Crazy Boss

Crazy Boss
Akhirnya Membuka Mata



Awalnya ibu Rina menolak untuk beristirahat, namun Amira meyakinkan beliau kalau ia akan merawat Rendra, dan tentu saja ibu Rina akan sangat percaya kepada Amira karena gadis cantik itu adalah anak yang sangat baik dan penurut.


"Tapi Amira janji akan membangunkan Ibu kalau Rendra terbangun ya!" pinta sang ibu.


Ibu Rina bertingkah seperti anak kecil yang akan percaya ketika dijanjikan.


"Iya, Ibu, percayalah pada Amira."


Amira membantu ibu Rina berjalan dan membimbing tangan beliau ke sofa. Amira membaringkan sang ibu yang hatinya sedang terluka itu dengan sangat lembut, penuh cinta dan kasih sayang. Amira menyelimuti beliau, kemudian menatap wajah yang sudah mulai keriput itu, menunggu sampai beliau lelap tertidur.


Amira mencium kening ibu Rina, sembari memanjatkan doa agar beliau baik-baik saja dan bisa tersenyum ceria lagi seperti sedia kala. Amira begitu mengharapkan bisa berbakti kepada ibunya, namun ia tidak memiliki kesempatan karena ibunya pergi terlalu cepat meninggalkannya, hingga ia memilih berbakti kepada ibu Rina, wanita baik yang telah memperlakukannya dengan sangat baik layaknya putri kandungnya sendiri.


'Mama, Amira rindu!' ucap Amira di dalam hati sembari memegang dadanya yang terasa sangat sesak.


Sakit!


Rasa rindu yang teramat sangat itu tidak bisa diungkapkan karena orang yang ia rindukan sudah tidak lagi bisa ia temui karena dunia mereka telah berbeda.


Perlahan air mata jatuh membasahi pipi Amira, karena ia tidak lagi sanggup menahan kerinduan di dadanya.


"Buk Bo-s," terdengar suara lemah Rendra yang memanggil Amira menyadarkan gadis cantik itu.


Amira menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya kemudian berjalan pelan mendekati Rendra yang tengah terbaring lemah tidak berdaya di ranjang. Ya, Rendra tidak bisa melakukan apa-apa selain menggerakkan dua bola matanya dengan suara yang tidak seperti biasanya, terdengar sangat lemah dan serak.


"Pak Bos, Pak Bos sudah sadar?"


Amira mendekati Rendra dengan hati yang berkecamuk dan bercampur aduk.


Amira membelai lembut rambut Rendra sembari menatap wajah tampan yang kini terlihat penuh dengan perban.


"Pak Bos!"


Amira menangis karena tidak kuasa melihat Rendra, lelaki yang sangat ia cintai tengah terluka dan ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantunya.


Doa!


Di dalam hati, Amira terus berdoa dan memohon kepada sang pencipta, agar lelaki yang sangat ia cintai itu kembali ke sedia kala.


"Buk Bos, jangan menangis!"


Ingin sekali Rendra menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi Amira, namun seluruh tubuhnya kaku dan tangannya terasa teramat sangat lemah untuk bisa digerakkan.


"Bagaimana aku tidak menangis jika keadaan Pak Bos seperti ini."


Amira menatap Rendra dari ujung rambut hingga jung kaki, hingga membuat ia merasa ingin sekali menangis dan meneteskan air mata.


Rendra juga tidak tega melihat ada air mata yang jatuh membasahi pipi Amira, karena kesedihan dan air mata Amira membuat dadanya merasa teramat sangat sesak karena kesedihan itu ia yang ciptakan.


Rendra juga teringat salah dan dosa yang ia lakukan karena mengkhianati Amira, ia bahkan tidak bisa menjaga cinta yang selama ini ia pendam untuk Amira.


Rendra tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi Amira kelak, jika gadis cantik itu tahu kalau Rendra telah berkhianat di belakangnya.


"Amira, jangan menangis!"


Hanya itu kata-kata yang bisa Rendra sampaikan kepada Amira, agar gadis yang ia sayangi dan cintai itu berhenti menangis.


"Buk Bos, maaf!"


Kata-kata yang keluar dari lisan Rendra membuat Amira sejenak berhenti menangis, ia menatap ke arah Rendra dan menatap lelaki tampan itu dengan seksama.


"Pak Bos, kenapa meminta maaf?" tanya Amira dengan raut wajah yang penuh dengan sejuta tanda tanya.


Amira ingin sekali menanyakan banyak hal kepada Rendra dan salah satu yang paling mengganjal di hatinya adalah tentang cewek sexy yang dengan kasar memarahinya, namun Amira bukanlah wanita egois yang akan melepaskan amarahnya kepada Rendra disaat keadaan pria itu sedang tidak baik-baik saja.


"Buk Bos, maukah Buk Bos berjanji kepadaku?"


Bukannya menjawab pertanyaan Amira, ia memilih untuk meminta Amira berjanji.


"Berjanji untuk apa, Pak Bos?"


"Apakah Buk Bos mau berjanji akan memaafkan ku walaupun kesalahanku sangat besar?" tanya Rendra dengan tatapan mata yang penuh dengan pengharapan.


Rendra berharap permohonan maaf dari Amira suatu hari nanti ketika ia berkata jujur kepada gadis cantik itu, karena Rendra tidak ingin kehilangan Amira, gadis yang sangat ia cintai namun ia sia-siakan selama ini.


"Pak Bos, bukankah Allah saja Maha Pemaaf, bagaimana aku yang hanya manusia biasa bersikap sombong dan tidak mau memaafkan."


Amira tersenyum sembari membelai lembut rambut Rendra. Bagi Amira setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan sebagai manusia juga tidak sepantasnya ia menghakimi kesalahan orang lain.


Bahkan seseorang yang meminta maaf itu adalah orang yang sangat hebat karena ia telah mengumpulkan keberaniannya untuk meminta maaf kepada orang yang ia sakiti. Ya, jujur mungkin menyakitkan, tapi jujur jauh lebih baik dari pada terus-terusan tersiksa batin karena menyimpan sebuah kebohongan di dada.


"Buk Bos," ucap Rendra lemah.


Rendra meneteskan air mata, ia merasa malu karena begitu tega menyia-nyiakan gadis sebaik Amira.


"Pak Bos, sudahlah, jangan menangis!"


Amira menghapus air mata yang jatuh di pipi Rendra, ia tidak ingin ibu terbangun dan melihat putra kesayangannya sedang bersedih, karena hati seorang ibu akan hancur dan terluka jika belahan jiwa dan harta berharga yang sangat dicintai dan disayanginya menangis di depan matanya.


"Buk Bos, Ibu mana?"


Rendra tidak melihat batang hidung ibunya, hingga ia merasa teramat sangat khawatir jika ibunya juga tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Rendra tidak akan bisa memaafkan dirinya jika terjadi hal buruk kepada ibu karena dirinya.


"Ibu sedang tidur di sofa, beliau terlihat sangat capek dan lelah sekali."


Amira menunjuk ke arah ibu dan melihat wanita separuh baya itu tengah lelap tertidur.


"Apakah Ibu sudah sehat, Buk Bos? Kenapa Ibu tidak dirawat saja sekalian disini?"


"Ibu sehat kok, Pak Bos. Beliau merasa tidak enak badan dari kemarin karena memikirkan anak semata wayangnya. Beliau gelisah karena takut sesuatu yang buruk menimpa putranya," jelas Amira.


'Ibu, maafkan Rendra,' ucap Rendra di dalam hati.


Rendra akhirnya menyadari kalau ikatan batin antara seorang anak dengan ibunya sangatlah kuat, karena beliau langsung merasa tidak nyaman ketika putranya melakukan sebuah kesalahan.


"Pak Bos, Ibu meminta dibangunkan ketika Pak Bos bangun," ujar Amira.


Amira membalikkan badannya dan berniat untuk membangunkan ibu Rina sesuai janjinya, namun Rendra dengan segenap jiwanya mencoba mengangkat tangannya dan menahan Amira untuk membangunkan ibunya.


"Buk Bos, tunggu!" ujar Rendra dengan menahan kesakitan karena memaksakan diri menggerakkan tangannya.


Amira membalikkan kembali badannya, menatap Rendra dengan seksama.


"Buk Bos, maukah kamu menikah denganku?"