Pa, apa yang harus Jelita lakukan? Jelita bingung nih!" ucapnya mengeluh dan melirik figura foto yang kusam tidak berwarna itu.
Foto kedua orang tua ketika dia masih berumur lima tahun dipangkuan ibunya. Sekarang dia tinggal sebatang kara menghidupi sendiri. Jauh dari saudara-saudara.
Daripada dia memikirkan soal cara membayar utang itu. Dia memilih masuk kamar mandi untuk menyegarkan badannya yang sangat lengket itu. Tak berapa lama ponsel milik Jelita bergetar di atas kasur kusam itu.
Tetapi Jelita sedang mandi, layar kedap-kedip itu kembali menyala. Nomor tidak diketahui itu terpampang di sana. Sehingga lima panggilan tidak dijawab oleh Jelita tersebut.
****
"Ini cewek kemana sih!" Cibir Ardian terus menelepon tak kunjung di angkat.
"Tut ... Tut ... Tut ..." Nada panggilan tersambung tapi tidak ada jawaban sama sekali dari seberang.
Sepuluh kali telepon tidak juga diangkat sehingga dia melemparkan HP androidnya di samping sofa dia duduki.
Lalu dia melirik bungkusan plastik berisi cangkir yang dia beli tadi di restoran itu. Dia membuka kotak itu dan ternyata unik dan lucu. Senyuman terbit oleh pria itu apa yang buat dia kerasukan sehingga dia senyum-senyum seperti itu.
Lagu westlife - My Love dari HP milik Ardian bernyanyi, dia kembali meletakkan bingkisan kotak berisi cangkir itu semula. Kemudian dia meraih HP nya dan terpampang jelas nomor yang dia telepon tadi.
"Kau dimana saja? Aku telepon-telepon tidak kau angkat!" Ardian langsung ngegas tanpa nada lembut kepada cewek itu.
"Lain kali HP mu dibawa ke kamar mandi! Kalau ada sesuatu penting tidak harus menunggu kau menelepon, mengerti!" Ardian memang pria sinting.
"Hah? Mana bisa? Kalau jatuh ke bak mandi bagaimana? Sama saja boong HP aku tidak seindah punya bapak! Memang ada apa sih, Pak? Telepon-telepon?"
"Kau sudah selesai mandi bukan? Aku mau minta dirimu datang ke apartemen ku, bisa?" perintah Ardian pada cewek berkulit putih susu itu.
Sementara di tempat kost cewek itu tinggal dia menoreh jam dinding tertempel disana telah pukul 8 malam, sedangkan dia sendiri tidak tau alamat tinggal atasannya itu.
"Sekarang? Kenapa tidak besok saja? Ini sudah malam, Pak! Apa kata tetangga apartemen bapak kalau ada cewek malam-malam datang ke apartemen cowok? Ogah! Bapak kira aku ini apaan!" Jelita menolak permintaan aneh itu.
Dia masih teringat kejadian dua hari yang lalu, kalau dia ketemu sama hidung belang itu lagi harga seorang perawan hilang dan sirna.
"Ini perintahku, aku mengaji mu! Jadi datang atau aku yang mendatangi kost mu!" Ancam pria itu di seberang.
"Tapi ... Aku bagaimana bisa ke sana, tempat tinggal bapak saja aku tidak tau," jawab Jelita sambil melipat baju yang kemarin dia jemur itu.
"Aku kirim SMS untuk mu!"
Panggilan telepon terputus, beberapa menit kemudian suara ringtone pesan sms masuk dari HP jadul milik Jelita. Dia pun mendengus, tempat tinggal Ardian lumayan jauh. Dia terpaksa harus mengeluarkan receh di kantongnya untuk naik gojek.
Sedangkan di apartemen pria itu merebahkan tubuhnya di badan sofa sambil menerbitkan senyuman yang tipis banget. Seulas kebahagiaan untuk Ardian terpancar pesona setelah dia tunggu - tunggu.