Crazy Boss

Crazy Boss
Empat



Malam minggu biasanya jalan-jalan sama pasangan, orang tua, Teman-teman atau para geng Rock&Rock.


Jauh beda dengan Jelita seperti biasa duduk tempat minimarket ditemani oleh segelas teh botol sosro kotak dan roti tawar cokelat sambil menghirup udara malam hari.


"Huh ... malam minggu Hari-hari begini terus. Kapan aku bisa dapat cowok ganteng atau Om-Om kaya. Aku  pengen kayak mereka juga," mengeluh nya pada diri sendiri


Hari-hari roti, kapan aku bisa makan enak seperti mereka. batinnya menatap segerombolan tengah nongkrong tak jauh dari tempat duduknya.


Cukup satu gigitan roti setengah pun habis . Tinggal seorang diri memang menyedihkan, rindu sama mereka yang ada di atas.


Jalan kaki seorang diri itu paling menyedihkan, seperti batu kerikil selalu menemaninya. Rasanya dia bosan banget, satu tendangan darinya kaleng coca cola mendarat tak sengaja olehnya.


Klutak!


Seseorang yang tengah berdiri tak jauh dari tiang indomaret asyik menelepon atau sedang menunggu orang lain.


Pria itu menoleh kebelakang dan mengambil kaleng coca cola mengenai kepalanya, sementara Jelita yang berdiri beberapa meter saja, celinguk kanan - kiri pura-pura tidak melihat.


Pria itu melangkah arah posisi Jelita berdiri, dia mulai panik. Aduuuh gawat, aku tak sengaja pula.


"Ini punyamu?" tanya pria itu menyerahkan kaleng coca cola kepadanya.


"Hah?" Jelita menoleh kiri-kanan belakang tidak ada siapa-siapa sih.


"Kau bicara sama aku?" Di tunjukin dirinya sendiri.


"Setan, ya pasti kau, lah, siapa lagi?" sungut nya.


"Oh..."


"Bulat..."


"Panjang..."


"Lonjong..."


"Apa? Lontong? Aduh, Bang, malam begini mau nyari lontong kemana?" Makin ngelantur saja Jelita.


Perasaannya tidak nyaman sama pria aneh ini. Dia mundur beberapa langkah.


"Ada polisi!" teriak Jelita menunjukkan kedepan, spontan pria itu menoleh.


Kesempatan adalah kabur dari pria mata keranjang. Pria itu tertipu kemudian mengejar gadis remaja itu.


Masih berlari, Jelita sudah tidak sanggup untuk melanjutkan. Tapi dia benar harus menyelamatkan diri dari pria berbahaya, sekali-kali menoleh kebelakang. Tanpa sadar dia mendapat kesialan lagi menabrak seseorang.


Bruk!


"Aduh! Maaf, maaf, aku tak sengaja. Jangan ngadai aku!" Jelita memohon kepada orang yang menabraknya.


"Siapa yang mau mengadai dirimu?" Suara yang sangat familiar baginya. Sontak dia angkat kepala, terkejut sih ada. Dia ketemu kembali dengan pria yang awal ingin kerja di gedung tinggi itu.


"Kau?"


Sebelum dia bertindak, suara pria keranjang itu terdengar. Jelita bangun dari duduk batu blok itu. Dengan singgap tak beri kesempatan untuk menghindar dari bahaya.


"Sialan! Kemana gadis itu pergi!" gerutu pria keranjang itu melewati sepasang tengah berciuman itu.


Merasa sudah aman, Jelita tak sadar sudah mencium pria tak di kenalnya. Dia mundur beberapa langkah.


Aduh mati lah aku. Kok cium dia sih?


Pria itu terpaku diam akan tetapi senyuman panjang menerbitkan kembali untuk gadis remaja yang berani mengambil ciuman pertamanya.


"Maaf, aku tak sengaja, kalau begitu aku pamit ..." Jelita tercekat sebentar.


Pria itu menarik tangannya lebih dekat, jaraknya beberapa inci saja. Bisa dirasakan hembusan nafas dari pria itu. Kedua bola mata Jelita melebar tatapan mata pria itu tajam. Sulit untuk dihindari.


"Boleh juga nyalimu."


Di lepaskan pelukan itu Jelita masih belum berkutik sama sekali. Cegukan pada dirinya berulah kembali.


Hhee eekh...