Crazy Boss

Crazy Boss
Ungkapan Perasaan



Sungguh, Rendra benar-benar sangat jatuh cinta sekali dengan Amira, tidak ada wanita yang benar-benar membuatnya terklepek-klepek sedikitpun selain Amira karena Amira benar-benar wanita berkelas yang sangat pantas dijadikan istri. Ya, walaupun sebelumnya Rendra pernah terjebak dalam perangkat Tania.


"Pak Bos, apa sebenarnya yang ingin kamu ketahui dariku? Kenapa sedari tadi kamu memujiku?"


Kini giliran Amira yang mengajukan pertanyaan dengan gaya santainya.


Amira kemudian mencicipi buah apel yang sudah dipotong-potong oleh ibu Rina, buah yang disukainya dan buah yang selalu dibekali oleh ibu Rina untuk Amira karena beliau tahu Amira sangat menyukainya.


"Buk Bos, kamu begitu banyak rahasia, aku tidak tahu sama sekali tentang kamu, sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu hadir dalam kehidupanku?"


Dari sejak lama Rendra ingin sekali bertanya dan mengetahui banyak hal lagi tentang kehidupan Amira, namun Amira tidak pernah menjawabnya karena Amira tidak ingin membahas masalah pribadinya dengan Rendra walaupun Rendra adalah lelaki yang dicintainya.


Amira memiliki kehidupan keluarga yang pelik jadi ia menutup rapat tentang masa lalunya, namun Amira belum siap meceritakan semua tentang dirinya kepada Rendra karena menceritakan masa lalu sama saja dengan membuka kembali luka yang ada di dalam hatinya.


"Pak Bos, tolong jangan memaksaku, aku akan menceritakan semuanya setelah aku siap, sekarang habiskanlah makanannya karena aku ingin cepat sampai di hotel, aku capek dan aku ingin beristirahat."


"Tapi aku masih ingin disini, udaranya sangat segar disini."


Rendra merengek seperti seorang bayi yang ingin sekali keinginannya dikabulkan.


"Terserah kamu saja!"


Amira kemudian berjalan meinggalkan Rendra, menelusuri setiap sudut kebun teh sembari menikmati udara segar yang menyejukkan.


Amira menutup matanya, membentangkan tangannya dan menghirup udara yang terasa sangat segar itu hingga perasaannya menjadi lebih baik dan lebih tenang sekarang.


Dingin!


Ya, udara dingin kebun teh tidak membuat Amira berenti menghirup udara segar, ia tetap menikmati udara segar itu hingga perasannya menjadi tenang.


"Buk Bos, aku mencintaimu!"


Rendra tiba-tiba memeluk Amira dari belakang serta mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayangnya kepada Amira. Entah apa yang dipikirkan oleh Rendra saat ini tapi ia terus saja memeluk dan mengungkapkan cinta kepada Amira.


"Pak Bos, tolong lepaskan aku! Jangan melewati batas!"


Amira bukannya tidak suka Rendra memeluknya, bahkan ia ingin membalas pelukan itu dan mengatakan kepada Rendra kalau ia juga sangat mencintai Rendra, namun saat ini ia tidak ingin memberikan harapan apapun kepada Rendra.


'Maafkan aku, Pak Bos, restu Papa jauh lebih berharga sekarang dari pada sebuah harapan seperti ini,' ungkap Amira di dalam hati.


Kring ..., kring ..., kring ....


Tiba-tiba ponsel Rendra berbunyi, dengan berat hati Rendra melepaskan tangannya dari memeluk Amira kemudian mengangkat panggilan teleponnya yang berbunyi.


[Selamat siang, Pak, saya Bian, saya adalah sekretaris pribadi Bapak Andrean]


[Siang, iya Pak Bian, apa yang bisa saya bantu?]


[Bapak Andrean saat ini sedang perjalanan menuju ke kebun teh, katanya ia ingin sekali menginap di villa sekitar puncak, apakah Bapak ada rekomendasi tempat penginapan yang bagus? Kalau bisa yang tidak mewah tapi unik]


Rendra menatap Amira, tatapan yang mengisyaratkan kalau ia meminta bantuan Amira sekarang, karena mungkin saja Amira memiliki rekomendasi tempat yang sangat bagus.


Ya, Amira mengangguk sebagai tanda kalau ia benar-benar memiliki ide dan tempat terbaik untuk menginap.


[Baiklah, Pak Bian, saya akan memberikan kabar dan dimana lokasi villanya setengah jam dari sekarang]


Rendra bersemangat sekali mencari villa yang bagus untuk pak Andrean, karena ia merasa kalau ini akan menjadi peluang besarnya untuk bekerjasama dengan pak Adrian.


"Sini!"


Amira menarik tangan Rendra dan membawa lelaki itu ke suatu tempat dengan pemandangan alam yang sagat indah. Ya, sebuah Villa sederhana yang tidak akan pernah dijumpai di kota besar karena pemandangan alam yang sejuk dan alami sekali.


"Buk Bos, kamu tahu tempat ini dari mana?"


"Aku pernah melihatnya di sosial media dan aku sangat ingin sekali kesini," jelas Amira dengan tatapan yang tidak lepas dari villa.


"Akhirnya kita bisa nginap disini 'kan?"


Rendra merasa sangat senang dan bahagia karena selain mewujudkan keinginan investor tapi juga mewujudkan keinginan Amira, gadis yang sangat dicintainya.


Setelah mengurus administrasi dan memberitahukan lokasi villa kepada investor, Amira dan Rendra merasa sangat senang dan bahagia.


Lega!


Rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan investor dan memberitahukan kepada investor tentang bisnis yang akan mereka jalani.


"Pak Bos, yuk kita lihat kedalam yuk!"


Dengan bersemangat dan merasa sangat bahagia, Amira menarik tangan Rendra untuk mengelilingi villa yang merupakan villa impan Amira itu, jadi mau tidak mau Rendra harus menurut.


"Buk Bos, apa kamu bahagia?"


"Tentu saja aku sangat bahagia, karena akhirnya aku bisa liburan dan menginap di villa dengan suasana kampung seperti ini."


Aneh!


Rendra menatap aneh kepada Amira, bagaimana mungkin gadis yang berasal dari kampung begitu menginginkan dan berbahagia menginap di villa dengan suasana kampung, bukankah gadis kampung harusnya menginginkan suasana mewah sama seperti dirinya. Namun, Rendra tidak lagi mempedulikan dan mempertanyakan itu lagi kepada Amira karena yang terpenting bagi Rendra adalah kebahagian Amira.


"Pak Bos, suasana di kampung kamu seperti ini 'kan?" tanya Amira dengan senyum menawan yang terlihat sangat indah sekali di mata Rendra.


"Pak Bos, kok bengong, aku nanya," ungkap Amira sembari menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Rendra yang tidak berkedip dari menatap wajahnya.


"Pak Bos, Pak Bos," ungkap Amira sekali lagi.


Rendra mengangguk dan tidak berkata apa-apa karena bagi Rendra, Amira jauh lebih menarik dari pada villa atau apapun.


"Pak Bos, jangan menatapku seperti itu nanti kamu kecewa dengan harapanmu yang terlalu tinggi."


Amira tahu kalau Rendra sangat mencintainya dan menginginkannya menjadi istrinya tapi Amira takut membuat Rendra kecewa. Papa Amira bukanlah orang yang mudah ditaklukkan, beliau bisa saja menghancurkan Rendra dengan mudah jika mereka salah-salah dalam bertindak.


"Buk Bos sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang kemu sembunyikan dariku? Kenapa sikapmu selalu berbeda ketika aku membahas tentang hubungan kita ke depan?"


"Yang pelu kita lakukan sekarang adalah mengembangkan bisnis kita kembali, kalau kita bedua telah sukses maka aku akan memberitahukan semuanya kepadamu termasuk tentang hidupku dan apapun yang ingin kamu pertanyakan kepadaku."


"Baiklah jika itu yang Buk Bos inginkan."


Rendra kemudian duduk di kursi yang berada di teras villa dengan menyajikan pemandangan alam pucak yang teramat sangat indah dan menyejukkan mata.


Sebuah daerah yang membuatnya ingat tentang masa lalunya bersama keluarganya, tentang ayahnya yang bekerja keras membanting tulang untuk menyekolahkannya hingga ia sukses sampai sekarang. Ya, Rendra pernah berjanji kepada ayahnya kalau ia akan membuat ayahnya bangga dengan dirinya dan salah satu hal yang membuat ayahnya bangga adalah dengan bangkit kembali dari keterpurukan.


"Pak Bos, aku kan membuatkan teh untukmu!"


Amira pergi ke dapur dan memanaskan air, menyajikan teh dan snack untuk ia nikmati berdua dengan Rendra.


Impian Amira adalah menghabiskan waktu berdua dengan Rendra seperti ini, impian yang dulu tidak sempat menjadi kenyataan karena Rendra memilih bersama dengan gadis lain.


"Buk Bos, aku bantuin ya!"


"Tidak usah, kamu duduk manis saja di sana."


Amira ingin menghidangkan dan menyajikan untuk Rendra, karena ia ingin belajar menjadi seorang istri yang baik untuk Rendra. Namun ada ketakutan dan kerisauan di dalam hatinya tentang restu papanya.


'Apakah Papa bisa menerima Rendra sebagai menantunya? Bagaimana jika kami gagal bekerjasama dengan investor ini? Apakah kepercayaan Papa kepadaku dan Rendra akan semakin berkurang? Bagaimana jika Papa mencegah investor untuk datang kesini?'