Crazy Boss

Crazy Boss
Kecemburuan



Amira merasa heran dengan sikap Rendra yang tiba-tiba saja kikuk dan tidak bisa menjawab pertanyaannya, sikap berbeda yang tidak pernah ditunjukkan oleh Rendra sama sekali.


[Pak Bos, siapa wanita yang memanggilmu itu?]


Nada suara Tania mulai meninggi, mungkin ada kecemburuan yang ia rasakan saat ini hingga ia tidak suka dengan sesuatu yang baru saja ia dengar.


[Buk Bos, tunggu aku di kampung ya! Tolong jaga Ibu, aku akan segera kesana!]


Rendra langsung mematikan panggilan video call.


Entah apa yang dirasakan oleh Rendra saat ini, hatinya merasa ragu dan sangat bimbang, separuh hatinya tidak ingin melukai hati dan perasaan Amira, wanita yang sangat dicintainya, numun separuh hatinya lagi tidak ingin kalau Tania mengetahui hubungannya dengan Amira.


Ya, Amira memang belum menjadi istrinya, bahkan mereka berdua tidak memiliki hubungan apa-apa selain persahabatan, tapi Amira adalah calon istri Rendra yang hati dan perasaannya akan sangat Rendra jaga.


"Mas, kenapa lama sekali?" ucap Tania manja sembari memberikan sebotol minuman untuk Rendra.


Rendra merasa gerah dan segera menghabiskan sebotol minuman botol 500 ml dengan sekali tegukan.


"Mas, kamu kehausan?"


Tania mendekati Rendra dan menahan langkah kaki lelaki itu untuk masuk mobil, hingga wajah mereka berdua akan bertabrakan. Rendra merasa debaran jantungnya semakin tak menentu, ia tidak tahan lagi menahan gejolak di dadanya.


Rendra akhirnya melakukan sesuatu yang selama ini ia tahan.


Ia menarik tangan Tania untuk masuk ke dalam mobil dan pintu mobil tertutup rapat.


***


"Mas, Mas,"


Tania membelai lembut wajah Rendra, berbisik di telinga lelaki tampan itu agar ia secara bangun karena langit yang tadinya terang telah berubah menjadi gelap.


Rendra membuka matanya dan menatap wajah cantik Tania ada di depan matanya.


"Apa yang terjadi?"


Rendra panik, ia melihat bajunya terbuka dan Tania saat ini sedang bersandar di dadanya.


"Mas, sekarang kita resmi jadian 'kan?"


Tania berbicara manja dan merengek, namun Rendra masih heran. Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepadanya dan mengapa ia bisa hilang kesadaran hingga berada di dalam mobil tanpa busana dan berpelukan dengan Tania.


"Mas, kenapa bengong?" goda Tania.


"Tania, kita harus segera pulang, Ibu menungguku."


Rendra mengenakan pakaiannya tanpa mempedulikan Tania sama sekali. Ada rasa bersalah dan ada juga rasa tidak enak di hati Rendra.


"Sayang," ucap Tania mesra.


Tania selalu kekeh untuk mendapatkan cinta Rendra, tidak peduli apa yang terjadi dengan Rendra atau apa yang sedang dipikirkannya.


"Tania, aku ingin pulang kampung setelah mengantarkan mu pulang. Rumahmu dimana?"


Hati Rendra gelisah, ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Amira nanti, mungkin saja gadis cantik itu akan merasa kecewa.


"Kita jadian 'kan, Mas?"


Lagi dan lagi Tania mendesak Rendra agar Rendra meresmikan hubungan mereka.


"Tania, maaf, aku sudah mencintai orang lain dan dia telah mengisi hatiku sejak lama," jelas Rendra dengan sejuta penyesalan dan rasa bersalah yang ia tanggung sekarang.


Tania tidak melanjutkan ucapannya, kemudian air matanya tiba-tiba mengalir membasahi pipinya, sebuah trik agar Rendra merasa iba dan kasihan kepadanya.


"Tania, kita jadian!"


Rendra tidak ingin memperpanjang masalah dan ia juga tidak ingin di cap sebagai lelaki yang tidak bertanggung jawab, namun yang lebih penting dari apapun saat ini adalah perasaan ibunya dan Amira. Ia ingin segera sampai di kampung dan nantinya memikirkan cara untuk memutuskan hubungan dengan Tania.


Tania memang cantik, bahkan teramat sangat cantik sekali, tapi hati Rendra hanya untuk Amira dan Amira adalah calon istri terbaik yang Rendra inginkan, gadis yang selalu ada untuk Rendra, membantu Rendra dalam keadaan terpuruk dan selalu memberikan semangat agar Rendra bisa maju melangkah untuk menjadi sukses. Bahkan wanita itu sangat menyayangi kedua orang tua Rendra, bagaimana mungkin Rendra akan melepaskan Amira dan menggantikannya dengan wanita lain yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu.


"Terima kasih, Sayang."


Tania langsung memeluk Rendra dengan senyum semeringah yang tergambar jelas di wajah cantiknya. Entah apa yang difikirkan oleh gadis cantik itu sehingga ia terlalu terobsesi untuk mendapatkan cinta Rendra.


"Tania, rumah kamu dimana?"


"Kenapa Tania?" ucap Tania protes.


"Lantas?"


"Bukankah kita sudah jadian? Tidak adakah panggilan khusus untukku?"


Lagi dan lagi Tania memasang wajah manyun sebagai tanda kalau ia saat ini merajuk karena ia ingin mendapatkan perhatian dan kasih sayang lebih layaknya sepasang kekasih.


Bagi Rendra, hanya Amira yang berhak menerima panggilan khusus darinya, wanita spesial yang tidak ada gantinya di hati Rendra.


"Lantas aku harus memanggilmu apa?"


Nada suara Rendra meninggi, ia mulai kesal dengan tingkah Tania yang manja dan berkelebihan. Namun, ia kemudian tersadar dan merasa iba karena ia dan Tania telah menjalin hubungan yang lebih dengan gadis itu, walaupun secara tidak sengaja dan ketidaksadarannya.


"Tania, maaf, aku telah memiliki calon istri dan kami akan menikah. Di hati ku hanya ada dia dan tidak ada wanita lain yang aku cintai selain dirinya."


Rendra akhirnya mengungkapkan apa yang ia rasakan di hatinya, karena ia merasa situasinya saat ini sangat tidak menguntungkan untuknya.


"Tania, aku tahu mungkin aku terbawa suasana sehingga tidak bisa mengontrol perasaanku. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi kepada kita karena aku sama sekali tidak mengingat apapun."


Nada suara Rendra meninggi dan kali ini ia tidak lagi bisa menggontrol perasaannya. Hatinya bercabang dan kepalanya tersa teramat sangat pusing. Ia baru saja dipromosikan oleh perusahaan untuk menangani proyek besar, tapi ia harus dihadapkan pada permasalahan hati yang membuatnya pusing tujuh keliling.


"Aku tidak peduli di hatimu ada wanita lain, yang jelas sekarang kamu adalah kekasihku. Aku ingin kamu mengantarkanku pulang dan tolong temani aku sampai aku tertidur!"


"Maaf, Tania, aku memang mau menjadi kekasihmu, tapi kamu tidak bisa bertindak seenaknya kepadaku, aku juga punya kehidupan lain, jadi jangan pernah mengekang ku!"


"Kamu harus menemaniku malam ini!"


Tania bersikap egois dan menginginkan Rendra seutuhnya karena ia cemburu mendengar Rendra membangga-banggakan wanita lain dihadapannya.


Rendra kemudian mengacak-acak rambutnya, kepalanya terasa benar-benar sangat pusing karena ia terjebak dalam nafsu dan cinta yang salah yang membuatnya lemah dan tidak berdaya.


"Sayang, temani aku malam ini!"


Tania menjatuhkan tubuhnya di dada bidang Rendra, dan Rendra akhirnya melunak, ia tidak kuasa menolak permintaan wanita cantik itu. Dadanya berdebar tidak biasa dan hasratnya kepada Tania kembali muncul.


"Sayang, kamu berbohong jika kamu mengatakan tidak mencintaiku, karena saat ini hatimu bergetar ketika aku mendekatimu," ucap Tania lembut.


Rendra hanya diam seribu bahasa, karena ia tidak bisa membantah apa-apa, semua yang dikatakan oleh Tania benar adanya. Ia terpesona dengan Tania dan itu membuatnya merasa bersalah karena mendakan hatinya yang seharusnya untuk Amira.


"Aku harus pulang kampung malam ini karena Ibu menungguku, Sa-sayang," ucap Rendra sembari mencium kening Tania.


"Tapi aku masih sangat merindukamu, Sayang," rengek Tania manja.