Crazy Boss

Crazy Boss
Ungkapan Rasa Cinta



Amira menatap Rendra dengan tatapan serius bahkan wajah lelaki itu tidak menunjukkan kalau ia tidak bercanda sama sekali.


"Rendra, apakah kamu serius?" tanya Amira penasaran.


Rendra melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Amira, wajahnya yang tadi penuh dengan senyum dan tawa bahagia langsung berubah menadi gundah, ia terlihat tidak sanggup kehilangan Amira, bahkan ia merasa kalau Amira mempermainkan cintanya.


"Ra, apakah cuma aku yang mencintaimu?"


Untuk pertama kalinya Rendra merasakan sakitnya jika seseorang yang dicintai ternyata tidak memiliki perasaan yang sama dengannya, sama persis dengan apa yang mungkin Tania rasakan. Mungkin perasaan Tania lebih parah dari pada apa yang ia rasakan sekarang, karena selama ini ia selalu bersikap munafik, seolah-olah mencintai Tania padahal kenyataannya tidak sama sekali, karena hubungan mereka hanya nafsu belaka. Ya, berbeda dengan Amira,, selama ini Amira tidak pernah menunjukkan cinta dan kasih sayangnya kepada Rendra melebihi seorang sahabat yang teramat sangat dekat.


"Ra, apakah kamu benar-benar tidak mencintaiku?"


Mata Rendra mulai berkaca-kaca, ia terlihat ingin menangis. Ya, lelaki yang selama ini selalu mebuat orang menagis itu ternyata tidak bisa menahan gejolak di dadanya, air mata itu tidak lagi bisa dibendungkan, Rendra akhirnya menangis dan mengeluarkan air mata.


'Aku mencintaimu terlambat sangat mencintaimu, hanya saja aku masih menyimpan banyak rahasia yang belum aku ungkapkan kepadamu,' ucap Amira di dalam hatinya.


"Ra, jawab aku sekarang!" ucap Rendra dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi lelaki tampan itu.


Amira sungguh tidak tega melihat air mata yang jatuh membasahi pipi Rendra, rasanya air mata itu melukai hati dan perasaannya juga.


"Sayang, maafkan aku! Aku hanya bercanda."


Amira menggenggam tangan Rendra, menatap wajah tampan lelaki yang sangat disayanginya itu, bahkan ia memanggil Rebdra dengan panggilan sayang, namun sepertinya Rendra sudah terbawa perasaan sehingga sama sekali tidak menanta Amira. Rendra memalingkan wajahnya dari Amira seolah tidak ingin menatap wajah cantik Amira sama sekali.


"Sayang, apakah kamu tidak ingin menatapku?"


Amira berbicara lemah, seolah tengah menahan air matanya. Niat hati ingin bercanda dengan Rendra tapi Amira malah terbawa perasaan.


"Sayang, aku sangat mencintaimu, teramat sangat. Rasa sayangku kepadamu berbeda dengan rasa sayang dan cintaku kepada Papa. Papa adalah orang tuaku sedangkan kamu adalah calon imamku, dan aku baru menyadari rasa ini setelah kamu berhubungan dengan Tania."


Amira akhirnya jujur, ia berbicara mengungkapkan isi hatinya dengan air mata yang terus jatuh membasi pipi. Amira berteriak sangat kencang agar Rendra memahaminnya. Ya, dalam sepersekian detik, Rendra langsung memeluk Amira dan terjadilah romatisme sepasang kekasih di sana.


"Sayang, maaf," ungkap Rendra.


Rendra menghapus air mata yang mengalir membasai pipi Amira, mencium kening gadis cantik yang sangat dicintainya itu. Ya, seorang lelaki tidak akan pernah tega melihat air mata mengalir di pipi wanita yang sangat dicintainya.


"Habis kamu malah membuatku ma-lu!" rengek Amira.


Amira malu karena ia mengungkapkan isi hatinya kepada Rendra, karena seorang wanita kodratnya adalah untuk mendengarkan pembuktian cinta bukan mengatakan cinta.


"Kenapa harus malu? Aku bahkan tidak tahu malu," ucap Rendra yang tidak bisa menghentikan pelukannya dari Amira, seolah takut gadis cantik itu akan kabur dan lari darinya.


"Jadi sekarang kita jadian 'kan? Kamu mau 'kan menjadi istriku?" tanya Rendra memastikan agar Amira tidak berubah pikiran lagi.


Amira mengangguk dengan senyum tipis dan wajah memerah karena berbunga-bunga.


"Rendra, kamu tidak boleh membuat anak Mama menangis, kalau kamu melakukan itu maka kamu akan berlawanan dengan Mama, pasti Mama berbicara seperti itu," ungkap Amira yang terlihat tegas dan serius.


Seorang ibu tidak akan pernah tega jika sang anak perempuannya disakiti oleh orang lain, karena sang anak adalah mutiara dan harta berharga bagi orang tuanya.


"Mama pasti percaya kok, Sayang, kita berangkat yuk! Aku sudah sangat lapar."


Amira menggandeng tangan Rendra, berjalan dengan hati dan perasaan yang teramat sangat bahagia.


"Sayang, aku ingin beli baju pasangan untuk kita, boleh kan?"


Tiba-tiba Amira ingin sekali membeli baju keluarga untuk dipakai oleh ia dan Rendra, karena sewaktu mama Amira masih hidup Amira sering sekali meminta kedua orang tuanya untuk memakai baju keluarga seperti itu.


"Apakah kita harus memakai pakaian seperti itu?" ucap Rendra seolah menolak.


"Ayo dong, Sayang, aku ingin sekali memakai baju keluarga setelah itu kita berfoto di studio," ucap Amira merengek manja.


Ya, ketika Amira sudah merengek manja maka tidak ada yang bisa menolaknya termasuk Rendra.


"Ayolah, Sayang!"


Kini Amira kembali menggandeng tangan Rendra untuk memasuki mobil, ia ingin membawa sang kekasih ke toko untuk membeli pakaian sebelum mereka makan. Ya, tentu saja Rendra hanya bisa menurut saja.


"Ayo masuk, Sayang!"


Rendra membukakan pintu mobil agar sang kekasih masuk dengan nyaman duduk di sampingnya.


Ya, Rendra memang sangat mencintai Amira dengan segenap hatinya.


"Sayang, kita berangkat ya!


Rendra melajukan mobilnya dengan kecepatan standar menuju sebuah toko seperti keinginan Amira.


Walaupun sang kekasih awalnya mengatakan lapar, tapi demi memenuhi keinginan memakai baju pasangan maka rasa lapar pun akan hilang.


"Sayang, apalagi yang kamu inginkan?"


"Aku ingin kita semua hidup bahagia selamanya, saling mencintai dan menyayangi dengan segenap hati, tidak membenci dan selalu menyelesaikan semua masalah yang terjadi dengan kepala dingin."


Amira pernah mengalami rasa sakit yang teramat sangat yang membuat ia merasa sangat trauma sekali. Namun, seiring berjalannya waktu, Amira mulai sembuh dan Rendra adalah malaikat yang menyembuhkan semua luka yang ada di dalam hatinya.


"Sayang, aku berjanji tidak akan lagi mengecewakan kamu lagi."


"Sayang, terima kasih banyak karena kamu telah kembali menjadi Rendra yang dulu. Rendra yang mencintai dan menyayangiku dengan tulus bahkan rela berkorban melakukan apa saja demi kebahagiaanku."


Amira menitikkan air mata, ia merasa sangat senang sekali karena Rendra yang ia kenal telah kembali seperti keyakinannya, jika Rendra adalah lelaki yang sangat baik, dan ketika ia melakukan kesalahaan itu hanya khilaf dan suatu hari nanti ia akan kembali baik.


"Sayang, harusnya aku yang berterima kasih karena memiliki sahabat sekaligus kekasih dengan hati sebaik malaikat seperti kamu," ungkap Rendra dengan mata yang juga berkaca-kaca.


"Sayang, apa aku boleh meminta sesuatu lagi?"


"Apa, Sayang, jika aku sanggup maka akan aku kabulkan."