
Amira masuk sebagai pembela kebenaran, ia langsung menghampiri Tania dengan keberanian karena ia yakin kalau apa yang dikatakan oleh Tania tidak benar.
"Kamu telah dibohongi oleh Mas Rendra, kamu tidak tahu bagaimana panasnya hubungan yang kami jalani," ucap Tania yang masih saja berusaha membela dirinya.
"Saya lebih tidak percaya dengan gadis seperti kamu."
Amira membuka pintu ruangan dengan dua orang penjaga keamanan yang telah berdiri di depan pintu.
"Kamu ingin keluar secara baik-baik atau petugas keamanan ini yang menyeretmu secara paksa?" ujar Amira dengan keyakinan penuh, sungguh terlihat sangat anggun dan berwibawa sekali.
Dengan berat hati dan emosi yang memuncak, akhirnya dengan terpaksa Tania harus keluar dari ruangan dengan wajah yang memerah.
"Ibu, Ibu tidak apa-apa bukan?"
Amira langsung memeluk sang ibu sembari memeriksa dan memastikan keadaan sang ibu baik-baik saja.
"Buk Bos, apakah kamu tidak menanyakan bagaimana keadaanku juga?"
Rendra seperti anak kecil yang juga ingin disayang dan diperhatikan oleh Amira namun yang terpenting bagi Amira adalah ibu, ia tidak rela dan tidak ingin ada seorangpun yang menyakiti ibunya karena jika ada yang melakukan hal seperti itu maka ia akan menjadi garda terdepan untuk membela ibu Rina yang sudah berumur tersebut. Ya, walaupun ibu Rina bukan ibu kandung Amira tapi Amira telah menganggap beliau seperti ibu sendiri karena ibu seperti mamanya, jadi ia ingin berbakti kepada ibunya Rina seperti ia berbakti kepada ibunya sendiri karena surga ada di telapak kaki Ibu.
"Kamu tidak usah diperhatikan karena ada wanita yang terus mengintaimu!"
Ya, begitulah cuek dan kecewanya Amira kepada Rendra atas sikap lelaki itu, bahkan kekecewaan Amira bercamour dengan kecemburuan karena Amira tidak menyangka Rendra memiliki dan dekat dengan gadis lain. Tapi bagaimanapun juga Amira masih tetap perhatian kepada Renda.
***
Sebulan berlalu dan sudah sebulan juga Rendra dirawat di rumah sakit. Amira tetap menjadi gadis yang sangat setia menunggu dan menjaga Rendra, ia merawat Rendra dengan segenap cinta dan kasih sayang yang ia miliki. Amira juga membantu Rendra dalam menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan yang diamanahkan kepadanya.
Rendra memang tidak bisa menjadi model mendampingi Tania seperti keinginan pak Herman, tapi Rendra bekerja sangat maksimal dengan otaknya dan bantuan dari Amira untuk menyelesaikan proyek pertama yang menjadi tanggung jawabnya. Sehingga semua persiapan acara fashion show rampung dan kini tinggal menunggu hari saja.
Sementara itu, si gadis resek Tania, saat ini telah meninggalkan Rendra karena ia tidak menyukai lelaki lumpuh yang hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit dalam keadaan tidak berdaya.
Tania mengatakan kepada Rendra kalau sebenarnya ia memanfaatkan Rendra untuk memperlancar karirnya di dunia modeling karena ia mendengar kalau Rendra adalah lelaki yang bertanggung jawab menangani proyek besar itu, sehingga Tania merayu Rendra dan membuat lelaki tampan itu tidak bisa bertekuk lutut sama sekali dihadapannya. Ya, kini Tania dan Stive yang ditunjuk perusahaan untuk menjadi model.
Rendra kini sadar kalau hanya Amira gadis yang sangat mencintai dan menyayanginya dengan tulus dengan segenap hatinya, bahkan wanita cantik itu tetap bersikap baik dan membantu Rendra walaupun lelaki tampan itu telah melukai hati dan perasannya.
"Buk Bos, aku merasa sangat beruntung karena memiliki seoang wanita yang sangat baik dan sempurnna seperti kamu," ucap Rendra sembari menatap Amira yang saat ini tengah duduk di kursi sembari mengerjakan pekerjaannya.
Ya, kini Amira memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di BUMN karena ia ingin fokus merawat Rendra dan membantu pekerjaan Rendra. Wanita cantik itu rela berkorban dan melakukan apa saja demi kebahagiaan Rendra.
Amira adalah tipe wanita yang sangat ideal sekali untuk dijadikan istri dan lelaki manapun yang berhasil mendapatkan hati Amira adalah lelaki yang sangat beruntung sekali karena Amira adalah gadis yang akan mendukung lelaki yang dicintainya dengan segenap hatinya.
Ya, Amira tidak ubahnya seperti Rendra, ia akan sangat fokus sekali jika telah berhubungan dengan pekerjaan. Namun, Amira tetap sadar kalau Rendra tengah menatap dan memperhatikannya.
"Buk Bos, aku memang telah jatuh cinta kepadamu sejak lama," ucap Rendra sangat pelan namun masih bisa didengar oleh Amira.
Amira sebenarnya memiliki perasaan yang sama dengan Rendra, bahkan wanita cantik itu jauh lebih dahulu menyadari perasaannya dibandingkan dengan Rendra, tapi ada rasa kecewa dan kesal yang masih Amira simpan di dalam hatinya karena Rendra sempat membagi cinta dan tergoda dengan wanita yang jauh lebih cantik dari dirinya.
"Buk Bos, aku tahu aku telah melakukan kesalahan besar kepadamu dan aku tahu kalau aku membuatmu kecewa, aku sangat menyesal untuk itu," ungkap Rendra dengan nada suara mengiba dan sedih. Terlihat sekali sebuah penyesalan dari wajah tampan itu.
Amira hanya diam seribu bahasa dan tetap fokus kepada pekerjaannya saja, karena rasa kesal dan kekecewaannya kepada Rendra tidak mungik ia sampaikan sekarang karena keadaan Rendra masih sakit.
Sebenarnya Amira ingin memaki hingga memukul Rendra dengan segenap tenaga yang ia miliki, namun ia memilih menahan dan menyimpannya sampai keadaan Rendra benar-benar baik-baik saja.
"Pak Bos, istirahatlah!"
Hanya itu kata-kata singkat dan terdengar sangat tidak enak di telinga Rendra, salah satu perhatian tulus yang dilontarkan Amira.
Lelaki tampan itu sangat berharap jika Amira menjawab pertanyaannya dan merespon ungkapan perasaannya, namun Amira selalu mengalihkan pembicaraan jika telah menyangkut dengan ungkapan perasaan seperti itu.
Sudah sebulan, Rendra tidak akan diladeni oleh Amira jika lelaki itu membahas tentang ungkapan perasaannya.
"Buk Bos, apakah Ibu sehat?"
Rendra menanyakan keadaan ibunya karena akhir-akhir ini ibunya kekurangan waktu istirahat kerena sering bergadang untuk menjaga dirinya.
"Ibu sedang tidur di ruangan Dokter Rasya, kasihan Ibu jika harus tidur di sofa."
Dokter Rasya adalah dokter yang merawat Rendra yang tidak lain adalah mantan kekasih Amira semasa kuliah.
"Kenapa Lelaki itu mengizinkan Ibu menginap di ruangannya? Kenapa ia bersikap sok baik?"
Wajah Rendra terlihat berbeda, ia tidak suka ada lelaki baik yang bersikap baik kepada ibunya apalagi lelaki itu adalah mantan kekasih Amira. Bukannya Rendra tidak suka melihat ibunya tidur dengan nyenyak dan nyaman hanya saja ada rasa cemburu di hatinya karena kenyamanan yang didapatkan oleh ibunya bukan ia yang memberikan melainkan seorang lelaki yang sampai saat ini menyukai dan menyayangi Amira.
"Pak Bos, jangan suka marah dan jangan memikirkan hal yang berlebihan. Jangan egois! Kasihan Ibu."
Amira menjelaskan kepada Rendra kalau ibunya butuh tempat beristirahat yang layak dan nyaman apalagi beliau telah berusia lanjut, Amira juga mengatakan kalau ia tidak ingin ibu sakit karena kelelahan dan kurang istirahat, sehingga Amira meminta kepada Rendra untuk pengertiannya. Amira berharap Rendra tidak bersikap seperti anak kecil yang suka sekali merengek tidak jelas dan bertindak tidak dewasa.
"Tapi, Buk Bos, aku tidak suka Dokter itu terlalu perhatian kepada kamu dan Ibu," ungkap Rendra dengan nada suara manja.