
Kata-kata kampung yang Rendra lontarkan mengingatkannya kepada Amira dan ibunya yang saat ini sedang berangkat menuju kampungnya berdua saja tanpa ia temani. Ada rasa bersalah di hati Rendra hingga hatinya merasa tidak nyaman.
'Buk Bos, maafkan aku karena tidak bisa mengantarkanmu dan Ibu ke kampung, tapi aku akan segera menyusul,' batin Rendra dengan rasa bersalah yang ia bawa bersamanya.
"Rendra, Rendra!"
"Iya, Pak, kenapa, Pak?" jawab Rendra kikuk.
"Kamu kenapa lagi Rendra? Apa yang kamu fikirkan? Apa kamu panik nanti tidak bisa berlenggak-lenggok di altar? Tenang Ren, ada Tania yang akan membantumu," jelas pak Haris.
"Bukan masalah itu, Pak, saya akan mencarikan model terbaik untuk Bapak nantinya," ungkap Rendra namun dengan wajah yang terlihat tengah memikirkan banyak hal.
"Saya ingin kamu yang menjadi model dan Tania yang akan mengajarimu!"
Titah pak Haris tidak lagi bisa ditolak oleh Rendra, karena sebagai seorang bawahan tugasnya adalah melakukan apa saja yang diperintahkan oleh atasannya.
"Mas Rendra, kenapa wajahnya kusut begitu? Apakah kamu tidak suka bekerjasama denganku?" timpal Tania.
"Bukan seperti itu, saya hanya teringat dengan orang tua saya yang saat ini sedang dalam perjalanan ke kampung," ujar Rendra sembari menunduk.
Jika menyangkut dengan orang tua, maka Rendra akan lemah. Ia akan bersedih jika ia tidak mampu membahagiakan orang tuanya. Ia juga akan menjadi sangat kuat untuk melindungi orang tuanya jika ia melihat ada orang yang semena-mena terhadap orang tuanya. Ya, ia akan menjadi garda terdepan untuk orang-orang yang ia sayang.
"Rendra, maafkan saya karena memintamu datang ke kantor saat kamu sedang berduka. Harusnya kamu memang menemani Ibumu," ungkap pak Haris dengan rasa bersalah yang ia bawa bersamanya.
"Karena kami berdua telah sepakat untuk bekerjasama dan Rendra juga telah bersedia menjadi seorang model, bagaimana kalau Om biarkan Rendra pulang untuk hari ini?"
Entah apa yang meracuni Tania, ia langsung meminta izin kepada pak Haris mewakili ungkapan hati Rendra saat ini.
"Baiklah, kalau begitu Rendra sudah boleh pulang cepat dan untuk untuk hari ini juga kamu tidak usah memikirkan pekerjaan apapun, pergilah karena Ibumu tengah menunggumu."
Pak Haris bersikap baik dan membekali Rendra dengan peratah petitih yang terdengar seperti sebuah nasehat berharga untuk Rendra.
"Terima kasih banyak, Pak, sekali lagi Terima kasih banyak."
Rona wajah kesedihan yang muncul di wajah Rendra akhirnya berubah menjadi senyum kebahagiaan yang tergambar jelas di wajah.
"Sekarang pergilah! Susul lah Ibumu di kampung," ujar pak Haris sembari memberikan kunci mobil untuk Rendra.
"Apa ini, Pak?"
"Pakailah, itu adalah hadiah perusahaan yang kami berikan kepada kamu karena prestasi yang kamu miliki, jangan menolak!" titah pak Haris.
"Saya tidak pantas menerimanya, Pak."
"Ambillah tapi dengan satu syarat!"
"Syarat? Apa, Pak?"
Rendra sebenarnya ingin sekali menolak hadiah yang diberikan oleh pak Haris secara cuma-cuma kepadanya, namun sebagai seorang staf yang baru saja mendapatkan kepercayaan dari atasannya, tidak sopan rasanya Rendra menolak pemberian itu.
"Kamu tidak boleh menolak untuk menjadi model sebagai pasangan Tania pada acara fashion show kita beberapa bulan lagi."
Sepertinya pak Haris telah punya keyakinan penuh untuk menjadikan Rendra sebagai modelnya.
"Saya setuju menjadi model, hanya saja memberikan saya mobil adalah hal yang berlebihan, Pak."
"Rendra, kamu sekarang adalah sekretaris pribadi dan Pak Santoso yang meminta saya memberikan mobil ini kepada kamu karena sekarang kamu bekerja dengan saya, kamu juga akan menjadi seorang model, tidak mungkin lagi kamu memakai sepeda motor seperti itu. Maaf, bukannya saya merendahkan kamu karena memakai sepeda motor, tapi sekarang keadaan kamu sudah berbeda. Jika kamu merasa tidak pantas menerimanya, maka kamu berikanlah hasil terbaik untuk perusahaan kita."
Ucapan pak Haris membuat Rendra terdiam dan tidak lagi bisa berkata apa-apa lagi, tidak bisa menolak lagi, yang bisa dilakukan hanya diam dan menerima keputusan itu.
"Ren, saya punya satu syarat lagi nih?"
Pernyataan pak Haris membuat Rendra merasa khawatir, ia takut tidak bisa lagi memenuhi syarat yang akan diajukan oleh pak Haris.
"Apa, Pak?" ucap Rendra gugup.
"Sekarang kamu pulanglah dan susul Ibumu ke kampung. Namun, karena kamu dan Tania harus membangun chemistry maka saya ingin Tania ikut dengan kamu ke kampung."
Rendra terbelalak dengan apa yang di sampaikan oleh pak Haris, ia tidak percaya jika permintaan pak Haris membuat jantung Rendra berdetak hebat tak menentu.
"Kamu butuh teman untuk menemani kamu mengemudi," lanjut pak Haris.
Rendra tahu kalau apa yang dikatakan oleh pak Haris benar adanya, apalagi Rendra belum terlalu pandai mengemudi dengan jarak yang sangat jauh. Jadi Rendra memang membutuhkan seorang teman yang menemaninya menyetir.
"Mas Rendra, aku boleh 'kan ikut ke kampungmu? Aku tidak pernah ke kampung dan aku sangat ingin sekali menikmati segarnya udara pedesaan."
Tania menatap Rendra serius, dari sorot matanya terlihat sekali kalau ia sangat ingin sekali ikut pergi bersama Rendra. Ya, mereka mungkin saja baru mengenal beberapa menit yang lalu, namun keduanya merasakan kedekatan seolah telah mengenal sangat lama.
"Boleh 'kan, Mas?" tatap Tania tajam penuh pengharapan.
Rendra mengangguk, ia luluh mantan dengan panggilan yang keluar dari lisan Tania, hingga membuat wajah lelaki tampan itu memerah dengan jantung yang berdebar sangat hebat luar biasa.
"Sekarang kalian berangkatlah, urusan kerjaan hari ini serahkan saja sama saya," ujar pak Haris dengan senyuman.
Dengan malu-malu Rendra dan Tania keluar dari ruangan kerja pak Haris dengan perasaan sama-sama salah tingkah.
Langkah demi langkah yang dilalui, hanya ada diam dan kebisuan yang menemani perjalanan mereka. Bahkan, Rendra mengikuti langkah kaki Tania yang lambat karena sakit.
"Aduh!"
Tania mengaduh karena ia hampir saja terjatuh karena kakinya masih sakit.
"Tania, kamu tidak apa-apa?"
Dengan sigap, Rendra langsung menggenggam tangan Tania kemudian memegang pinggang Tania yang sangat langsing.
Tania menengadahkan wajahnya menatap Rendra yang memang lebih tinggi darinya.
Rendra juga menatap Tania dengan tatapan iba, hingga dua pasang bola mata itu saling berpandangan layaknya film-film India.
"Tania, apa kamu yakin ingin ikut ke kampung denganku? Apa luka kamu tidak perlu diobati?"
"Tidak usah, Mas, hanya luka biasa saja."
Jawaban lembut dari bibir tipis dengan senyum manis yang terlihat mempesona itu membuat siapapun yang memandang Tania pasti akan langsung jatuh cinta.
"Tania, apa aku boleh menggendong mu?"
Kali ini Rendra tidak lagi bersikap sesuai dengan keinginannya sendiri, melainkan meminta izin kepada Tania dan menunggu Tania memberikan izinnya.