Crazy Boss

Crazy Boss
Rasa Tidak Enak



Ibu tahu kalau Amira sangat menyukai dan menyayangi Rendra, rasa yang tumbuh tanpa keduanya sadari, rasa yang teramat sangat tulus tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan apa-apa kecuali kebahagiaan orang yang disayang.


"Ibu, Amira hanya mengkhawatirkan Rendra sekarang," ucap Amira dengan senyum yang terlihat ia paksakan.


Begitulah hebatnya Amira, dalam kekhawatirannya ia tetap bisa bersikap sangat tenang, karena Amira adalah gadis yang sangat pandai sekali mengendalikan emosinya.


"Ibu juga merasakan hal yang sama Nak. Entah mengapa sedari kemarin Ibu terus memikirkan Rendra, padahal biasanya Ibu tidak pernah mengkhawatirkan ia ketika ia sedang bekerja, namun kali ini perasaan Ibu terasa sangat tidak enak sekali."


Ibu juga mengungkapkan apa yang ia rasakan, karena bagaimanapun juga beliau adalah seorang Ibu yang memiliki perasaan yang sangat tajam untuk anak-anaknya. Rasa yang tidak akan bisa dirasakan oleh orang lain kecuali oleh seorang ibu kepada anaknya.


"Ibu, kita berdoa untuk kebaikan Rendra ya, Bu, semoga ia baik-baik saja," ucap Amira.


Amira masih belum tega mengatakan kepada ibu kalau saat ini Rendra dalam keadaan kritis, ia juga tidak sanggup untuk melajukan mobilnya dengan sangat kencang karena ia memilih untuk lebih berhati-hati agar selamat sampai di Jakarta.


Selang 3 jam perjalanan, akhirnya Amira dan ibu sampai di Jakarta.


"Nak, kita mau kemana? Ini bukan jalan pulang!"


Ada rasa heran di hati ibu karena Amira mengambil jalan yang berlawanan dengan jalan pulang.


"Ibu kita pergi kesuatu tempat sebentar saja ya!" pinta Amira dengan raut wajah memohon dan berharap ibu akan menuruti keinginannya.


"Tapi, Ibu sangat mengkhawatirkan Rendra sekarang, kita harus segera pulang, Nak."


"Ibu, please, temenin Amira," pinta Amira dengan tatapan penuh dengan pengharapan.


Ibu tentu saja tidak tega menolak keinginan Amira, karena Amira adalah gadis yang teramat sangat baik kepada keluarganya, rela membantu dan melakukan apa saja untuk kebahagiaan keluarganya.


Amira adalah gadis yang sangat beliau harapkan menjadi menantunya, gadis yang paling tepat untuk mendampingi Rendra, putra kesayangannya.


"Terima kasih, Ibu, karena telah mau menuruti keingina Amira," ucap Amira lembut dengan senyum menawan yang mungkin saja sulit ia keluarkan.


"Tapi, Nak, kenapa kita ke rumah sakit? Ibu tidak ingin dirawat di rumah sakit, Ibu sehat, Nak," protes ibu.


Ibu adalah wanita yang sangat tidak ingin ke rumah sakit apalagi berlama-lama di rumah sakit, karena ia telah bosan berurusan di rumah sakit. Bahkan ketika bapak Rendra dirawat, rumah sakit seperti rumah kedua untuk kedua orang tua Rendra.


"Ibu, ada seseorang yang harus Amira temui sedang dirawat di rumah sakit ini dan saat ini ia sedang sekarat. Amira ingin melihatnya dan memberikan semangat untuknya," ucap Amira lembut.


Entah mengapa, wajah ibu Rina berubah, seolah merasakan sesuatu yang buruk terjadi kepada putranya. Rasanya orang yang dikatakan oleh Amira adalah putranya sendiri.


"Amira, apakah yang kamu maksud adalah-,"


Ibu Rina seolah tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya, hingga air mata adalah salah satu bentuk dari kekhawatiran hatinya saat ini.


Amira tidak menjawab apapun, ia hanya diam sembari memeluk ibu Rina dengan air mata yang mengalir membasahi pipi keduanya.


Isak tangis ibu Rina dengan sejuta kesedihan yang ia bawa bersamanya membuat Amira merasa kasihan dan tidak sanggup melihat air mata itu.


"Amira juga tidak tahu apakah yang sebenarnya terjadi kepada Rendra, hanya saja ia saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja."


Amira menepuk-nepuk lembut pundak ibu Rina, berharap sedikit gerakan tangannya itu dapat menenangkan wanita separuh baya itu.


Hati ibu Rina pasti merasa sangat sakit dan hancur saat ini, karena ia baru saja kehilangan suami yang teramat sangat dicintainya, bahkan tanah pemakaman suaminya masih belum kering saat ini. Kini ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus mendengar kabar kalau putra kesayangannya, satu-satunya harta berharga yang ia miliki tengah mengalami rasa sakit yang teramat sangat sakit hingga membuatnya berada dalam keadaan sekarat di rumah sakit ini.


"Ibu, Rendra membutuhkan kita sekarang dan kita harus segera ke ruang inapnya," ucap Amira.


Amira membukakan pintu untuk ibu Rina dan membawa wanita separuh baya yang teramat sangat disayanginya itu untuk menemui Rendra yang saat ini berada di ruang ICU.


Ibu Rina kini hanya diam dalam kebisuan dengan air mata yang terus megalir membasahi pipinya yang sudah keriput. Beliau terlihat sudah tidak sanggup lagi untuk melangkahkan kakinya karena seluruh tubuhnya gemetaran hingga rasanya tak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya.


Berat!


Rasanya semua beban berat pernah beliau pikul salah satunya adalah kehilangan suami yang teramat sangat ia cintai dan saat ini ia tidak sanggup lagi jika dihadapkan pada kenyataan kehilangan putra yang sangat dicintai dan disayanginya.


'Ya Allah, ampuni segala salah dan dosa yang telah hamba lakukan, rasanya hamba sudah tidak sanggup lagi menjalani setiap cobaan berat yang Engkau berikan kepada hamba. Hamba lelah! Hanya satu keinginan hamba Ya Allah, tolong selamatkanlah anak hamba,' batin ibu Rina.


Amira sadar bagaimana rapuh dan hancurnya hati ibu Rina saat ini, rasa yang sama seperti yang ia rasakan saat ini. Buminya terasa hancur karena lelaki yang teramat sangat dicintainya mengalami sakit yang teramat sangat.


Andai ia bisa menggantikan posisi Rendra saat ini, Amira ingin sekali menggantikan posisi Rendra saat ini. Baginya biarlah ia yang sakit asalkan orang-orang yang sangat ia sayangi dan cintai tetap dalam keadaan baik-baik saja.


Namun, Amira tidak boleh terlihat lemah, karena ia harus menghibur dan menguatkan ibu Rina dan Rendra. Mereka tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Amira dan mereka membutuhkan dukungan dan semangat dari orang terdekatnya.


"Suster, pasien tabrak lari dirawat dimana ya?" tanya Amira ketika bertemu dengan salah satu petugas rumah sakit.


"Disana, Nona!" tunjuk suster pada salah satu ruang ICU yang berada di ujung jalan, sekitar 5 meter dari jarak Amira saat ini.


"Nak, apa maksudnya kecelakaan tabrak lari? Apakah yang terjadi kepada Rendra? Siapa yang tega menabraknya seperti itu?"


Dengan mata memerah dan penuh dengan air mata, ibu Rina menatap wajah Amira sembari meninju-ninju dadanya yang terasa teramat sangat sesak itu.


Ibu Rina berharap Amira akan memberikan penjelasan kepadanya hingga perasaannya menjadi lebih tenang dan lebih baik, tapi tidak ada yang bisa Amira katakan selain sabar, karena Amira juga tidak tahu bagaimana keadaan Rendra dan bagaimana ia bisa ditabrak lari.


"Ibu, kita berdoa yang terbaik ya untuk Rendra," ucap Amira dengan nada suara bergetar karena berusaha tetap tegar dengan kenyataan pahit yang saat ini dialami oleh Rendra.


"Rendra baik-baik saja 'kan, Suster?"


Kali ini ibu Rina menatap ke arah suster dengan tatapan kesedihan penuh dengan pengharapan.