
"Hiduplah yang lama dan berbahagialah dengan anak-anak kita kelak."
Harapan seorang kekasih yang membuat Rendra merasa sangat bangga dan bersyukur memilikinya.
"Sayang, jadilah istriku dan ibu dari anak-anakku," ucap Rendra dengan senyum indah menawan.
"Oh iya, Sayang, masalah baju kita, aku punya ide cemerlang nih."
"Apa, Sayang?"
"Aku ingin warna kaos yang kita beli adalah merah muda," ujar Amira bersemangat.
"Merah muda? Apa tidak salah, Sayang?" protes Rendra dengan nada suara tinggi.
Keduanya saling pandang dengan mata membelalak, membayangkan betapa Rendra sangat tidak setuju dengan warna pakaian yang Amira inginkan.
"Katanya ingin menuruti semua keinginan aku, masak gitu aja nolak, mau dong!" tantang Amira
Mau tidak mau, suka tidak suka, Rendra harus menuruti keinginan Amira karena apapun yang diinginkan oleh Amira adalah yang terpenting sekarang.
"Rendra, ayo!" ucap Amira ketika mereka sampai di depan butik yang lokasinya tidak jauh dari villa.
Amira menggandeng tangan Rendra menuju sebuah toko pakaian bermerek yang sering didatangi oleh Amira dan mamanya ketika mereka berkunjung ke puncak.
Amira berputar-putar dan memilih sesuai keingian hatinya, hingga pilihannya tertuju pada satu pakaian yang disukainya.
"Sayang, aku sudah menemukannya, sekarang pakailah!"
Amira memberikan pakan itu kepada Rendra untuk dipakai sekarang juga sesuai keinginannya.
Amira dan Rendra memakai baju kaos keluarga berwarna merah muda seperti keinginan Amira. Kata Amira mamanya juga sangat menyukai warna merah muda jadi kalau ingin membuat mamanya bahagia dari atas sana maka berikanlah hal terbaik yang mama suka dan Amira juga menyukainya.
Kini orang yang sangat dicintai Amira itu akhirnya memakai baju berwarna merah muda yang membuatnya terihat lucu dan imut. Wajah Rendra juga terlihat indah diabadikan dalam sebuah foto.
"Sayang, sini!"
Amira langsung memotret lelaki yang sangat dicintainya itu beberapa kali.
"Sayang, kamu suka sekali mengambil foto tanpa izin," protes Rendra sembari menutup wajahnya.
Ya, memakai baju berwarna merah muda benar-benar membuat Rendra malu, tapi demi kekasih kesayangan apapun akan dilakukan.
"Sayang, kapan lagi kita memakai baju ini berdua."
Amira merengek dan mengungkapkan keinginan hatinya dan pada akhirnya sang kekasih berjalan dengan percaya diri dengan memakai baju berwarna merah muda itu.
Sayang, kita makan dulu ya, setelah itu kita foto bersama."
"Baik, Sayangku," jawab Rendra menurut.
Amira dan Rendra akhirnya sampai di sebuah restoran yang menjual makanan Jepang. Namun ada yang unik karena semua orang menatap ke arah meraka karena pakaian yang mereka kenakan, tapi mereka tidak peduli, mereka tetap percaya diri dengan apa yang mereka kenakan.
"Sayang,kita duduk di lantai atas menghadap keluar ya."
Amira merasa sangat senang dan bahagia sekali karena apa yang diinginkannya bisa dipenuhi oleh sang kekasih, sehingga ia bisa bernostalgia dan mengenang sang mama sepuas hatinya.
"Sayang, kamu ingin memesan apa?" tanya Rendra.
"Aku ingin memesan ramen, masakan yang sering dipesan oleh Mama ketika kesini, selebihnya apapun yang ingin kamu inginkan aku akan memakannya," ujar Amira.
Semua makanan akhirnya tersajikan di meja makan, dan Amira dipersilahkan untuk menyicipi semua masakan Jepang yang terkenal dengan daging berkualitas dan ramen yang sangat enak.
Amira memakan semua makanan yang disukai oleh mamanya sembari mengabadikan setiap detik itu dalam sebuah foto dan update story di media sosial.
Amira, gadis yang selama beberapa tahun terakhir ini sibuk bekerja dan mengabdikan dirinya kepada Rendra, akhirnya bisa kembali menikmati kemawahan seperti yang dulu ia rasakan bersama kedua orang tuanya.
Namun, ada yang kurang yang Amira rasakan, kebahagiaannya saat ini terasa sepi dan tidak lengkap karena tidak ada mama dan ibu yang sangat dicintai dan disayanginya dengan segenap hati dan perasaannya.
"Sayang, kok ramennya sedari tadi cuma diaduk-aduk saja? Kamu tidak suka? Atau ramennya tidak enak?" tanya Rendra karena merasa khawatir kekasihnya tidak memakan ramennya.
"Amira, Sayang, kok diam?"
Rendra akhinya menyadarkan Amira kalau ia terlena karena memikirkan mamanya dan ibu Rina.
"Maaf, Sayang, aku hanya kembali teringat dengan Mama dan Ibu," jelas Amira dengan mata yang berkaca-kaca.
Amira sangat ingin sekali dipeluk oleh seorang ibu sekarang, baik itu mama kandungnya atau ibu Rina yang sudah seperti ibunya, namun tidak ada seorang ibupun disini dan itu membuat Amira merasa hampa dan kesepian.
"Sayang, ada aku disini. Bukanka setelah foto keluarga kita akan pergi mengunjungi kampung halamanku?" ungkap Rendra menghibur kekasih kesayangannya.
Rendra sangat tahu dan paham sekali bagaimana perasaan kekasih yang sangat ia cintai dan ia sayangi sekarang karena ia juga merasakan kerinduan yang teramat sangat kepada seseorang yang telah tiada, namun sebagai seorang manusia mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena takdir dan jalan hidup yang telah Tuhan berikan adalah jalan terbaik untuk semuanya.
"Sayang, andai Mama, Papa, Ibu dan Ayah ada disini pasti kita akan sangat bahagia sekarang dan pastinya kebahagian keluarga kita akan lengkap dan sempurna," ujar Amira.
Amira mengingat moment masa kecilnya bersama mama dan papanya, dimana ia selalu dimanja dan disayang oleh kedua orang tuanya, bahkan apapun yang menjadi keinginan hatinya akan dituruti oleh kedua orang tuanya karena ia adalah anak semata wayang yang dimiliki oleh kedua orang tuanya.
"Sayang, Orang tua yang sudah ada di surga pasti sedang melihat kita sekarang dari atas sana dan mereka juga pasti akan sangat senang dan bahagia sekali karena kita bisa ada disini mengenang beliau," ungkap Rendra menjelaskan sembari menggenggam tangan Amira yang lembut.
"Sayang, sekarang kamu hapus air mata kamu, karena Mama pasti tidak suka melihat anak gadis kesayangannya menangis."
Rendra tidak mau kalah untuk menghibur kekasih kesayagannya itu. Ya, Rendra tidak tega melihat air mata jatuh membasahi pipi Amira, seorang wanita yang diratukan dan akan dibahagiakan selamanya.
"Sayang sekarang habiskan makanannya ya karena kita akan foto studio," ucap Rendra serentak.
"Baik, Sayang."
Amira melahap dan menghabiskan semua makanannya kemudian ia dengan bergegas pergi ke parkiran karena merasa sudah tidak sabar lagi untuk ikut berfoto studio.
"Sayang, cepat!" sorak Amira yang sepertinya memiliki tenaga ekstra yang sangat luar biasa sekali hari ini.
Mobil Rendra akhirnya melaju disebuat studio foto yang lokasinya sekitar sepuluh menit dari Restoran.
"Amira, Rendra, qku ikut!" ucap dokter Rasya yang tiba-tiba datang menghampiri mereka dengan senyum mengembang.