
Aaahh.... gila! Dasar bibir sialan, kenapa bisa nyosor saja sih. Gila, gila, gila...!
Dilirik jam ponsel miliknya sudah pukul satu dini hari. Belum juga untuk memejamkan kedua matanya dari mimpi yang indah itu.
Uring-uringan seperti anak kucing bermain bola, rasanya benar ingin gantung diri. Mati sekarang mungkin sempat, di urungkan nya kembali jika dia mati sekarang masa usia panjang tersia-sia, kan.
Aarrghh!
Dia benaran frustasi sekali bayangan kejadian beberapa menit lalu sangat gila, malam minggu adalah peristiwa sangat sangat dunia depresi.
Lalu bagaimana dengan pria tengah duduk di ruangan cukup gelap hanya di iringi lampu remang tersebut. Senyuman dari bibirnya masih tercetak belum juga lepas. Bahkan cap sentuhan lembut kenyal tipis itu sangat terasa sekali.
Membayangkan wajah gadis ditemuinya buatnya kagum, bagaimana jadinya ketika gadis itu berani mengambil ciuman pertama setelah pertemuan berikutnya.
****
Langit gelap telah berganti terang tanda sudah pagi matahari meninggi ke atas memancarkan sinar seluruh permukaan kota yang padat dipenuhi oleh kendaraan bermotor.
Tok Tok Tok!
Suara ketukan pintu depan kostnya berulang kali terdengar. Tetap tidak membuat gadis remaja yang tidur posisi kepala di lantai sementara setengah badannya di atas tempat tidur tanda tidur terbalik menggantung.
Tok Tok Tok!
Masih terdengar suara pintu depan kostnya, suara lenguh dari gadis itu keluar dari tenggorokan kering.
"Eumm..."
Tok Tok Tok!
"Siapa sih, pagi-pagi sudah ganggu tidurku!" celetuknya buka kedua mata melebar.
Gedebuk!
"Aduuhh! Sialan!" Memaki diri sendiri, mengelus pinggang saat terjatuh dari kasur. Rambut masih berantakan tidak peduli keadaan sekarang.
Dia melangkah kaki depan pintu untuk membuka dari tadi terus di ketuk.
"Hai ...."
BLAM!
Tak beri kesempatan untuk pria berdiri di depan pintu. Pakai acara menutup pintu tiba-tiba.
Lalu untuk gadis remaja ada di dalam kostnya, terperangah tidak yakin yang dia lihat itu.
Oh em ji, aku nggak salah lihat? Itu ... itu ...
Terdengar suara dalam kost itu oleh pria berpakaian santai setia berdiri. Teriakan Jelita mengundang sejuta penginapan ada di sana tak berani memarahi atau menegur karena sosok pujaan pagi hari terpesona pertama kali.
****
Sekarang Jelita berada di salah satu KFC yang memang sudah buka jam sepuluh pagi. Hanya belum ada pengunjung yang datang.
"Kau tidak merasa lapar? Kenapa tidak di makan?" suara pertama terdengar dari mulut seksi serak basah tepat diseberang hadapan gadis remaja blasteran itu.
"Nanti saja, belum begitu lapar," jawab ketus seadanya.
"Kau takut bahwa aku mencampuri racun di sana? Kalau kau merasa pusing atau sakit perut setelah makan makanan itu. Tentu makanan yang aku makan serupa," katanya lagi seperti memaksa banget.
Jelita membuka bungkusan nasi terus di ambil daging ayam letak tengah-tengah. Makanan gratis kok tolak sih, Jel... batinnya dalam hati.
Pria itu tersenyum membuat Jelita tertegun melihat senyuman sama kejadian kemarin.
"Apa yang kau senyumkan? Jangan-jangan benar kau mencoba meracuniku?" Jelita kembali bertanya sekarang nada bicaranya sedikit waspada
Apalagi nasi ada di tangannya belum sempat di masukkan mulutnya. "Aku tersenyum bukan berarti racun makanan itu, aku tersenyum karena senang kau memang gadis penurut," jawabnya.
"Alasan!"
Satu suapan masuk sempurna ke mulutnya tidak ada gengsi, malu, atau segalanya deh untuk tipe cewek seperti dia. Menunjukkan sikap sebenarnya kepada pria yang duduk memperhatikan cara makan orang kelaparan.