Crazy Boss

Crazy Boss
Debaran Tidak Biasa



Tentu saja Rendra sangat ingin sekali bertemu dengan orang tua Amira karena selama ini Amira sangat tertutup kepada Rendra terkait keluarganya, bahkan Amira selalu mengelak jika Rendra bertanya tentang keluarga kepada Amira.


Selama ini Rendra selalu sabar karena ia yakin kalau suatu hari nanti Amira akan memperkenalkannya kepada kedua orangnya.


"Baiklah, aku akan berusaha yang terbaik untuk mendapatkan investasi dari investor kita, karena aku ingin membanggakan diriku dihadapan Mama kamu dan mengatakan kepada beliau kalau aku akan menjadi calon suami yang bisa diandalkan nantinya," ungkap Rendra bersemangat.


"Oh ya, ngomong-ngomong ini adalah perjalanan kita keluar kota pertama kali berdua, apakah kamu mau jalan-jalan ke kampungku? Aku ingin mengenang masa kecilku sekalian memperkenalkan kampungku yang dulu sempat tertunda?"


Rendra ingat kalau ia pernah melakukan kesalahan dan membatalkan janjinya waktu itu dengan Amira demi Tania, gadis yang menjebaknya hingga ia dipecat dari perusahaan yang tengah membesarkan namanya.


"Iya, Pak Bos, aku mau."


Dengan bersemangat Amira mengangguk karena ia memang ingin tahu banyak tentang kehidupan masa kecil Rendra yang tidak ia ketahui.


"Buk Bos, apakah kamu tidak menyesal pernah mengenalku?" tanya Rendra tiba-tiba.


Amira menatap Rendra dengan seksama, karena terkadang Rendra bersikap takut jika keberadaannya malah membuat Amira merasa menyesal mengenalnya karena ia selalu memberikan rasa sakit dan kesedihan kepada Amira, bahkan ia selalu merepotkan Amira dengan semua pekerjaan berat yang ia berikan. Namun, jika tidak ada Amira maka Rendra tidak bisa melakukan apapun, hidupnya tidak lagi berdaya.


"Pak Bos, aku bahagia mengenalmu dan aku sangat bahagia berada di sekitarmu, jadi jangan pernah lagi mengatakan hal yang demikian karena aku tidak suka," ungkap Amira.


"Buk Bos, bagaimana kalau kita makan dulu, aku membawakan makanan yang dibungkuskan oleh Ibu untuk anak gadis kesayangannya, " ucap Rendra mengalihkan pembicaraan agar tidak terjadi perdebatan dan pertengkaran diantara mereka.


"Boleh, rasanya aku sudah rindu sekali makan masakan Ibu. Oh ya, bagaimana kalau kita makannya di pinggir gazebo itu?"


Amira menunjuk sebuah gazebo yang ada di pinggir jalan dengan pemandangan kebun teh yang menyejukkan mata.


"Oke, Buk Bos."


Rendra segera memarkirkan mobilnya karena ia juga ingin sekali beristirahat sejenak untuk menikmati pemandangan alam dan kesegaran udara kebun teh yang tidak dirasakan di Jakarta. Ya, mereka berhenti dan menikmati pemandangan kebun teh sembari menikmati bekal yang ibu bungkuskan.


"Tapi, Pak Bos, apakah kita tidak terlambat bertemu dengan investornya?"


Rasa khawatir dan trauma selalu ditolak oleh investor membuat Amira takut menyia-nyiakan waktu yang mereka miliki.


"Kita masih punya banyak waktu, Buk Bos, sang investor sekarang masih beristirahat, ia meminta bertemu dengan kita sore hari sampai jam makan malam," jelas Rendra.


"Ha, sampai malam? Kok nggak bilang?" tanya Amira heran dan kaget.


Ya, Rendra memang tidak mengatakan kepada Amira kalau investor mengubah jadwal sehingga mengharuskan mereka untuk menginap di Bogor.


"Maaf, Buk Bos, aku lupa!"


Dengan senyum tipis dan rasa bersalah Rendra meminta maaf kepada Amira.


Amira meninju-ninju lembut punggung Rendra hingga lelaki tampan itu merasa kesakitan.


"Sakit, Buk Bos, sakit!"


Teriakan keras Rendra tidak Amira pedulikan karena Amira sangat tahu kalau itu hanya trik Rendra untuk membuatnya berhenti.


"Sa-sakit, Buk Bos."


Kini suara Rendra terdengar melemah seolah menahan sakit yang teramat sangat sehingga Amira berhenti, sebuah pukulan keras berubah menjadi sebuah kekhawatiran.


"Pak Bos, kamu tidak apa-apa? Maaf, aku hanya bercanda."


Wajah Amira terlihat pucat dan sangat panik sekali karena Amira takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Rendra apalagi lelaki itu baru saja sembuh dari sakitnya dan Amira sangat tahu kalau tubuh Rendra saat ini masih lemah sekali.


Rendra kemudian menarik tangan Amira dan membawa gadis cantik itu ke dalam pelukannya. Rasa sayang dan kerinduan yang selama ini keduanya simpan dan tutup rapat-rapat akhirnya tertumpahkan karena debaran jantung keduanya berdetak sangat kencang sekarang. Ya, keduanya mungkin saja memungkiri perasaan masing-masing, tapi tidak dengan bahasa tubuh masing-masing, cinta keduanya tumbuh dan bersemi hingga hari ini.


"Buk Bos, apakah kamu merasakan debaran jantungku?"


"Buk Bos, aku tidak ingin ada lelaki lain yang mendekatimu karena kamu adalah milikku, calon istriku," ungkap Rendra tegas dan sangat meyakinkan.


Seperti terhipnotis, Amira mengangguk seolah membenarkan apa yang dikatakan oleh Rendra. Wajah tampan Rendra benar-benar membuat semua wanita yang menatapnya tidak ada yang bisa menolaknya.


"Pak Bos, apakah kamu bisa melepaskan ku?"


Amira berbicara pelan dengan nada suara bergetar, wajah Amira juga sangat bergetar seolah ia merasa sangat grogi berada dalam pelukan Rendra. Sementara Rendra, ia tersenyum melihat tingkah gadis yang sangat dicintainya itu.


"Lucu!"


Rendra mencubit hidung Amira dengan lembut karena ia merasa tingkah Amira itu teramat sangat lucu dan menggemaskan.


"Iih, sakit tahu!"


Amira mencubit pinggang Rendra hingga lelaki tampan itu mengaduh, tapi Amira tidak lagi memberi ampun kepada lelaki tampan itu. Hingga terjadilah adegan bercanda tawa antara dua insan yang sedang jatuh cinta dan berbunga-bunga itu.


"Buk Bos, udah dong!"


Teriakan Rendra tidak dipedulikan oleh Amira ia terus menggelitik pinggang Rendra hingga kini posisi Amira berada di atas Rendra.


Dak ..., dik ..., duk ....


Amira kembali merasakan debaran jantung Rendra sama dengan debaran jantungnya. Rasanya Amira ingin sekali memeluk Rendra untuk waktu yang lama dan mengatakan kepadanya kalau ia sangat bahagia berada di sisi Rendra, tapi rasa gengsi membuat Amira menahannya.


Amira ingin bangkit dan menjauhi Rendra, namun Rendra menarik tangan Amira dan membawa Amira kembali kedalam pelukannya.


"Buk Bos, kapan kita bisa menikah? Aku sudah tidak bisa hidup tanpamu!"


Rendra mengatakan perasaan hatinya kepada Amira, ia sangat ingin sekali menikah dan hidup berumah tangga dengan gadis cantik itu, tapi setiap Rendra mengungkapkan niatnya Amira selalu menolak. Entah apa yang sebenarnya yang dipikirkan oleh Amira, ia padahal mencintai Rendra namun ia belum bisa menikah dengan Rendra sekarang.


"Buk Bos, apakah ada lelaki lain yang kamu cintai?"


Rasa penasaran membuat Rendra terus bertanya kepada Amira, tapi ia tidak pernah mendapatkan jawaban apapun dari Amira.


"Pak Bos, kelak jika sudah waktunya kita akan menikah."


Jawaban singkat yang keluar dari lisan Amira sudah menjadi jawaban kalau Amira tidak ingin lagi membahas masalah pernikahan dengan Rendra.


"Pak Bos, aku lapar, bisa lepaskan aku?"


Amira menengadahkan wajahnya menatap Rendra dan berharap lelaki itu melepaskan tangannya dari pinggang Amira.


Ya, dengan lembut Rendra melepaskan tangannya dari pinggang Amira dan membuat gadis yang dicintainya itu duduk di sampingnya.


Amira adalah gadis yang memiliki harga diri dan kehormatan yang sangat tinggi, ia tidak akan tergoda dengan ketampanan Rendra, bahkan sesayang dan secinta apapun ia kepada Rendra, ia tetap menahan dirinya untuk tidak melakukan hal yang melebihi batas seorang sahabat dengan Rendra.


"Pak Bos, yuk makan!"


Dengan sikap cerianya, Amira memberikan makanan kepada Rendra, bahkan ia menyuapi Rendra dengan penuh cinta dan kasih sayang kepada lelaki tampan itu.


Rendra juga seperti terhipnotis, ia menurut saja dengan Amira dan jika Amira yang sudah meminta maka Rendra tidak akan bisa menolaknya.


"Buk Bos, kamu cantik!"


Pujian demi pujian yang dilontarkan oleh Rendra tidak akan membuat Amira bertekuk lutut dihadapan Rendra. Jujur, Amira memang berbunga-bunga dan merasa tersipu malu ketika Rendra memujinya, tapi Amira tetap menjaga dirinya untuk tetap bermain cantik dan elegant.


"Buk Bos, kamu berbeda dan aku belum pernah menemukan gadis sepertimu."