
"Sudahlah, Ren, ayo pergi, kita telat!"
Amira berjalan meninggalkan Rendra, ia masuk ke mobil dan mengambil posisi terbaik dan ternyaman karena ia tidak ingin lagi membahas perasaan atau apapun yang berhubungan dengan cinta dan apapun yang berhubungan dengan rasa itu.
Rendra kini pasrah dan tidak lagi memaksakan dirinya, ia memilih diam dan mengikuti Amira saja, karena jika ia memberontak atau protes lagi maka Amira akan semakin marah kepadanya.
"Pak, jalan!" ucap Rendra kepada sang supir.
Ya, Amira dan Rendra saat ini menuju sebuah danau buatan yang ada di pinggir kota Bogor, karena sang investor ingin berbicara santai di sana. Namun, selama perjalanan, Rendra dan Amira saling diam dan menikmati pemandangan perjalanan mereka. Hingga akhirnya mereka sampai dalam waktu satu jam. perjalanan.
***
Amira berjalan sembari menatap jejeran warung sederhana yang meyajikan masakan khas Sunda yang menggugah selera. Ikan yang dididapatkan dari hasil pancingan menjadikan cita rasa masakan yang dihidangkan disini terasa khas. Ikan segar yang langsung di olah menjadi masakan rasanya jauh lebih enak karena dagingnya terasa lebih manis dari pada ikan yang telah didiamkan di lemari pendingin. Nasi putih yang disajikan dengan berbagai jenis hidangan sungguh menambah selera makan.
Sementara Rendra, ia hanya mengikuti langkah kaki Amira dari belakang.
"Tuan, Nona, mari saya antar ke Tuan Andrean!" ucap salah seorang yang datang menghampiri Tania dan Rendra.
"Tuan Rendra, Nona Amira, sini!"
Andrean memanggil Tania dari kejauhan karena ia sangat tahu kalau saat ini klien-nya itu pasti lapar.
Amira tersenyum kepada sang investor dan ia merasa sangat senang karena sambutan hangat dari Investor kepada keduanya.
"Hei, sini!" teriak Andrean lagi.
Amira sadar Rendra mengikuti langkah kakinya, hingga ia balikkan badannya untuk mengajak Rendra karena bagaimanapun juga saat ini mereka berdua adalah rekan kerja.
"Yuk makan!"
Amira menarik tangan Rendra yang saat ini sedang kikuk seolah tidak tahu akan melakukan apa.
"Selamat datang Tuan dan Nona, mari langsung makan saja," sambut Andrean dengan senyuman.
"Tuan lagi makan apa?" tanya Amira yang melihat Ibu tengah asik menikmati makanan pembuka sembari memandang bahagia ke arah danau lepas dengan pemandangan alam yang sangat segar.
"Nona dan mau apa?" tanya sang pelayan lembut dan ramah kepada Amira dan Rendra.
"Kita pesan seperti yang Tuan Andrean makan saja," sela Rendra karena memang mereka datang pada saat makan siang.
"Baik, Tuan, Nona."
Ya, akhirnya dalam beberapa menit, datanglah hidangan makanan untuk Rendra dan Amira. Keduanya diperlakukan layaknya seorang teman yang sudah mengenal sejak lama oleh klien padahal mereka hanya berkomunikasi lewat telepon sebelumnya.
"Tuan, Nona, makan yang banyak dan santailah, karena saya ingin menikmati pemandangan bareng sejenak, karena sudah lama sekali saya tidak menikmati pemandangan alam yang sangat indah seperti ini," ucap Andrean dengan gagah dan tampan serta berwibawa.
Ya, Andrean adalah pengusaha muda yang mewarisi perusahaan orang tuanya, ia tampan dan sangat berkarisma, usianya sekitar 29 tahun, sebaya dengan Amira dan Rendra, jadi suasana alam yang seperti ini juga sangat dibutuhkannya hanya untuk sekedar melepaskan penat dari rutinitas pekerjaan yang menggunung dan membuat sakit kepala.
"Tuan Rendra, bolehkah saya bertanya sesuatu yang sangat pribadi?" tanya Andrean dengan wajah yang terlihat serius sekali.
"Apakah Tuan Rendra dan Nona Amira berpacaran?"
Setiap orang yang baru saja mengenal Amira dan Rendra selalu saja berpikiran kalau keduanya berpacaran karena memang ada chemistry diantara kedua.
"Tidak, Tuan," ucap Amira dengan bersemangat.
Ya, keduanya berbicara serentak dengan bersemangat walaupun dengan jawaban yang berbeda.
"Maaf, saya tidak bisa melanjutkan kontrak kerja dengan orang yang tidak jujur sama sekali pada saya," ucap Andrean.
Lelaki bernama Andrean itu berhenti makan, ia kemudian berdiri seolah ingin meninggalkan Amira dan Rendra dengan wajah yang terlihat seperti orang yang sedang marah dan kecewa sekali.
"Tuan, tunggu! Kita bisa berbicara secara baik-baik," ucap Amira dan Rendra serentak.
Bagi Amira dan Rendra, proyek kerjasama ini adalah proyek penting yang sangat diharapkan oleh keduanya karena ini adalah peluang untuk mengembangkan usaha keduanya, jadi jika kerjasama ini gagal maka keduanya mungkin saja tidak akan lagi mendapatkan peluang yang lebih bagus dari pada ini.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi karena saya tidak suka dengan orang yang tidak jujur," ucap Andrean sembari berlalu pergi meninggalkan Amira dan Rendra dengan jalan cepatnya.
Bagi Andrean, kejujuran adalah nilai utama yang ingin diambilnya ketika ia akan bekerjasama dengan seseorang, dan cara ia bertanya kepada Amira dan Rendra adalah salah satu bentuk tes untuk keduanya.
Amira dan Rendra juga tidak sepenuhnya salah karena keduanya memang tidak memiliki hubungan yang jelas, mereka memang tidak berpacaran tapi keduanya berhubungan seperti orang yang tengah menjalin asmara.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Buk Bos?" tanya Rendra dengan rasa khawatir dan risau yang ia bawa bersamanya karena kesempatan besar mereka telah hilang.
"Kita harus mengejar Tuan Andrean dan menjelaskan kepadamya tentang apa yang terjadi," ucap Amira.
Amira menggenggam tangan Rendra kemudian membawa lelaki tampan itu untuk berlari menghampiri Andrean untuk menjelaskan kepada Andrean kalau semuanya hanya kesalahpahaman.
"Tuan, tunggu!"
Ucapan serentak yang keluar dari lisan Amira dan Rendra membuat Andrean menghentikan alngkahnya, namun ia tetap berdiri tanpa menoleh ke belakang bareng sedikitpun.
"Tuan, tolong dengarkan kami," ucap Amira dengan nafas ngos-ngosan yang membuat Andrean ingin mendengarkannya.
"Maaf, saya sudah tidak lagi butuh dengan kalian karena saya sudah mendapatkan perusahaan yang lebih baik dari kalian," ujar Andrean sembari melangkajkan kakinya meninggalkan Amira dan Rendra.
"Buk Bos, bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan?" tanya Rendra yang berharap kalau Amira memberikan solusi terbaik untuk mereka.
"Apakah kamu ingin bertemu dengan kedua orang tuaku sekarang?" pinta Amira.
"Tentu saja aku sangat mau," ucap Rendra bersemangat.
"Baiklah, sekarang juga kita harus kembali ke Jakarta," jelas Amira.
"Lalu kontrak kerjasama kita bagaimana?"
"Jika satu orang menolak maka kita punya banyak orang lagi yang memberikan kita peluang yang penting kita jangan menyerah," ujar Amira memberikan pengertian dan semangat kepada Rendra.
"Tapi, ini adalah kesempatan kita."
Rendra berlari mengejar Andrean, memastikan lelaki itu mau mendengarkan penjelasan Rendra sebelum lelaki itu naik ke mobilnya.
"Tuan, tunggu!" ujar Rendra sembari berlari kencang karena mobil Andrean sudah berjalan.
"Pak Bos, awas!" teriak Amira ketakutan sembari berlari mengejar Rendra yang tersungkur ke tanah karena terserempet motor ugal-ugalan yang melintas.