
"Kita berdoa yang terbaik untuk pasien ya, Ibu," ucap sang suster sembari menepuk-nepuk lembut pundak ibu Rina sebelum pergi meninggalkan mereka.
"Tidak ada yang bisa dilakukan oleh ibu Rina sekarang selain menangis dan beruraikan air mata. Beliau tidak menyangka kalau kedatangannya ke rumah sakit ini adalah untuk menemui putra kesayangannya yang tengah sekarat dan tidak berdaya di ruang ICU.
Seluruh tubuh ibu Rina terasa sangat lemah dan menggigil, hingga buminya terasa seperti akan runtuh, beliau seolah tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya, beliau tidak sanggup lagi untuk menahan tubuhnya.
Bruk!
Ibu Rina terjatuh ke lantai yang sangat dingin dengan sejuta kesedihan yang beliau bawa bersamanya. Beliau merasa tidak sanggup lagi untuk hidup jika semua orang yang beliau sayang diambil darinya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap ibu Rina sembari memukul-mukul dadanya. Beliau merasakan dadanya terasa teramat sangat sesak hingga membuatnya kesulitan bernafas.
"Ibu, maafkan Amira, Bu!"
Amira langsung memeluk ibu Rina dengan menumpahkan air mata dan kesedihan yang ia rasakan. Ia sangat tahu kalau sikapnya yang menyembunyikan keadaan Rendra adalah salah, hanya saja ia tidak tahu cara menyampaikannya kepada ibu Rina agar wanita separuh baya itu tidak histeris karena kondisinya juga dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Huft ...!
Ibu Rina menarik nafas panjang dan terlihat tengah mempersiapkan mentalnya untuk memasuki kamar dimana anaknya dirawat.
"Amira, jangan menangis, Nak!"
Hanya itu kata-kata yang keluar dari lisan ibu Rina, bukan sebuah amarah atau rasa kecewa kepada Amira. Beliau hanya meminta bantuan Amira agar ia dibantu untuk berdiri agar beliau bisa menemui putra kesayangannya.
"Ibu, yuk kita temui, Rendra," ucap Amira sembari membantu wanita separuh baya itu untuk berdiri.
"Apa yang harus kia lakukan sekarang, Nak?"
Dalam perjalanan menuju kamar dimana Rendra dirawat, ibu Rina mengungkapkan semua isi hatinya salah satunya tentang kekhawatirannya serta bagaimana caranya untuk bertahan.
"Ibu, Amira yakin kalau kia mampu untuk menghadapi cobaan ini karena kita kuat."
Amira terus menenangkan dan meyakinkan ibu Rina bahwa mereka mampu dan mereka kuat dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian yang Tuhan berikan karena Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya dan Allah memberikan cobaan itu kepada hamba-hamba-Nya yang dipilih karena akan ada hikmah kebaikan dan pahala berlimpah yang akan Allah berikan kepada hamba-hambaNya yang telah berhasil melewati ujian itu.
"Ibu, kita akan masuk ke kamar ini, jadi tolong tegarlah!" ucap Amira di depan pintu sebelum melangkahkan kakinya memasuki kamar inap dimana Rendra dirawat.
Ibu Rina mengangguk pertanda setuju dengan apa yang akan Amira sampaikan.
Dengan langkah kaki berat dengan langkah yang seolah tidak menginjak bumi, Amira dan Ibu Rina masuk ke ruang inap Rendra. Mereka melihat Rendra tengah terbaring lemah dengan infus dan alat bantu pernafasan yang ia kenakan. Tubuhnya terlihat banyak diperban dengan wajah yang lembam. Kepala Rendra juga diperban, seperti tengah mengeluarkan banyak darah.
Ibu Rina melepaskan tangan Amira yang menggenggamnya, ia berjalan pelan mendekati putra kesayangannya dengan sejuta kesedihan yang ia bawa bersamanya.
"Nak, apa yang terjadi denganmu? Kenapa bisa wajah tampan anak Ibu jadi seperti ini?" ucapan lembut yang terdengar sendu yang keluar dari lisan ibu Rina menggambarkan betapa beliau teramat sangat sakit dan terluka dengan keadaan putranya.
Ibu Rina menangis dan mengeluarkan air mata sembari membelai lembut wajah putra kesayangannya. Beliau seolah ingin menggantikan posisi putra semaya wayangnya saat ini. Ya, sebagai seorang ibu, beliau tidak sanggup melihat anak kesayangannya terbaring lemah tak berdaya seperti itu dan sebagai seorang ibu, beliau ingin melakukan apapun demi kesembuhan putra kesayangannya.
Ibu Rina kemudian membalikkan badannya, seolah tidak sanggup untuk menatap putra kesayangannya itu lagi. Beliau seperti ingin melangkah meninggalkan Rendra.
Amira menatap wajah ibu Rendra dengan tatapan berkaca-kaca, tatapan kesedihan dan sejuta gundah yang dibawa bersamanya.
"Ibu mau kemana?"
Amira memeluk ibu Rina yang saat ini menangis tanpa suara.
Ya, tangisan tanpa suara jauh lebih menyakitkan dari pada terisak, karena dalam tangisan diam itu seseorang memilih untuk menahan rasa sakit di hatinya sehingga dadanya mungkin saja terasa teramat sangat sesak dan lebih sakit saat ini dari pada seseorang yang mengungkapkan apa yang dirasakan dari tangisnya.
"Nak Amira, Ibu ingin ke musala," ucap ibu Rina terdengar lemah namun terdapat ketegaran di dalamnya. Beliau ingin menghadap sang pencipta dan mengadukan semua masalah yang dihadapinya dalam setiap sujud dan doa.
"Ibu, apa Amira temenin Ibu?"
"Jangan, Nak, kamu tolong jaga Rendra saja disini, mungkin sebentar lagi ia akan sadar dan mencari kita," ungkap ibu Rina.
Ibu Rina kemudian menghapus air mata yang mengalir di pipi Amira, seolah ingin mengatakan kepada gadis cantik itu untuk sabar dan kuat dalam menghadapi kenyataan yang ada di depannya.
"Nak, kita Ibu pergi dulu ya!"
Ibu Rina melangkahkan kakinya meninggalkan ruang inap Rendra dengan langkah kaki pelan, namun terlihat sebuah semangat dan kekuatan disana. Ya, ketika seorang ibu telah mengadu dan berdoa kepada sang Pencipta maka tidak ada yang tidak mungkin dan mustahil.
Sementara Amira, gadis cantik itu kini berjalan mendekati Amira, dengan kaki gemetar dan seluruh tubuh menggigil, ia berjalan mendekati Amira dengan langkah kaki pelan. Semakin dekat ia kepada Rendra maka semakin banyak air mata yang jatuh menggenangi pipinya. Rasa iba dan tidak sanggup melihat orang yang disayang tengah berada dalam keadaan hidup dan mati itu membuat Amira tidak sanggup untuk berkata-kata lagi.
Amira kemudian menggenggam tangan Rendra, tangan pucat yang terasa sangat dingin itu membuat hati Amira semakin sakit dan hancur.
"Pak Bos, apa yang terjadi? Bukankah kamu telah berjanji akan datang menemui ku dan Ibu? Lantas apa ini? Kenapa kamu berada disini dengan keadaan seperti ini?"
Amira mulai merengek dan terisak ketika mengajak Rendra berbicara.
Amira ingin Rendra mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan agar Rendra bisa terbangun dan kembali sadar lagi.
"Pak Bos, aku sangat tidak suka melihatmu berbaring lemah dan tidak berdaya seperti ini."
Amira kemudian mencium punggung tangan Rendra dengan lembut penuh cinta dan kasih sayang yang teramat sangat tulus.
"Bukankah Pak Bos mengatakan kalau Pak Bos akan menjagaku dan tidak akan pernah meninggalkanku, lantas apakah ini? Kenapa Pak Bos dalam keadaan lemah seperti ini? Mana Pak Bos yang selalu bersemangat yang ku kenal?"
Amira terus menangis dan merintih, berbicara sendiri seperti orang gila, namun hanya itu cara yang bisa ia lakukan agar hatinya merasa tenang dan damai.
"Lepaskan tanganmu dari tangan Mas Rendra!" bentak Tania sembari melepaskan tangan Amira dari Rendra secara paksa.
Amira memandang heran kepada sosok wanita cantik yang ada di depannya. Ia heran dan tidak menyangka ada wanita yang memanggil Rendra dengan panggilan mesra seperti itu, padahal yang ia tahu Rendra tidak dekat dengan wanita manapun selain dirinya.
"Kamu siapa? Kenapa kamu berteriak-teriak di ruangan ini? Tidakkah kamu melihat kalau ada pasien yang sedang sakit disini?" ucap Amira dengan masih bersikap ramah dan sopan, namun menyimpan rasa penasaran di hatinya.