Crazy Boss

Crazy Boss
Pulang Kampung atau Date?



Kring..., kring..., kring....


Belum dapat jawaban dari Tania, Rendra langsung pergi menjauh beberapa langkah dari Tania untuk mengangkat panggilan video call dari Amira.


[Hai, Pak Bos]


Sapaan lembut dengan senyuman indah merekah di wajah cantik Amira membuat gadis itu terlihat sangat mempesona.


[Hai, Buk Bos]


Sapaan lembut dengan wajah sedikit panik terlihat jelas di wajah Rendra, seolah ia tengah menjaga hati dan perasaan dua wanita, yaitu Amira dan Tania.


[Pak Bos, lagi dimana? Masih sibuk?]


Amira terlihat sangat penasaran dengan keberadaan Rendra.


[Masih, Buk Bos, kenapa?]


Ya, Rendra memang sangat pandai sekali membuat wanita merasakan dua rasa dengan sikap cuek dan dinginnya hingga sikap manis dan perhatiannya.


[Pak Bos, aku dan Ibu sudah sampai di kampung. Aku suka sekali udara segar disini, udara bersih yang sangat jauh berbeda dengan yang ada di Jakarta]


Sungguh, Amira adalah gadis sempurna yang memiliki sifat sederhana. Hal-hal kecil saja telah membuatnya merasa sangat bahagia dan bersyukur.


[Syukurlah kalau Buk Bos dan Ibu sudah sampai di kampung. Jadi sekarang lagi berada dimana?]


Ada rasa penasaran di hati Rendra, karena sejujurnya ada kekhawatiran dan ketakutannya jika sang rentenir kembali mengganggu keluarganya. Ya, walaupun hutang mereka telah lunas, tapi ada rasa trauma di hati Rendra.


[Kami di tempat spesial]


[Spesial dimana?]


Rendra penasaran dengan keberadaan Amira dan ibunya.


[Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan banyak hal, fokus saja bekerja.]


Amira adalah wanita yang sangat mendukung Rendra, dan ia tidak akan mengganggu Rendra dengan sesuatu yang akan membuat fokus Rendra membuyar.


[Ibu mana?]


Bagaimanapun juga, bagi seorang anak lelaki, ibu adalah harta berharga yang tidak akan pernah disia-siakan oleh Rendra.


[Ini!]


Amira langsung mengarahkan ponselnya kepada ibu yang saat ini tengah melaksanakan salat.


[Buk Bos, jaga Ibu baik-baik ya!]


Dengan serius dan penuh harap, Rendra meminta Amira untuk menjaga ibu yang sangat disayangi dan dicintainya, harta berharga satu-satunya yang ia miliki di dunia.


Tentu saja Amira akan melakukannya, bahkan tanpa diminta pun Amir tetap akan menjaga orang tua Rendra layaknya orang tuanya sendiri.


Sementara itu, Rendra terlihat pusing dan sangat panik sekali saat ini karena fikirannya sudah membawanya ke kampung halamannya, hingga ia lupa ada Tania yang menunggunya.


Tania berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dinding sembari menunggu Rendra yang saat ini tengah asik melakukan panggilan video call dengan Amira.


[Buk Bos sudah dulu ya karena atasanku memanggilku.]


Rendra berbohong, dan ini kali pertama ia membohongi Amira. Bahkan dengan bergegas ia mematikan panggilan video call karena ia merasa bersalah karena meninggalkan Tania dan membiarkan gadis itu menunggu lama.


Rendra berjalan menghampiri Tania dengan senyum yang ia paksakan. Ada rasa aneh di hatinya saat ini, ada rasa bersalah bercampur kekhawatiran. Ada juga hati yang terasa terbagi karena tidak ingin menyakiti dua hati itu.


"Yuk berangkat!"


Entah apa yang ada di dalam fikiran Rendra saat ini, ia langsung bertingkah sesuka hatinya tanpa mengharapkan persetujuan dari Tania.


Rendra menggendong tubuh lansing Tania untuk menaiki lift dan membawa Tania ke parkiran.


Tania pasrah, lagi dan lagi ia seperti terhipnotis dengan Rendra. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Rendra sembari terus menatap lelaki itu dengan tatapan kekaguman yang teramat sangat. Tatapan Tania seolah mengisyaratkan kalau ia terpesona dan terpana dengan Rendra.


"Mas, apakah kamu mau jalan-jalan berdua saja denganku?"


Tania menatap Rendra dengan tatapan mata berbinar dan penuh dengan pengharapan. Ada keinginan hatinya agar Rendra mengabulkan apa yang menjadi keinginannya.


Ya, dalam gendongan Rendra, Tania terus menatap lelaki tampan dan mempesona itu. Pria tampan yang mirip dengan Kim Tan dalam drama Korea The Heirs.


Tentu saja tingkah Tania membuat Rendra merasa malu dan salah tingkah.


Grogi!


Rasa tidak biasa dengan debaran jantung yang bergetar sangat hebat hingga membuat Rendra merasa tidak sanggup menanggung debaran itu.


Rendra menurunkan Tania dari gendongannya dan berhenti sejenak untuk sementara waktu. Hal ini ia lakukan agar Tania tidak melihat wajahnya yang mulai memerah seperti kepiting rebus.


"Bukankah kamu ingin ikut ke kampungku?"


Rendra bertanya dengan ragu, namun debaran jantungnya saat ini terasa tidak menentu.


"Iya, tapi, bukankah butuh waktu berjam-jam untuk kita supaya sampai di kampungmu, Mas?"


Tania seolah ingin memaksakan keinginannya, agar Rendra membatalkan niat pulang kampung dan berjalan-jalan dengannya.


Tania menggenggam tangan Rendra sembari menatap wajah lelaki tampan itu. Tatapan yang membuat siapapun lelaki tidak akan berani menolak Tania. Wanita cantik dan sexy itu sangat pandai sekali menggoda dan meluluhkan hati pria tampan dan polos seperti Rendra.


"Oke, kita jalan-jalan sebenar saja, setelah itu saya akan menyusul Ibu ke kampung," ucap Rendra grogi sembari tersenyum tipis.


Sebenarnya ada keraguan di hati Rendra, karena ia telah berjanji kepada ibunya untuk menemani ibunya berjalan-jalan di kampung, mengenang memori bersama ayahnya yang tertinggal di kampungnya. Selain itu Rendra juga sudah lama sekali tidak mengajak ibunya berjalan-jalan karena waktunya habis ia gunakan untuk bekerja, apalagi mereka baru saja kehilangan ayahnya, pasti ibunya akan sangat sedih sekali saat ini.


'Ada Amira kok, Ibu pasti tidak akan kesepian,' Rendra membatin, karena separuh hatinya juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan pergi bersama Tania.


Rendra sangat tahu kalau Amira pasti akan membahagiakan ibunya. Gadis cantik itu pasti tidak akan membiarkan ibunya terluka dan bersedih, karena Amira adalah gadis yang sangat bisa sekali diandalkan. Apalagi ibu sangat senang sekali dengan Amira yang telah beliau anggap seperti putri kandungnya sendiri. Ya, ibu sangat menginginkan sekali seorang anak perempuan tempatnya mengadu dan berbagi cerita tentang semua hal makanya ibu meminta Rendra untuk menikah, tapi menjelang usia seperempat abad, Rendra tetap belum bisa mewujudkan keinginan orang tuanya.


"Mas, sa-sakit," rengek manja Tania.


Rendra langsung memeriksa Tania dengan rasa khawatir yang tergambar jelas di wajahnya.


"Apa yang sakit, Tania?"


"Sepertinya kakiku semakin sakit, apa kamu bisa mengantarkan aku ke rumah sakit atau klinik?"


Dengan mengaitkan kedua tangannya, Tania merengek kepada Rendra. Entah itu sakit sesungguhnya atau hanya tipu daya Tania agar bisa lebih lama dengan Rendra.


Tidak tahan melihat kesedihan dan rasa sakit yang Tania rasakan, Rendra langsung menggendong Tania, membawa gadis cantik itu ke parkiran.


Tania merasa sangat senang dan bahagia sekali, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Rendra, hingga Rendra semakin tidak bisa menahan gejolak di dadanya.


Jantung Rendra berdetak sangat hebat dengan nafas yang bergerak sangat cepat, wajah lelaki tampan juga berubah menjadi memerah karena malu.


"Mas, apakah kamu suka sama aku?" Pertanyaan yang keluar dari lisan Tania membuat Rendra kikuk dan tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi.


Rendra hanya dia diam membisu, hingga ia menjatuhkan tubuh langsing Tania di mobil hadiah pemberian pak Haris.


Rendra memasangkan sabuk pengaman untuk Tania, namun ketika ia ingin mengemudi, Tania langsung menarik krah baju lelaki itu.


Sungguh, Tania terlihat sangat terpedaya dengan Rendra.


Untuk sesaat dua mata saling menyatu, dua nafas terdengar cepat dengan debaran luar biasa yang dirasakan keduanya.


Tania benar-benar berhasil menghipnotis Rendra yang polos dan sudah lama sekali tidak berpacaran atau dekat dengan wanita kecuali Amira.


"Tania, Ma-Mas ingin menyetir," ucap Rendra dengan nada suara bergetar.


Seluruh tubuh Rendra terasa menggigil dengan debaran jantung yang tidak biasa di hatinya.


"Mas, kamu terlihat sangat lucu, aku menyukaimu."


Ucapan spontan dan gelak tawa yang keluar dari lisan Tania membuat Rendra benar-benar tidak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya.