
Rendra menjelaskan kepada Amira kalau ia sangat mencintai Amira, bahkan ia mengungkapkan keinginannya untuk menikahi gadis cantik itu.
Amira senang, untuk sesaat hatinya berbunga-bunga, namun ada satu hal yang mengganjal di hati Amira, bagaimana mungkin Rendra melamarnya ketika lelaki itu tidak tahu siapa ia yang sebenarnya.
Amira memang selalu menunda-nunda waktu untuk mempertemukan dan memperkenalkan Rendra kepada keluarganya.
Amira sebenarnya tidak suka dengan keadaan yang serba salah yang terjadi antara mereka berdua, bahkan rahasia tentang keluarganya yang ia simpan erat.
Amira tidak suka terjebak dalam cinta rahasia yang membuatnya menjadi duri dalam hubungan mereka nantinya.
"Rendra, maaf!"
Amira mencoba menjauhi Rendra tapi Rendra melingkarkan kedua tangannya di pinggang Amira yang sangat langsing hingga gadis cantik itu tidak lagi bisa bergerak dan melakukan apa-apa kecuali memberontak.
"Rendra, lepaskan aku! Ini salah!"
Amira protes karena merasa tidak nyaman dengan posisinya dan Rendra saat ini.
"Ra, aku minta maaf karena melakukan hal yang salah seperti ini, tapi aku tahu kamu merasakan debaran jantungku dan aku juga tahu kalau kamu merasakan hal yang sama kepadaku. Tapi, aku penasaran kenapa kamu tidak ingin menikah denganku?"
"Rendra, menikah itu bukan hanya soal perasaan, tapi juga menjaga hati. Jangan sampai kamu melukai hatiku hanya untuk kebahagiaanmu sendiri."
Rendra terdiam, ia sadar dengan apa yang dikatakan oleh Amira benar, dan ini menjadi kesempatan bagi Amira untuk melepaskan diri dari Rendra, apalagi keduanya akan mengadakan meeting dengan klien.
"Yuk berangkat!" ucap Amira sembari berjalan melewati Rendra menuju parkiran.
Andai Amira dan Rendra bisa saling jujur, tentu saja ia akan merasa teramat sangat bahagia karena lelaki itu melamarnya. Namun, keadaannya berbeda, ia masih menyimpan rahasia tentang keluarganya dari Rendra, yang nantinya mungkin akan membuat Rendra merasa terkhianati.
'Rendra, maafkan aku!'
Perlahan air mata Amira jatuh membasahi pipinya. Ia tidak suka dengan situasi dan kondisi saat ini, ia tidak ingin urusan percintaan yang sangat rumit ini mengganggunya karen ia hanya ingin fokus bekerja dan mendapatkan investasi dari investor.
"Ra, apa aku salah jika aku menginginkanmu menjadi istriku?"
Rendra mengejar Amira, ia menggenggam tangan gadis cantik itu dan ia menatap ke arah Amira yang memalingkan muka dan sama sekali tidak menatapnya.
"Tidak salah! Hanya saja posisinya yang salah. Kamu pernah mengkhianatiku dengan wanita lain dan sebentar lagi kalian mungkin akan menikah karena kamu sudah sehat, jadi bagaimana mungkin aku menjadi perempuan yang merusak hubungan orang lain?" ucap Amira datar dengan wajah yang masih tertunduk. Ya, Amira mencoba mengalihkan pembicaraan dengan topik berbeda agar rahasianya yang sesungguhnya tetap terjaga.
Perasaan Amira berkecamuk, antara senang dan sedih. Ya, harusnya Amira merasa bahagia karena mereka berdua akhirnya menyadari perasaan masing-masing. Namun, sebagian lagi hati Amira merasa bersalah dan berdosa kepada Rendra karena dalam sebuah hubungan yang diperlukan adalah kejujuran.
"Ra, tatap aku!"
Kini Rendra berada di depan Amira, sembari menatap Amira dengan tatapan penuh pengharapan.
"Ren, aku tidak ingin menikah! Hidupku seoarang hanya untuk diriku sendiri!" ucap Amira lagi dengan nada meyakinkan.
Amira berpikir untuk hidup melajang saja karena baginya pernikahan itu tidak berarti apa-apa. Cinta bisa saja memudar hingga terjadi perselingkuhan bahkan setelah sekian lama hubungan dijalankan. Apalagi lelaki adalah mahkluk yang sangat tidak bisa dipercaya, dengan mudahnya ia mengatakan mencintai atan membenci tanpa memikirkan perasaan orang lain yang telah memberikan hatinya dengan sepenuh hati.
Pernikahan mengingatkan Amira kepada kegagalan yang dialami oleh kedua orang tuanya, kegagalan yang membuat ia sadar kalau tidak ada yang abadi.
Tidak suka dengan apa yang Amira katakan, Rendra protes.
Rendra tidak suka ditolak oleh Amira, wanita yang sangat ia sayangi dan cintai meski baru kali ini ia ungkapkan.
Perasaan Rendra untuk Amira sudah ada sejak mereka pertama kali bertemu, perasaan yang tidak pernah memudar sama sekali walaupun Rendra telah menjalin dan terjebak hubungan dengan wanita lain.
Rendra hanya menyukai Amira, dan di hatinya hanya ada Amira. Perkara wanita lain, ia hanya berpura-pura dan bermain-main saja.
"Ren, perceraian Mama dan Papa membuatku trauma dan sulit untuk percaya dengan lelaki manapun termasuk kamu."
"Perceraian?" tanya Rendra heran.
Amira menatap Rendra dengan seksama, ia ingin mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
Amira sangat tahu kalau Rendra selama ini sangat baik kepadanya, Rendra seperti malaikat yang membantu dan menyelesaikan semua masalah hidup Amira, begitu juga dengan Amira, ia juga malaikat untuk Rendra.
Amira juga tidak menyangkal kalau ia juga memiliki perasaan suka dan sayang kepada Rendra melebihi sahabat. Hanya saja, perpisahan dan perceraian kedua orang tuanya karena sebuah penghianatan seperti mimpi disiang bolong yang membuat Amira tidak lagi ingin memimpikan hidup berumah tangga. Apalagi Rendra pernah mengkhianatinua. Amira tidak sanggup jika suatu hari nanti Rendra menghianati dan menyakiti hatinya hanya karena kesenangannya saja.
Amira telah melihat bagaimana kesedihan mamanya ketika papanya berselingkuh dan berkhianat, mana mungkin ia tega menyakiti hati dan perasaan orang lain hanya demi kebahagiaannya. Bagaimana mungkin Amira menari-nari di atas penderitaan dan kesedihan orang lain.
"Ren, jangan memaksakan kehendak, kamu adalah malaikatku dan selamanya akan tetap seperti itu. Aku tidak ingin hubungan yang nanti kita miliki akan berakhir pada pertengkaran sehingga kita berdua saling menyakiti. Aku hanya ingin mengenangmu menjadi yang terbaik, jadi jangan pernah merusak persahabatan kita hanya karena sebuah keegoisan," ucap Amira dengan wajah yang teramat sangat meyakinkan sekali.
Amira kekeh dengan pendiriannya, karena baginya Rendra adalah sahabat terbaik, malaikat tanpa sayap dan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Walaupun terkadang ada perasaan cemburu dan iba dalam diri Amira ketika ia melihat Rendra bersama wanita lain, tapi tetap saja Amira tidak pernah bermimpi untuk menjadika Rendra kekasihnya seutuhnya.
Memang perkara hati tidak semudah yang dibayangkan.
Ribet!
Cinta tapi tidak bisa memiliki.
Sayang!
Namun, rasanya terlalu takut untuk menggenggam.
Mencintai ibarat menggenggam sebuah pisau yang teramat sangat tajam, jika kita menggenggamnya terlalu keras maka kita akan merasa kesakitan, tapi jima kita tidak memegangnya sama sekali mungkin saja pisau itu tetap akan melukai diri kita sendiri lewat tangan lainnya.
Jadi, Amira memilih untuk tetap tidak mencintai karena itu lebih baik untuknya.
"Amira,apa kamu yakin tidak mencintaiku?"
Rendra menatap Amira yang matanya telah penuh dengan air mata.
"Ra, kamu menangis?"
Rendra menghapus air mata Amira kemudian membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
"Pak Bos, lepaskan aku, ayo kita pergi!"