Crazy Boss

Crazy Boss
Jalan-Jalan Dengan Tania



Rendra menjadi berfikiran akan dia hal, yang pertama apakah Tania tertawa karena ia lucu seperti badut, yang kedua mungkin saja Tania menyukainya. Namun ada sedikit kekhawatiran di hati lelaki tampan itu, kenapa gadis cantik yang ada di depannya itu malah tertawa saat kakinya tengah sakit dan terluka.


Cantik!


Rendra tidak bisa berbohong sama sekali kalau Tania adalah gadis yang teramat sangat cantik dan sempurna. Ia memiliki bodi slim seperti biola, rambut tebal dan panjang, hidung mancung, bibir kecil dan tipis dengan bulu mata melentik. Tania adalah boneka barbie yang menggambarkan kecantikan yang sangat hakiki.


Ya, kecantikan dan pesona Tania membuat semua lelaki tidak akan pernah berani menolak Tania, termasuk Rendra. Bahkan, Rendra lupa kalau ia telah berjanji dengan ibunya dan juga Amira kalau ia akan menyusul ke kampung setelah semua urusannya di kantor selesai.


Tidak!


Ternyata Rendra menjadi lupa diri, ia tergoda dengan wanita.


Ya, harta, tahta dan wanita telah bertahta dan menguasai hati Rendra saat ini.


"Tania, apa aku selucu itu?"


Hanya itu kata-kata yang keluar dari lisan Rendra ketika seluruh tubuhnya saat ini gemetaran karena Tania menatapnya dengan sangat tajam.


"Mas, aku menyukaimu!"


Lagi dan lagi Tania mengungkapkan hati dan perasaannya kepada Rendra sehingga debaran jantung Rendra semakin tidak menentu.


Bagaimana tidak, wanita yang baru saja ia kenal dengan terang-terangan mengungkapkan cinta kepadanya. Jadi sebagai lelaki normal bagaimana mungkin Rendra tidak tergoda sama sekali.


'Perasaan apa ini? Kenapa aku seperti merasa kalau aku telah mengenal Tania sejak lama?' ungkap Rendra di dalam hatinya.


Rendra juga merasa sangat heran dengan dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia bisa sedekat sekarang ini dengan gadis yang baru saja ia kenal padahal selama ini Rendra sangat anti dengan perempuan kecuali Anandita, karena menutut Rendra, wanita hanya akan menghancurkan karir dan pekerjaannya saja.


"Mas, katanya ingin mengobati kakiku? Tidak jadi?"


Tania berbisik lembut di telinga Rendra hingga debaran jantung Rendra menjadi tidak karuan.


Lagi dan lagi, Rendra dibuat kikuk oleh sikap Tania. Semakin Tania menggidanya maka semakin berdebar tidak menentu perasaan Rendra.


"I-iya, maaf!"


Rendra segera bergegas mencari kotak P3K di mobil barunya, mobil yang diberikan oleh perusahaan kepadanya, namun Rendra tidak menemukan apa-apa.


Panik!


Rendra adalah seorang pria dengan hati yang teramat sangat lembut. Rasa pengiba dan ingin melindungi wanita membuat Rendra segera membanting stir mobilnya menuju klinik terdekat untuk mengobati kaki Tania karena ia tidak ingin Tania kenapa-napa.


Aneh memang, Rendra bersikap sangat baik dan berbeda kepada Tania, bahkan ia melakukan kebiasaan diluar kelakuannya setiap hari.


"Mas Rendra!"


Tania menatap Rendra yang kini sedang serius menyetir. Namun, Rendra hanya menatap datar dan lurus ke depan seolah tengah memikirkan atau mengkhawatirkan sesuatu, entah itu Tania atau mungkin ibunya dan Amira yang kini sedang berada di kampung halaman.


"Mas Rendra!" Panggil Tania sekali lagi, kali ini dengan menyentuh pundak Rendra yang tengah serius menyetir.


"Eh, i-iya, Buk Bos, kenapa?"


Rendra gugup, hingga salah berucap. Ternyata dalam pikiran Rendra saat ini adalah Amira, gadis baik yang saat ini tengah menunggunya.


Ya, bagaimanapun cantik dan sempurnanya Tania, tetap tidak akan pernah menggantikan posisi Amira di hati Rendra, meskipun sampai saat ini baik Rendra ataupun Amira belum menyadari perasaan mereka masing-masing.


"Buk bos? Maksudnya?"


Tania heran dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Rendra, Tania menatap Rendra dengan tatapan curiga penuh dengan sejuta tanda tanya, karena ia adalah rekan kerja Rendra bukan bosnya.


Ya, secantik apapun Tania tidak akan membohongi hati Rendra yang saat ini tengah memikirkan Amira. Namun, tetap saja naluri lelakinya Rendra membuat ia tidak mengakui apa isi hatinya yang sesungguhnya.


'Apakah ibu dan Amira baik-baik saja di kampung?' ucap Rendra di dalam hati.


"Mas aku ingin jalan-jalan dan makan di pinggir pantai, apakah kamu bisa mengantarkan aku?" ucap Tania tiba-tiba.


Entah apa yang ada dipikiran Tania saat ini, hingga ia tanpa segan meminta Rendra mengajaknya ke pantai.


Rendra bimbang dan dilema.


Ingin menolak, namun Tania adalah model yang akan membantunya pada proyek yang sedang ia pegang selama ini. Tapi jika ia menerima tawaran Tania, otomatis ia tidak bisa cepat sampai di kampung dan menemui ibunya dan Amira.


"Mas," pinta Tania sembari menatap Rendra dengan sorot mata yang sangat menggoda sekali.


"Tapi, kakimu sakit,kita harus mengobatinya terlebih dahulu." ujar Rendra dengan nada suara bergetar dan terdengar sangat kikuk sekali.


Tania kemudian menggenggam tangan Rendra dengan lembut, hingga jantung Rendra kembali berdetak tidak menentu. Bahkan seluruh tuhuhnya bergetar hingga keluarlah peluh dinginnya.


"Tania, aku sedang menyetir!" ucap Rendra gugup dengan debaran yang sangat luar biasa sekali.


"Kakiku tidak sakit, Mas! Aku hanya ingin jalan-jalan."


Tania merengek manja hingga Rendra tidak kuasa menolak keinginan gadis cantik itu. Ya, bukan Rendra namanya jika ia tidak peduli dengan orang lain, apalagi wanita itu adalah gadis cantik yang dalam hitungan detik telah berhasil mencuri hati dan perasaannya.


Rendra tidak ingin jalan-jalan sebelum mengobati luka Tania.


"Please, Mas!"


Tania mengaitkan kedua tangannya sembari terus merengek sampai Rendra mengangguk dan berkata iya.


"Baiklah, tapi kita harus mengobati kakimu terlebih dahulu. Kita akan melakukan proyek besar bersama, jadi aku tidak ingin kaki kamu sakit dan terluka seperti itu," ungkap Rendra tanpa menatap Tania sama sekali, karena ia terlalu grogi jika menatap gadis cantik itu.


"Terima kasih, Mas," ucap Tania dengan senyum semeringah yang tergambar jelas di wajah cantiknya.


Selang beberapa menit kemudian, Rendra singgah di sebuah klinik sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke pantai sesuai dengan keinginan Tania. Rendra mengobati kaki Tania sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan mereka ke sebuah pantai yang berada di pinggir kota Jakarta.


"Mas, kamu tahu, kalau aku sangat suka sekali dengan pantai," ungkap Tania.


Ucapan Tania malah membuat Rendra kembali teringat dengan Amira, karena pantai adalah tempat favorit Amira.


"Mas, Mas, kita sudah sampai!"


Lagi dan lagi Tania mengejutkan Rendra dari lamunannya.


"Eh, i-iya, Buk Bos," jawaban spontan yang keluar dari lisan Rendra membuat raut wajah Tania sedikit berubah.


"Mau parkir dimana, Tania?" tanya Rendra yang terdengar seperti mengalihkan pertanyaan Tania.


"Itu di sana!" tunjuk Tania pada sebuah cafe dengan pemandangan pantai yang strategis.


Ya, Rendra dan Tania akhirnya sampai di sebuah pantai yang sangat indah di pinggir kota, pantai yang menyajikan pemandangan dan keindahan alam yang mempesona hingga membuat Rendra lupa kalau ibunya dan Amira sedang menunggunya di kampung halamannya.


"Mas, yuk main air laut!"


Tania langsung menarik tangan Rendra dan tidak membiarkan Rendra sedikitpun bersikap cuek atau tidak mengkhawatirkannya.


'Ibu, Buk Bos, tunggu aku di kampung sebentar lagi!' ucap Rendra di dalam hati sembari berlari mengikuti Tania.