Crazy Boss

Crazy Boss
Tiga



Notes dari Penulis : Saya himbaukan, bahwa bahasa tulisan kali ini berbeda. Ini bisa di sebutkan dengan bahasa ciri khas saya sendiri. Yaitu bahasa non baku. Dengan kata "Aku" dan "kau" sedikit formalitas. Namun saya menggunakan dengan sesuai kriteria ceria saya sendiri. Bahasa daerah Sumatera Utara dan bahasa gaul lainnya. Kalau kalian merasa ada yang aneh dengan bahasaku. Ciri khas kita beda-beda, bro... jadi... selamat membaca...


✍✍✍✍🙈🙈🙈✍✍✍


... ... *****...


Jam alarm ponsel jadul telah berbunyi untuk ke empat kalinya, sang pemilik belum juga bangun dari alam mimpi bawah sadarnya.


"Eum... ribut banget, sih! mau tidur damai juga kagak bisa," merepetnya pada diri sendiri


Melihat jam ponsel angka nol delapan titik dua lima puluh enam menit kurang lima detik. Langsung kedua bola mata yang masih terpejam setengah melebar sempurna tanpa ada rasa kotoran mata tengah menempel pun tak dirasakan lagi.


"Busyet! Terlambat diriku! Ponsel sialan!" tergesa-gesa dia untuk turun dari kasur rata itu, selimut melilit kedua kakinya sulit baginya untuk turun sempurna.


Gubrak!


Aduh... sakit... lontong sontoloyo p*kimak!


Memaki diri sendiri, benda mati tidak bersalah dirinya sendiri melakukan tanpa dosa.


Dua puluh menit kemudian, lengkap dengan segala pakaian, rambut, tas, sepatu selesai.


Waktunya berangkat interview, perjalanan begitu macet, tiada hari namanya lempang.


****


Telah sampai di gedung tinggi, tempat dimana ia kunjungi ketika diusir oleh sekuriti serta mbak sok cakepan. Dengan senyuman semanis surga menerbitkan wajahnya.


Si penjaga gerbang kembali menatap wajah gadis remaja itu, di hentikannya. Membuat Jelita melototinya.


"Maaf, adek ada perlu apa datang ke kantor ini?" tanya Sekuriti yang terpampang name tag Wahyudi Sukro. Nama yang jadul, pantas saja cara ngomongnya juga jadul.


"Aku mau interview, lah," jawabnya sombong.


"Interview? tidak ada pemberitahuan dari pihak informasi." tanyanya lagi.


"Memang harus lewat bapak dulu kalau ada yang mau interview?" jawabnya malah balik bertanya sama sekuriti ini.


Tak berselang lama seorang wanita berumur empat puluh tahunan menghampiri dua orang manusia tengah beradu mulut.


"Dengan Jelita ardhiza Cwenzie?" suara lembut yang begitu ramah buat Jelita menoleh arah pendengaran itu.


"Iya," sahut Jelita. Dua bola matanya membulat terpukau dengan wajah yang begitu ayu dan cantik.


"Silakan ikut saya, Wahyu Pak Ardian memanggilmu." suara yang lembut menjadi nada menegaskan.


Wahyu langsung tegang mendengar laporan bahwa pemilik perusahaan ini memanggilnya.


Jelita menjulurkan lidah kepada Wahyu si sekuriti itu, kemudian mengekori wanita berusia empat puluh tahunan itu. Jelita melirik arah tempat informasi pekerjanya berbeda.


Apa di pecat ya?


Mungkin saja, rasain memang siapa suruh berlaga sok cakepan.


"Silakan," sambutnya ramah


Jelita melangkah kakinya masuk ke sebuah ruangan yang begitu luas, dan suhu udaranya sangat dingin. Sunyi dan sepi.


Busyet! ini kuburan apa kantor tak berpenuhi.


"Ini ada beberapa psikotes sampai mana kemampuan mengerjakan soal ada di kertas ini. Waktu anda 30 menit mulai dari sekarang," terangnya wanita itu berikan kepada Jelita beberapa soal dan kertas kosong untuk mengisi jawaban.


Jelita pun mengamati setiap tulisan dan kata-kata di kertas itu. Dengan cekatan ia pun mulai mencoret setiap soal ada di sana.


Sebuah kamera CCTV pada ruangan di mana Jelita sedang mengerjakan soal psikotes IQ.


Pria itu mengamatinya setiap detik, di pembesar yang terlihat coretan kertas jawaban penuh rumus dan tulisan begitu rapi.


•••••


"Bang, es teh manis jumbo satu, sama gorengan seporsi campur!" teriak Jelita tengah duduk di salah satu warung dekat gedung di mana ia interview tadi.


Terik matahari benar buat perutnya semakin lapar saja. Duit di kantong mulai menipis, belum lagi menunggu pekerjaan saja ribet banget.


"Interview, ya, Neng?" tanya abang penjual gorengan letakkan seporsi gorengan sama minuman jumbo di mejanya.


"Iya, nih, Bang." jawabnya langsung di ambil gelas bening jumbo di kocok-kocok gulanya alamak banyak amat


"Ya ampun, Bang. Manis banget bisa diabetes nih aku," tambahnya protes


"Nggak apa-apa, Neng, manis daripada hambar rasa pun pudar," balas si Abang penjual gorengan.


Jelita ketawa, "Bisa saja nih, Abang! Kok, sepi, ya?"


"Belum, Neng, baru jam berapa? Nanti siang jam dua belas bakalan ramai gorengan abang pun habis tak ada sisa."


"Oh..."


Sambil menunggu mataharinya sembunyi di punggung awan, dia lihat ponsel judulnya dulu, enggak ada kamera, ataupun warna layar. Pokoknya jadul hanya terlihat hitam putih.


Main game ular tangga memang sudah kebiasaannya, minuman jumbo ludes di seruputnya apalagi gorengan. Sudah lama duduk di warung sampai para pelanggan mulai datang satu persatu.


Dia pun bangun dari duduknya, merogoh kantong selembar sepuluh ribu warna merah muda berikan sama penjual gorengan.


"Nggak usah, Neng, gratis." tolak si abangnya.


"Lah, kok gratis, aduh... kan aku jadi enggak enak sama Abang. Belum tentu aku datang ke sini lagi." ucapnya si Jelita tetap berikan kepada penjual gorengan.


"Nggak Neng, biasanya kalau yang datang pertama kali ke warung abang, gratis, soalnya, kan.. Belum tentu pelanggan jam segini datang makan gorengan saya." katanya


Jelita menarik uang sepuluh ribu itu di simpan kembali. "Kalau begitu, makasih ya, Bang. Nanti aku diterima, tak awak traktir Abang, semoga hari ini laris, ya! Cabut,  Bang!"


Jelita mengangkat kaki meninggalkan jejak di warung itu. Kemudian si penjual gorengan itu menelepon seseorang di seberang.


"Semuanya aman, Pak." ucapnya


"...."


"Baik, Pak."


Di tutup kembali ponselnya pelanggan sudah datang membeli, sementara Jelita menunggu bus atau angkot umum kembali ke kos-kosnya.


Sampai di kostnya, sama juga seperti di warung. Tidak di bayar. Ini Angkot juga nggak mau terima bayaran darinya.


Jelita mulai keheranan, apa dengan hari ini. Memangnya hari gratisan, ya?