Crazy Boss

Crazy Boss
Mengunjungi Orang Tua



"Mas, bangun!" ucap Amira sembari menepuk-nepuk tangan Rendra. Ya, lelaki tampan itu tengah terbaring lemah di ranjang karena syok hampir tertabrak oleh motor.


"Ra, kamu disini? Bukannya kita akan bertemu dengan kedua orang tua kamu?" ucap Rendra linglung sembari melihat sekelilingnya.


Rendra bangkit dari pembaringannya, ia menatap Amira dengan seksama.


Rendra kemudian menggenggam tangan gadis cantik yang sangat dicintainya, karena ia tidak percaya kalau semua yang terjadi hanyalah mimpi di siang bolong.


"Ra, kamu terlihat sangat cantik," puji Rendra sembari menatap wajah Amira yang benar-benar sangat cantik sekali.


"Benarkah?"


Rendra mengangguk, ia tersenyum kepada gadis cantik yang sangat dicintainya itu.


"Bagaimana dengan investor?" tanya Rendra yang sepertinya mulai sadar dengan apa yang sebelumnya terjadi.


"Tunggu!" jawab Amira.


Amira mengambil ponselnya kemudian mencoba menghubungi seseorang.


"Ra, aku bertanya bagaimana dengan kontrak kerjasama kita sama investor, kenapa malah menelpon sih? Kamu sebenarnya mendengarkan aku apa tidak sih?" ujar Rendra mengomel seperti seperti ibu-ibu yang sedang marah dengan anaknya.


"Udah ah, diam!" balas Amira.


Rendra diam ketika ia mendengar dan melihat ibunya yang ada di layar ponsel


[Assalamualaikum, Nak, ada apa, Sayang?]


[Waalaikumsalam, Ibu, Rendra kangen banget sama Ibu] ucap Rendra manja seperti anak bayi.


[Ibu juga kangen banget sama kalian berdua] balas sang ibu dengan senyuman.


[Ibu, Amira izin mengajak Rendra untuk menemui orang tua Tania, boleh nggak, Bu?] ungkap Amira dengan sangat ramah dan sopan, terlihat sekali kalau ia adalah anak yang baik dan ingin membuat Rendra terhibur walaupun hanya lewat panggilan video call.


"Ra, jadi kamu beneran akan mengajakku bertemu dengan orang tuamu?" tanya Rendra penasaran hingga akhirnya melupakan investor yang gagal berinvestasi.


[Rendra, tolong jaga Nak Amira, lindungi dia dan kembalikan putri kesayangan Ibu dalam keadaan baik, utuh dan tidak kurang sedikitpun.]


Ibu Rina memberikan ultimatum kepada anaknya untuk menjaga dan melindungi calon menantu kesayangannya layaknya putri kandungnya karena bagi orang tua, anak perempuannya adalah harta paling berharga yang ia miliki dan ia tidak akan membiarkan seorangpun melukai hati dan perasaan anak perempuannya, jadi sang ibu tidak ingin calon menentunya dikhianati dan disakiti oleh anak kandungnya sendiri.


[Siap, Ibu!]


Rendra berucap lantang dan tegas sembari memberikan hormat kepada ibunya, terlihat sekali kalau ia sangat patuh dan menurut, bertangung jawab dan tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh ibu kepadanya.


[Ibu, kalau begitu kita pamit ya, Ibu hati-hati di rumah, besok Rendra dan Amira pulang ya, Bu.]


Rendra dan Amira berpamitan dan mematikan panggilan video call.


Bagi Amira, ibu Rina adalah ibunya juga, dan Amira juga tidak pernah membedakan status sosial orang lain karena yang terpenting bagi Amira adalah kebaikan hati seseorang.


Amira sebenarnya masih takut jika ia harus berhadapan dengan kedua orang tuanya apalagi memperkenalkan Rendra sebagai calon suaminya, namun salah satu cara Amira menghibur Rendra adalah dengan memperkenalkan Rendra kepada orang tuanya.


"Sayang, yuk berangkat!"


Rendra menggandeng tangan Amira dengan lembut, ia menunjukkan cinta dan kasih sayangnya kepada gadis yang sangat ia cintai itu dengan memperlakukan wanitanya itu seperti seorang ratu yang sangat dicintai dan disayanginya.


"Sayang, maksudnya?"


Tidak terima di panggil sayang karena Amira belum mengatakan kalau ia menerima cinta Rendra.


"Sayang, apakah kamu gugup?"


"Tidak jika ada kamu disisi ku, tapi kenapa kamu memanggilku dengan kata-kata sayang?"


Sebuah kata yang keluar dari lisan Amira terdengar seperti sebuah gombalan, namun pada kenyataannya itulah yang dirasakan oleh Amira saat ini.


Rendra tersenyum tipis dan manis, ocehan ringan yang keluar dari lisan Amira juga sangat menghiburnya karena sejujurnya bukan hanya Amira yang gugup saat ini tapi Rendra juga.


"Sayang, Bismillah."


Rendra kemudian membukakan pintu untuk Amira, setelah itu ia menyetir mobilnya dengan kecepatan standar.


"Sayang, apakah kamu ingin mendengar musik?"


Saking gugupnya Amira dan Rendra, mereka berdua malah tidak tahu akan mengatakan dan membicarakan apa-apa lagi.


"Aku lebih nyaman jika kita diam seperti ini saja, musik malah membuat berisik."


Amira sebenarnya saat ini sedang berkonsentrasi untuk berzikir karena jika hati merasa gelisah dan tidak tenang maka cara terbaik yang harus dilakukan adalah dengan beristighfar atau berzikir. Selain itu Amira tidak tahu akan mengatakan apa kepada Rendra.


Selang 30 menit waktu berlalu dengan sangat lama, hingga akhirnya sampailah Amira dan Rendra di rumah mewah bertingkat dua dengan gaya Eropa.


"Ren, kita turun di depan sana, yuk turun!" ucap Amira menghentikan mobil Rendra.


"Villa? Apakah kita akan menginap di villa lagi?" tanya Rendra ragu.


"Turun saja!" ucap Amira yang tidak lagi bisa ditolak oleh Rendra.


Rendra segera keluar dari mobil kemudian membantu Amira untuk turun dari mobil, mengulurkan tangannya untuk membantu Amira.


Keduanya diam membisu dengan seluruh tubuh gemetaran karena grogi.


Rendra mengambil sesuatu dari dalam saku jas berwarna hitam yang ia kenakan. Ia mengeluarkan sebuah permen coklat dan memberikannya kepada Amira.


"Makanlah karena ini akan membuat perasaanmu menjadi lebih baik," ucap Rendra sembari memecahkan suasana tegang diantara keduanya.


Amira mengambil permen coklat itu, setidaknya untuk membuat perasaannya menjadi sedikit lebih tenang sepeti yang dikatakan oleh Rendra.


"Yuk!"


Amira kemudian menggandeng tangan Rendra menuju villa besar gaya Eropa itu dengan rasa percaya diri yang terlihat sangat tinggi sekali.


"Mama, Amira datang bersama Rendra."


Itu adalah kata-kata pertama yang Amira lontarkan ketika ia berjalan melangkah maju, tapi bukan menuju villa tapi ke sebuah halaman belakang villa.


"Ra, kita mau kemana?" tanya Rendra penasaran sembari menghentikan langkah kakinya.


"Bukankah kamu ingin bertemu dengan orang tuaku?" ucap Amira tanpa menatap Rendra.


"Iya, aku ingin melamarmu kepada kedua orang tuamu," ucap Rendra.


Amira diam, ia terus melangkahkan kakinya hingga sampailah ia di sebuah tempat dengan batu nisan yang ada di depannya.


Rendra terdiam, ia menatap nisan dengan bertuliskan Arumi Binti Hendrawan, yang membuat Rendra paham kalau itu adalah ibunya Amira.


"Assalamualaikum, Ma, Amira datang setelah sekian lama," ucap Amira sembari melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Rendra, kemudian berjalan pelan mendekati nisan mamanya.


"Ma, Amira nggak sendirian, Amira datang bersama Rendra, calon suami Amira," ucap Amira yang terdengar sangat serius.


Rendra yang tadinya berjalan mendekati Amira akhirnya menghentikan langkah kakinya, ia kaget dan tidak menyangka kalau Amira memperkenalkannya sebagai calon suaminya padahal beberapa jam yang lalu Amira tidak ingin Rendra memanggilnya sayang karena mereka belum resmi jadian.