
Rendra kemudian berjalan mendekati Amira, ia jongkok di samping Amira sembari menatap ke arah batu nisan.
Alisa juga melakukan hal yang sama, dengan langkah kaki berat dan seluruh tubuh gemetaran, Alisa berjalan mendekati makam sang mama dan jongkik di sisi sebelah lainnya, berlawanan arah dengan sang papa. Sementara itu Rendra, lelaki tampan itu memilih untuk berdiri di samping Amira, karena ia sangat tahu kalau sang kekasih saat ini sangat membutuhkan dirinya.
"Mama, Amira datang bersama calon suami Amira, namanya Rendra."
Amira menatap sembari membelai batu nisan seolah sedang berhadapan dan berbicara dengan mamanya. Dengan Raut wajah sedih, Amkra memperkenalkan calon suami yang sangat ia cintai kepada mamanya.
Amira kemudian menatap ke arah Rendra yang saat ini sedang berada di sampingnya, ia berisyarat kalau Rendra sebaiknya memperkenalkan dirinya kepada sang Mama.
"Assalamuaaikum, Ma, perkenalkan nama saya Rendra dan saya adalah calon suami Amira," ungkap Rendra dengan ucapan yang sangat lembut dan terdengar sangat sopan sekali.
"Mama, Rendra adalah lelaki terbaik pilihan Amira, lelaki yang mencintai dan menyayangi Amira dengan sangat tulus dengan segala kekurangan dan kelebihan yang Amira miliki, lelaki yang rela melakukan apa saja untuk Amira dan lelaki seperti yang Mama pesankan kepada Amira, lelaki yang baik agamanya dan dari keluarga yang sangat baik, yang memperlakukan Amira dengan sangat baik," ucap Amira memuji dan membanggakan Rendra di depan mama dan papanya.
'Tante, saat ini dihadapan Tante ada Rendra. Rendra berjanji akan menjadi lelaki yang mencintai dan menyayangi Amira dengan sangat tulus, memperlakuakannya dengan sangat baik dan menjadikannya satu-satunya ratu di hati Rendra.'
ucap Rendra di dalam hati, berjanji dengan janji seorang lelaki yang terdengar benar-benar sangat tulus diungkapkannya.
Rendra kemudian memberanikan dirinya mendekati Amira dan mamanya.
"Assalamualaikum, Tante, saya Rendra, calon suami Amira," ucap Rendra serius seolah sedang berbicara dengan orang yang ada di depannya.
"Ma, ini Rendra, apakah Mama suka dengan lelaki ini?" ujar Amira lembut.
"Tentu saja Tante setuju karena kami berdua akan memberikan dua belas cucu untuk Mama," ujar Rendra yang tidak mau kalah.
"Ha? dua belas?"
Amira ternganga dengan mata melot. Ia kaget dengan yang disampaikan oleh Rendra, karena Rendra seperti ingin membuat tim kesebelasan.
"Iya, Nak, Papa juga setuju dengan rencana Rendra, kalian punya banyak anak saja, pasti itu yang Mama katakan," ujar Rendra dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.
Rendra tersenyum tipis dan geli hingga membuat Amira merasa teramat sangat malu sekali. Ya, Amira langung beranjak, ia duduk menjahi Rendra sehingga sikap manisnya membuat Rendra tertawa geli.
"Kenapa pada ketawa sih?"
"Sayang, kamu lucu!"
Rendra tertawa terbahak-bahak, menujukkan betapa bahagianya ia saat ini.
"Emang aku badut, dibilang lucu!"
Amira memasang wajah cemberut dengan mulut yang dimanyunkan dengan sejuta rasa kesal yang ia bawa bersamanya.
"Sayang, jangan ngambek gitu, nanti makin jelek loh," goda Rendra dengan senyum lepas yang tergambar indah di wajah tampan Rendra.
Sebenarnya, jauh dari lubuk hati Amira yang paling dalam, ia sangat senang melihat orang yang sangat ia sayang bisa senyum dan berbahagia, namun sebagai wanita Amira menjaga gengsinya.
"Biarin jelek."
Amira mencibir kemudian memalingkan wajahnya dari Rendra. Amira menghadap ke arah berlawanan dengan Rendra.
Amira kemudian teringat dengan mamanya, ia yakin kalau saat ini mamanya pasti merasa sangat senang dan bahagia sekali melihat putri kesayangannya.
'Ma, apa Mama bisa melihat kebahagiaan Amira dan Rendra sekarang? Amira ditemani oleh seorang lelaki yang sangat baik yang tidak lain adalah calon suami Amira. Andai Mama bisa bertemu dengan Rendra tentu saja Mama akan langsung menyukainya pada pandangan pertama karena Rendra adalah lelaki sempurnya dengan cinta yang teramat sangat tulus untuk Amira, ia juga rela melakukan apa saja demi kebahagiaan Amira.'
Amira berbicara di dalam hati sembari memandang langit cerah seolah ia sedang berbicara dengan mamanya yang ada di atas sana.
Amira awalnya merasa sangat gugup untuk turun dari mobilnya, ia teramat sangat grogi memperkenalkan Rendra sebagai calon suaminya, namun ternyata Rendra bisa mencairkan suasana tanpa banyak bertanya.
Amira sangat merindukan masa di mana ia dan papanya datang berkunjung ke makan sang mama dengan membawa doa yang sangat tulus, namun sejak Amira dan papanya bersitegang dan tidak akur maka Amira sering mengunjungi mamanya sendirian terlebih lagi Amira selalu menyembunyikan cerita tentang keluarga dan orang tuanya kepada orang lain termasuk Rendra, jadi selama ini Amira menanggung beban dan kesedihannya sendiri.
Ya, Amira adalah anak satu-satunya di keluarganya yang sangat dicintai dan disayangi oleh kedua orang tuanya, terlebih lagi sang mama dan Amira sangat dekat sekali sehingga ketika sang mama meninggal, Amira menjadi sangat terpuruk sekali, bahkan Amira hampir stres karena tidak sanggup hidup tanpa mamanya, terlebih lagi saat papanya memilih untuk menikah lagi, Amira merasa benar-benar sendiri dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang membantunya hingga akhirnya ia kabur dari rumah dan mencoba hidup mandiri. Hidup dengan keterbatasan hingga akhirnya bertemu dengan Rendra dan keluarganya. Diperlakukan sangat baik seperti keluarga sendiri membuat Amira merasa sangat nyaman berada di antara Rendra dan keluarganya.
"Sayang, kamu menangis?" tanya Rendra ketika melihat Amira sedang menitikkan air mata.
Rendra merasa sangat iba dan kasihan melihat gadis cantik yang sangat ia cintai dan sayangi dengan segenap hati dan perasaannya itu terlihat sangat sedih dan hancur sekali walaupun Rendra mendengar kalau mama Amira telah meninggal sejak lima tahun yang lalu. Ya, Rendra sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh Amira sekarang karena ia juga merasakan bagaimana sedih dan sakitnya hati ketika kehilangan orang tua yang sangat dicintai, bahkan walaupun waktu telah jauh berlalu tidak akan membuat kesedihan dan kerinduan kepada orang tua yang telah tiada semakin memuncak karena sosok yang sangat dirindukan sudah tidak lagi bisa ditemui untuk melepaskan kerinduan itu. Ya, sosok orang tua adalah separuh nafas bagi sang anak, jadi kehilangan salah satu orang tua membuat hidup sang anak yang ditinggalkan menjadi sangat hampa dan sangat kesepian.
"Sayang, di hadapan Mama, aku ingin melamarmu secara langsung dan resmi walaupun belum ada cincin tunangan, apakah kamu mau menjadi calon istriku?" ucap Rendra sembari menggenggam tangan Amira dan menatap wajah cantik Amira dengan tatapan serius.