
"Iya, maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi," ungkap Rendra.
Amira tertawa melihat sosok lelaki tampan yang babak belur itu, sikapnya sangat lucu dan membuat Amira merasa terhibur.
Amira memperbaiki selimut Rendra, ia bersikap layaknya seorang suster yang sangat piawai dalam menjaga dan merawat pasien.
"Sekarang kamu tidur ya, jika terjadi apa-apa maka segera pencet bel, aku juga akan meminta Suster untuk berjaga," jelas Amira dengan senyum tipis yang terlihat menawan dan menggoda di mata Rendra.
Namun, suasana akrab itu kembali runyam ketika Tania datang berkunjung untuk melihat Rendra.
"Aku ingin bertemu Rendra, minggir!" ucap Tania yang ada di depan pintu,
Amira cemburu dan tidak suka dengan gadis yang bernama Tania itu, gadis sexy yang membuat Amira ingin memarahi Rendra. Apalagi kedatangan kadis itu ke rumah sakit sungguh tidak sopan, seperti seseorang yang tidak terdidik sama sekali.
"Selain keluarga tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruangan ini. Jangan mengganggu Ibu dan pasien yang sedang sakit."
Amira bertingkah tegas dan sangat berbeda dari sebelumnya. Ia tidak lagi membiarkan gadis tidak sopan itu merendahkan dirinya.
"Saya bukan orang asing, saya adalah keluarga karena saya adalah calon istrinya Mas Rendra, " ucap Tania manja dengan nada suara yang menggoda.
Pandangan dan tatapan menggoda yang Tania tunjukkan kepada Rendra membuat Rendra merasa risih dan malu kepada dirinya sendiri karena ternyata nafsu sesaat membuat ia tidak bisa membedakan mana wanita baik, mana wanita yang berpura-pura baik.
"Sayang, aku datang!"
Tania menerobos masuk dan berjalan berlenggak-lenggok mendekati Rendra yang saat ini tengah terbaring lemah tidak berdaya.
Tania mencium kening Rendra dengan hangat, penuh dengan kelembutan dan hasrat yang membuat Rendra sama sekali tidak bisa menolaknya. Bagaimanapun juga Rendra benar-benar terlihat sangat lemah dihadapan Tania.
"Sayang, aku merindukanmu."
Ucapan yang keluar dari lisan Tania membuat Rendra memalingkan muka dari Tania, ia mengharap ke dinding dan tidak mempedulikan Tania lagi karena saat ini yang ada dalam benak Rendra adalah perasaan Amira. Gadis cantik itu pergi meninggalkan ruang inap Rendra dengan wajah memerah dan cemburu yang memuncak.
"Sayang, kenapa kamu tidak menatapku? Apakah kamu tidak merindukanku?" bisik Tania mesra di telinga Rendra hingga membuat Rendra merasa teramat sangat risih.
Rendra takut jika sang ibu terbangun dan melihat wanita yang tidak sopan ada di kamarnya, tentu saja akan membuat ibu kecewa dan marah.
"Tania, apa yang kamu lakukan disini? Tidak bisakah kamu pergi dari sini?" pinta Rendra dengan nada suara lemah seolah takut dengan amarah Tania.
Ya, Rendra sangat paham kalau gadis manja seperti Tania tidak akan suka jika diusir. Namun, Rendra juga tidak nyaman dengan keberadaan Tania disini, apalagi sampai ibunya bangun, tentu saja ibu tidak akan suka melihat Tania ada di dalam ruangan ini.
"Tania, apakah kamu bisa pergi sekarang? Aku tidak ingin membuat Ibu terbangun."
Rendra bersikap sangat baik dan sangat sopan sekali, ia meminta Tania pergi dengan baik.
"Sayang, sebegitukah kamu melupakan semua yang telah terjadi di antara kita? Adalah akan sekarang kamu mengusirku?"
Tania berputar-putar sembari bertepuk tangan. Ia tertawa miring dengan wajah yang terlihat tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Rendra kepadanya.
Rendra sadar diri dan mengakui kalau semua yang terjadi kepada hidupnya adalah karena sikapnya. Tuhan tidak mengizinkan ia berlama-lama dalam dosa sehingga Tuhan memperingatinya lewat musibah yang datang menghampirinya.
"Apakah semudah itu kamu melupakan hubungan kita? Bukankah kita berdua akan menikah? Kamu bahkan telah berjanjinkepadaku," ujar Tania dengan nada suara merengek manja.
"Aku tidak bisa menikah denganmu karena hatiku sudah terpaut sejak lama dengan Amira," ucap Rendra tegas dengan kejadian penuh.
"Tapi aku hamil!"
Ucapan lantang dan spontan yang keluar dari lisan Tania membuat Rendra kaget, bahkan ibu yang sedang tertidur langsung membuka matanya.
"Apa yang kamu katakan? Kamu hamil?"
Ibu menghampiri Tania dengan wajah yang terlihat bercampur aduk, beliau tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tania, terlebih lagi beliau tidak yakin kalau putranya akan melakukan perbuatan bejat dan hina seperti itu.
Sang ibu merawat putranya dengan sangat baik berdasarkan landasan agama, jadi beliau percaya kalau putranya tidak akan melakukan perbuatan yang melanggar agama seperti itu. Bagi ibunya, Rendra adalah anak yang baik dan polos, bahkan satu-satunya perempuan yang Rendra cintai adalah Amira dan tidak ada perempuan lain lagi yang dekat dengan Rendra selain Amira.
"Iya, Bu, saya hamil dan ini anaknya Mas Rendra," ucap Tania santai tanpa rasa malu sama sekali seolah ia menganggap kalau melakukan hal yang melanggar norma agama seperti itu adalah hal yang sangat biasa.
Prak ...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Tania hingga wajah gadis itu yang awalnya menatap tajam ibu Rina langsung berpaling dengan satu tangan memegang pipinya yang memerah karena kesakitan.
"Anak saya bukan lelaki kurang ajar seperti itu, sekarang keluar dari kamar ini dan jangan pernah lagi menampakkan wajahmu dihadapan saya lagi!"
Dengan tunjuk kiri, sang ibu menunjuk ke arah pintu, mengusir Tania dengan sejuta amarah yang ia lampiaskan bersamanya.
"Asal Ibu tahu, anak Ibu tidak sebaik yang Ibu pikirkan, anak Ibu mencintai saya dan ia rela melakukan apapun demi memenuhi keinginan saya."
Tania benar-benar tidak punya rasa takut dan jera, ia berani melawan sang ibu dengan kasarnya, bahkan ia membela dirinya sendiri dengan memojokkan Rendra.
"Gadis tidak punya sopan santun satu hal yang harus kamu tahu, saya tidak akan memberikan restu kepada anak saya jika ia ingin menikah dengan kamu."
"Saya tidak peduli dengan Ibu, yang saya inginkan adalah Rendra bukan Ibu." tantang Tania.
"Tania, diam! Keluar sekarang juga dari ruangan ini!"
Rendra membentak Tania dengan nada suara tinggi, emosinya memuncak dengan wajah pucat yang berubah menjadi merah. Rendra tidak terima jika orang tuanya tidak dihormati dan diremehkan oleh orang lain apalagi orang seperti Tania.
"Sekarang, kamu keluar dari sini dan jangan pernah datang lagi kemari!" bentak Rendra yang tidak dihiraukan oleh Tania sama sekali.
"Bagaimana dengan anak ini?" tanya Tania sembari memegang perutnya yang masih rata dengan air mata buayanya.
"Saya jamin itu bukan anak Rendra," timpal Amira dengan tegas dan wajah yang sangat meyakinkan.