Crazy Boss

Crazy Boss
Malam Terindah Bersama Kesayangan



"Ibu dan Amira ingin menginap disini dan rasanya Ibu sangat ingin sekali bisa menikmati kesejukan alam malam hari sembari membakar api unggun bersama kopi dan jagung bakar," jelas ibu dengan wajah yang terlihat sangat berbunga-bunga, seperti seorang remaja yang sedang kasmaran saja.


"Ibu, bukannya tadi Ibu yang mengatakanuah kalau Amira harus segera diantarkan pulang?" ujar Rendra yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diinginkan oleh ibunya.


"Aku masih ingin disini, Sayang," sela Amira dengan nada suara lemah namun masih bisa didengar oleh Rendra dengan sangat jelas, apalagi Amira menggunakan kata-kata sayang yang terdengar sangat lembut dan mesra sekali di telinga Rendra.


Ya, Amira dan ibu Rina menyampaikan niat hati untuk jalan-jalan di Bandung kepada Rendra.


"Baiklah, kalau begitu sekarang kalian semua istirahatlah, biar Tante yang menyiapkan semuanya," ucap sang bibi yang juga tidak kalah bersemangat.


Ya, akhirnya semua rencana mendadak itu terealisasi dengan baik. Dengan persiapan seadanya akhirnya Rendra dan keluarga menggelar acara api unggun di depan villa.


"Ibu, Amira senang sekali bisa ke Bandung dan menikmati malam disini, karena dulu Amira dengan kedua orang tua Amira sering liburan ke Lembang, menikmati pemandangan alam sembari memanen stroberi segar langsung dari batangnya, dan rasanya benar-benar sangat luar biasa sekali bahagianya.


"Sayang, di sekitar villa ini ada kebun stoberi, jadi kamu bisa panen stoberi sepuasnya, Nak," sela sang bibi yang ikut senang melihat kebahagiaan hati Amira.


"Serius, Tante? Apakah Amira boleh panen stroberi sepuasnya?" tanya Amira dengan wajah bahagia yang terlihat sangat antusias sekali.


"Iya, Sayang, Tante dan Ibu akan menemanimu, Nak!"


Amira langsung meneteskan air mata karena merasa sangat bahagia sekali memiliki calon mertua yang sudah seperti mama kandungnya, sehingga sedikit kerinduannya kepada sang mama bisa terobati.


"Oh iya, Amira suka masakan apa? Tante juga bisa masakin masakan kesukaan Amira," ucap sang bibi begitu bersemangat.


"Amira suka makan apapun yang Tante dan Ibu masak, karena Amira sangat yakin kalau masakan Tante pasti enak, seperti masakan Ibu," ungkap Amira yang membuat hati ibu dan tantenya Rendra berbunga-bunga karena pujiannya.


"Sayang, kamu bantuin Ibu masak nanti, karena impian Ibu adalah bisa masak-masakan dengan anaknya," timpal Rendra yang sangat tahu sekali impian sang ibu.


Sebagai seorang anak, Rendra sangat paham dan mengerti kalau selama ini ibunya sangat menunggu dan mengidam-idamkan momen indah bersama anak perempuan, tapi semua harapan dan keinginan itu tidak lagi bisa terwujud karena anak perempuannya sudah tidak lagi ada di dunia ini, ia pergi ke surga dimana ia akan bahagia dan kekal di sana.


"Ibu, Amira asti akan bantuin Ibu kok," jelas Amira bersemangat.


"Ra, Ibu sangat senang banget mendengarnya."


Amira, ibu dan bibinya Rendra terlihat sangat akrab sekali, bahkan saking akrabnya Amira lupa kalau saat ini Rendra cemburu dengan kedekatan itu, karena Rendra merasa tersaingi.


"Ibu, Tante, apakah Ibu dan Tante mau mengajarkan Amira memasak?"


Amira dulu sering sekali diajak dan diajarkan memasak oleh mamanya, namun terkadang Amira terlalu malas ke dapur karena memilih bermain dengan teman-temannya, sehingga sekarang Amira merasa menyesal setelah kehilangan mamanya.


Ya, jika Amira diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk belajar dan menghabiskan waktu dengan ibu dan bibinya Rendra, maka Amira tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu sama sekali.


"Iya, Nak, mana mungkin kami menolak keinginan anak kesayangan kami," ujar ibu Rina dengan senyum indah yang terlihat sangat menawan sekali.


Ya, sejak pertama bertemu sampai seaat ini sudah tidak lagi ada dekat antara ibu Rina dengan Amira, karena Amira bukan lagi sebagai calon menantunya tapi sebagai anak kandungnya sendiri.


"Ibu,, sejak kapan Amira menjadi anak Ibu?"


Rendra protes dan tidak terima jika sang mama lebih menyayangi Amira dari pada dirinya. Bahkan walaupun Amira adalah calon istrinya, tetap saja Rendra tidak suka jika ia harus berbagi kasih sayang ibunya.


"Mulai sekarang Amira akan menjadi anaknya Tante juga."


sang bibi memeluk Amira, kemudian Amira mencibir ke arah Rendra sehingga membuat Rendra merasa kesal. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Rendra selain mengalah karena rasa cinta dan kasih sayang yang teramat sangat kepada Tania membuat Rendra tidak ingin melakukan apapun selain diam dan menerima saja.


Ya, Rendra ingat apa yang dikatakan oleh ibu dan bibinya, kalau seorang wanita adalah makhluk yang sangat unik sekali, yang harus dimengerti dan dipahami oleh laki-laki, sehingga Rendra memilih belajar mengalah agar hubungannya dengan Amira tetap baik-baik saja dan hubungan mereka aman terkendali.


"Sayang, jangan marah ya, aku tidak ada niat mengambil Ibu dan Tante dari kamu, aku hanya ingin untuk sesaat meminta kasih sayang dari Ibu dan Tante, jadi bisakah kita berbagi?"


Amira memasang wajah memelas dengan mata yang penuh dengan harapan, sikap manja yang membuat Rendra tidak akan tega melihat kekasihnya itu.


"Sayang, tidak apa-apa kok, Ibu dan Tante aku adalah orang tua kamu juga, 'kan kita sebentar lagi akan menikah."


Hari demi hari Rendra terlihat berbeda, ia sering sekali mengalah dan mengatakan hal-hal yang baik dengan nada suara lembut, sangat kauh berbeda dengan Rendra yang selalu bersikap semena-mena kepada Amira ketika di kantor. Ya, cinta benar-benar bisa membuat seseorang berubah menjadi berbeda alias budak cinta atau dikenal dengan istilah bucin.


"Sayang, ternyata kamu telah dewasa," timpal ibu Rina sembari menatap mata putra kesayangannya.


Ibu Rina sangat mengenal putra kesayangannya, sang putra adalah lelaki yang penyayang kepada wanita, namun setelah kecelakaan dan terjebak cinta palsu Rendra menjadi berubah, ia sering marah-marah di kantor dengan emosi yang tidak stabil sama sekali, tapi Amira benar-benar telahberhasil membuat Rendra menjadi lelaki yang berbeda, lelaki sabar yang mampu mengendalikan emosinya.


"Rendra akan menjadi suami Amira, jadi sudah sewajarnya Rendra bersikap dewasa layaknya seorang pemimpin," jelas Rendra dengan hati yang lebih lapang dada.


"Sayang, udaranya sudah makin dingin ini, bagaimana kalau kamu membakar jagungnya? Kayaknya makan disini sembari menikmati pemandangan dan udara segar pagi ini pasti menyenangkan," ucap Amira yang sepertinya tidak ingin membahas masalah pernikahan.


"Baiklah, Sayang," ucap Rendra menurut.


'Masyaallah, terima kasih banyak ya Allah atas nikmat yang telah Engkau berikan kepada hamba. Sekarang hidup hamba merasakan kebahagiaan yang bertubi-tubi, hamba bertemu dengan orang-orang yang sangat mencintai dan menyayangi hamba dengan sangat tulus.'


Amira membatin, membayangkan bahagianya dirinya saat ini setelah semua rasa sedih yang dirasakannya selama ini.


"Sayang, kapan kamu akan memperkenalkan aku kepada orang tuamu?" tanya Rendra tiba-tiba.