Crazy Boss

Crazy Boss
Jadian?



Pesona kecantikan Tania yang rupawan dan sangat menawan tidak bisa ditolak oleh Rendra sama sekali walaupun sebenarnya hati dan fikiran Rendra saat ini ada dikampung bersama ibu dan Amira. Namun, kecantikan dan sifat manja Tania membuat Rendra tidak lagi bisa berkata-kata.


"Mas, apa ada hal yang kamu fikirkan?"


Tania mendekatkan tubuhnya kepada Rendra hingga lelaki itu tidak kuasa menahan gejolak di hatinya, bagaimanapun lamanya ia tidak berpacaran tetap saja ia adalah seorang lelaki yang memiliki hasrat untuk seorang perempuan apalagi gadis secantik Tania.


"Aku ha-han,"


Rendra grogi dan semakin tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika Tania menyentuh tangannya dengan lembut.


"Mas, aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu."


Tania meletakkan tangan Rendra di dadanya hingga Rendra merasakan debaran jantung wanita cantik itu yang berdetak luar biasa tidak menentu, debaran yang sama seperti yang ia rasakan.


Rendra tidak kuasa menahan semua gejolak di dadanya hingga ia menundukkan pandangannya, karena ia takut naluri lelakinya malah membuatnya melakukan hal yang tidak bisa ia kendalikan.


"Mas, kenapa kamu tidak menatapku? Apa kamu tidak menyukaiku? Apa aku tidak terlalu menarik untukmu?" ungkap Tania dengan berbisik manja di telinga Rendra, hingga semakin bergejolaklah hati Rendra.


Rendra merasa sangat gugup dengan tubuh yang teramat sangat gemetaran, ingin rasanya ia bendekat dan melakukan serangan mendadak kepada Tania, namun hatinya meragu karena di dalam hatinya ada Amira, gadis yang dicintainya sudah sejak lama.


'Tania adalah gadis yang sangat cantik dan teramat sangat seksi, ia menyukaiku dan jantungku juga berdebar ketika ia menyentuhku, apakah itu artinya aku juga menyukai Tania? Apakah Tania berhasil menggantikan posisi Amira di hatiku,' ungkap Rendra di dalam hati.


"Maaf, Mas, maaf karena aku membuatmu tidak nyaman."


Tania memasang wajah kecewa dan melepaskan genggaman tangannya dari Rendra, ia merajuk manja, hingga kali ini Rendra tidak lagi bisa menahannya.


Rendra menarik tangan Tania dan membawa gadis cantik itu kedalam pelukannya. Nafas Rendra dan Tania terasa sangat berat, seolah ada hasrat yang mereka berdua ingin lepaskan. Namun Rendra masih berusaha menahannya, tapi Tania bersikap agresif, ia melakukan serangan mendadak kepada Rendra hingga mereka berdua terhanyut dalam lautan asmara yang menggelora.


"Mas, aku menyukaimu dan sangat menyukaimu, kamu adalah lelaki yang membuatku tidak bisa berkutik dan kamu memberikanku ke-," Tania menggoda Rendra agar Rendra melakukan sesuatu yang lebih kepadanya.


Kemudian Rendra terbayang wajah cantik dan kebaikan hati Amira, gadis yang mempunyai harga diri dan kehormatan yang teramat sangat tinggi, yang tidak akan membiarkan orang lain bertindak semena-mena atau melecehkannya. Wanita yang akan Rendra jadikan sebagai istrinya suatu hari nanti, wanita yang disukai oleh kedua orang tuanya dan wanita yang tidak akan tergantikan oleh siapapun.


Rendra ingat pesan bapaknya, jika seorang lelaki sukses maka godaan da cobaan terberatnya adalah harta, tahta dan wanita, dan wanita adalah orang yang bisa membuat seorang lelaki sukses dan bisa juga membuat seorang lelaki hancur karena wanita yang baik adalah ia yang mendukung dan berada di belakang lelaki untuk menyemangatinya, namun wanita yang tidak baik adalah racun dunia, jika terjebak ke dalam perangkatnya maka bersiaplah hancur bersamanya.


"Tania, maaf, tapi a-aku," ungkap Rendra gugup seolah tidak ingin penolakannya malah melukai hati dan perasaan Tania.


"Kenapa, Mas?" tanya Tania.


Hembusan angin tepi pantai mengibaskan rambut Tania hingga gadis itu semakin terlihat cantik dan sangat mempesona dan lebih terlihat seperti bidadari.


"Cantik!"


Spontan kata-kata pujian itu keluar dari lisan Rendra, karena ia juga tidak bisa membohongi matanya kalau Tania benar-benar seorang gadis yang sempurna, bukan lagi manusia tetapi sudah seperti bidadari yang diturunkan oleh Tuhan ke dunia.


"Mas, apakah kamu mau menjadi pacarku?"


Pertanyaan spontan dan basa-basi itu juga keluar dari lisan Tania, bahkan dengan senyum menawan yang ia berikan.


"Jadian?" tanya Rendra dengan mata menganga.


"Apakah ada wanita lain di hatimu, Mas?"


Lagi dan lagi Tania memasang umpan dengan merajuk, ia bertingkah layaknya jinak-jinak merpati, hingga sekuat apapun iman seorang lelaki tidak akan bisa menolak tania.


"Bukan begitu, hanya ini terlalu cepat," ungkap Rendra dengan wajah tertunduk.


Rendra tidak pernah ditembak cewek dan Rendra tidak pernah langsung berpacaran dengan seseorang padahal mereka berdua baru saja bertemu beberapa jam yang lalu. Bagaimana mungkin langsung jadian sementara mereka berdua belum saling mengenal.


"Mau kenal hari ini atau sepuluh tahun yang lalu, jika dua orang saling menyukai, apa salahnya langsung jadian? Kenapa harus menunggun dan menunda-nunda waktu ketika kita punya kesempatan sekarang, apalagi kita telah berci-"


Rendra meletakkan tangannya di mulut Tania, seolah malu dengan apa yang akan Tania ucapkan.


Tania kemudian menatap tajam ke arah Rendra, dan tanpa fikir panjang gadis itu langsung menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk Rendra.


"Mas, apakah kamu tidak merasakan debaran jantungku?"


Bagaimana tidak Rendra bahkan merasakan perasaan yang sama kepada Tania, namun Rendra masih ragu dengan apa yang ia rasakan sekaran, apakah cinta yang sesungguhnya atau hanya sekedar nafsu saja.


"Tania, Ayah saya baru saja meninggal dan saya belum punya waktu untuk menjalin hubungan dengan siapapun sekarang," tolak Rendra.


"Bukankah kamu memiliki perasaan yang sama denganku, Mas?"


Tania berjuang tanpa henti untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, ia berambisi dan ketika ia telah menginginkan sesuatu maka ia akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Tania, aku menyukaimu dan untuk sesaat aku terbuai, karena kamu adalah wanita cantik yang teramat sangat sempurna."


Akhirnya sebuah pengakuan keluar dari mulut Rendra, sebuah kata kejujuran yang sangat dinantikan oleh Tania.


"Mas, itu sudah cukup!"


Tania semakin memeluk Rendra dengan sangat erat seolah tidak ingin melepaskannya sama sekali, sehingga tidak ada yang bisa dilakukan oleh Rendra saat ini selain menerima saja apa yang akan dilakuakan oleh Tania kepadanya.


"Mas, aku lapar," rengek Tania dalam pelukan Rendra.


"Bagaimana kalau kita makan? Kamu ingin makan apa?" tanya Rendra gugup dengan wajah yang berubah menjadi kemerahan.


"Aku ingin makan makanan khas tepi pantai, tapi aku ingin digendong."


Tania memang sangat piawai memainkan hati lelaki, hingga lelaki manapun akan menjadi budak cintanya dan bertekuk lutut dihadapannya.


"Mas, kakiku sakit dan terluka jadi aku tid-"


Rendra langsung mengangangkat tubuh ideal gadis itu dan membawanya ke dalam pangkuannya, Rendra menuruti keinginan Tania dan akhirnya menjadi budak cinta gadis bernama Tania.


"Sayang, aku mencintaimu," ungkap Tania dengan nada suara menggoda ketika berbisik di telinga Rendra yang saat ini tengah menggendongnya.