
Jelita berdiri di depan pintu dengan tertempel papan bertulisan "Bagi yang tidak berkepentingan harap untuk tidak masuk!" Memang masih ada seperti ini pikir si Jelita. Dia baru saja akan mengetuk pintu dan dia mendengar suara pintu itu tiba-tiba terbuka lalu seseorang mengintip.
Jelita malah mengekspresikan muka datar, karena percuma senyum. Pria gila itu bakal aneh-aneh terhadapnya. Ardian melebarkan pintu dan persilakan Jelita masuk.
Ketika Jelita masuk ke dalam ruangan itu, dia masih belum sadar kalau Ardian tidak jadi meeting. Apa yang ada di otak Ardian saat ini.
Jelita meletakkan berkas-berkas di depan meja itu.
Dia meluruskan seluruh tulang-tulang yang kaku tersebut. Tidak berapa kemudian dia merasa aneh, dia pun melirik kiri kanan dan seisi ruangan itu.
"Loh? Aku benar-benar masuk ruangan ini, kan, Pa--"
Jelita mundur beberapa senti, Ardian sudah posisi di depannya menatap sangat dekat. Membuat gadis dua puluh tahun itu tercekat diam. Embusan napas milik pria itu sangat terasa oleh Jelita. Bukan itu saja, napas di mulutnya tercium aroma mint.
Debaran jantung Jelita kembali terguncang hebat. Sangat hebat sekali, apalagi bukan hanya ini saja. Jelita mundur beberapa langkah dan terbentul sesuatu di belakang meja kosong itu. Ia terjepit posisi yang salah.
Dua mata pria itu masih menatap intens membuat Jelita kesulitan untuk berkutik.
"Bap--bapak mau nga-pai- eeehh...."
Jelita terbata-bata ditemani oleh cekukannya. Lagi-lagi Jelita dideritakan oleh cekukan yang menyebalkan. Ardian masih posisi tidak berpindah.
"Eeerr ... P-paak ...eeerr ..." Cekukan Jelita kumat lagi, Ardian mendekati dan ....
Cup!
Jelita mengerjap-ngerjap beberapa kali yang dilakukan oleh bosnya. Ardian kembali ke tempat duduk dan menarik berkas-berkas map samping meja diletakkan oleh sekretarisnya tadi.
Jelita masih posisi tidak berkutik, ia mematung. Kecupan singkat tadi tepat dibibirnya. Bukan itu saja, otak Jelita tidak berfungsi seketika.
Ardian membuka berkas map di periksa dan di tandatangani nya. Beberapa menit kemudian, Ardian selesai dengan map-map itu. Ia menyusun kembali. Sedangkan Jelita masih posisi yang sama.
Ardian mengamati gadis itu, senyuman tipis dibalik wajah garang milik pria itu. Semakin mengila saja, ia tidak tahu kenapa bisa menyukai sifat unik dari gadis cantik itu.
"Apa kau tetap berdiri seperti itu terus-terusan?" suara membuyarkan imajinasi Jelita.
Jelita menoleh, pria itu menatap tajam dan bukan itu saja, debaran apa lagi yang ia rasakan.
"Iiihh ... Tuhan apa yang kau utuskan diriku ketemu dengan bos gila ini??" Batin Jelita dalam hati. Debaran jantungnya tak berhenti-henti.
Ardian bangun dari duduknya, dan Jelita mulai waspada apa lagi yang akan dilakukan oleh pria gila itu.
"Bapak mau ngapain?" Jelita bertanya, untuk jaga-jaga jika bosnya bertindak kurang ajar seperti tadi.
Ardian mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi, ia tetap melangkah kakinya arah tempat dimana Jelita berdiri itu. Jelita mencoba untuk menghindar, tapi kesialannya masih berpihak pada situasi.
Jelita hanya bisa menutup mulutnya dan memejamkan rapat-rapat ia tidak mau bibirnya jadi sasaran kurang ajar. Cukup cekukan biadab ini menyiksa batinnya.
Trak!
"Auw!"
Ardian menyentil jidat Jelita yang lucu itu, entah apa yang dipikirkan gadis manis di depannya. Jelita sontak memegang kening denyutan luar biasa saat bos gila itu menjitak tiba-tiba.
"Kembali bekerja! Mau sampai kau di sini?" pinta Ardian dengan nada yang kembali datar dan tegas.
Sementara Ardian sudah di luar ruangan itu sesekali melirik gadis manis sibuk membereskan berkas-berkas yang sudah ia tandatangani. Senyuman tipis melebar itu membuat Ardian lucu, "akan ada mainan baru," batinnya kemudian melangkah meninggalkan tempat itu setelah Jelita keluar juga dari ruangan jahanam.
****
Akhirnya Jelita bisa bebas dari kandang macan. Ia membereskan meja kerjanya masuk ke dalam lemari dan laci. Waktunya ia pulang dan merebahkan tubuh di atas kasur kusam.
Hari ini kepalanya penuh dengan pekerjaan menumpuk dan huruf, serta grafik yang menyeramkan. Bisa-bisanya si bos gila itu meminta ia buat grafik investasi untuk besok. Apalagi terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ya, ampun kasihan banget Jelita, belum biasa ia lakukan pekerjaan seperti ini.
"Mau pulang?" Jelita terperanjat lompat tiba-tiba suara dari sumber mana mengejutkan dirinya dalam lamunan.
Jelita dengan mata memelotot menatap horor dan sosok badan berdiri tegap senyum kepadanya. Jelita bisanya mengelus dada degupan jantungnya benar-benar lepas.
"Ya pasti pulang, memang mau ngapain lagi!" jawab Jelita ketus, hari ini ia nggak mau berurusan dengan bos gila ini.
"Mau aku antar pulang?" Ardian menawarkan jasa kepada Jelita berdiri di samping tepat di depan lift.
"Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri, terlalu banyak hutang budi asyik tumpang gratis," jawab Jelita masih sama ketus dan datar padahal ia gugup setengah mampus.
"Kamu sudah lupa, diluar jam kerja. Kamu itu kekasihku, sudah seharusnya aku baik dan mengantar kamu pulang," ucap Ardian tetap dengan suara yang sangat datar banget.
"Saya belum menyetujui dan belum menandatangani surat perjanjian kontrak dari bap--" Jelita menjeda kata-kata karena wajah Ardian sudah menatapnya tajam.
Jelita bisa apa? Menelan air liur dengan susah payah. "Baiklah, kalau begitu terima kasih sekali lagi," lanjut Jelita berbicara.
Padahal ia pengin langsung pulang, terus tidur nyenyak di kasur kusamnya. Menyebalkan, kenapa harus dipertemukan dengan pria menyebalkan dan rasanya ia ingin mencincang habis dengan jurus seribu bayangan naruto.
"Buang pikiran kotormu, kalau mau cincang saya, setelah kita menikah nanti," ucap Ardian menatap pantulan cermin pintu lift ada didepannya.
Jelita tidak berkutik ia seperti bertemu seorang iblis yang sangat jahat bisa membaca pikirannya.
"Siapa juga mau cincang bapak, yang ada nanti saya dicincang jadi bakso siomay," balas Jelita asal-asalan.
Ardian senyum tipis, "kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu katakan di dalam otak jahanam mu?" batin Ardian
Lift terbuka dan mereka berdua masuk ke dalam. Suasana di dalam lift sangat tegang. Jelita memilih berdiri paling pojok dekat tombol menempel daripada harus dekat dengan bos gilanya.
"Kenapa kamu berdiri di sana?" Ardian kembali bersuara kali ini nada bicara nya lembut.
"Ah! Nggak apa-apa, saya lebih suka di sini. Di sana dingin dan bisa-bisa saya beku jadi putri salju," jawab Jelita cepat.
Lift terbuka dan beberapa karyawan ikut masuk ke dalam lift ini. Tiba-tiba sebuah tangan menarik Jelita mundur dan Jelita terperanjat kaget kini tangan lebar itu sudah melingkar di posesif pinggangnya.
Lift yang tadi hanya berdua sekarang sudah di padati oleh karyawan yang bekerja di gedung ini. Ardian dan Jelita posisi belakang pojok kiri. Degupan jantung Jelita kembali berdetak sangat cepat. Dan ia merasa tangan itu semakin mempererat dan ia menempel di badan tegap milik pria ini.
"Eeerr," Tiba-tiba Jelita cegukan, para penumpang di lift menoleh dan kemudian kembali ke pandangan masing-masing.
Jelita hanya bisa menunduk karena malu, cegukannya semakin menjadi. Secara diam-diam, Jelita memegang tangan besar di pinggangnya untuk dilepas. Bukan dilepas malah semakin erat.
"Eee ... Pp--pak!" bisik Jelita sesekali melirih bosnya. Tapi Ardian malah sibuk dengan ponsel pribadinya.
"Sial, cegukan brengsek! Bos gila ngapain sih peluk aku?" gerutu Jelita dalam hati.