
"Eee ... Ck ... Euu ..."
Cegukan gadis berkulit putih masih belum berhenti, sudah tujuh gelas air mineral dia minum. Perutnya pun mulai menggembung karena kebanyakan minum.
Sosok pria yang tengah duduk disamping gadis itu sibuk dengan genggaman gelas berisi air mineral untuk kedelapan kalinya.
Sesuatu siap menetes dari kantung mata gadis itu penderitaan yang dia alami belum juga berhenti. Tiba-tiba tangan yang lebar itu menyentuh kening gadis memiliki keanehan unik dari cegukan.
Jelita terpaku mematung tanpa berkutik lagi. Seluruh darah mengalir perlahan dan membuatnya berdesir hebat. Tak sampai disitu saja, tangan lebar itu turun menyentuh bawah rahangnya untuk menelan air liur saja sepertinya gadis itu siap-siap tersedak ditenggorokkan.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Pria itu panik membantu gadis itu meredakan batuknya dengan cara menepuk pundak dan mengelus-elus. Gadis itu pun segera meneguhkan minuman pada genggaman nya.
Dia pun merasa lega bahwa cegukan nya telah berhenti setelah batuk itu menyelamatkannya. Beberapa detik sesuatu itu kembali merasakan keganjilan pada dirinya. Dia terdiam sesuatu meraba punggungnya dan...
"Apa yang bapak lakukan?" Jelita bertindak dan bertanya kepada pria gila itu tidak menunjukkan kesalahannya.
"Memang apa yang aku lakukan?" Ardian sebaliknya bertanya dan dia ( Ardian) menjauhkan tangannya dari punggung gadis itu.
"Ja-jangan coba ambil kesempatan dalam kesempitan," jawab Jelita mulai gugup karena Ardian menatap dirinya begitu lekat.
Senyuman dari pria itu menerbitkan kepada gadis di depannya. Dan kemudian dia mencondongkan badannya lebih dekat. Sehingga Jelita harus memundurkan badannya kebelakang.
Untuk berjaga-jaga agar tidak terulang lagi. Ardian semakin suka dengan keadaan seperti ini. Cukup lama posisi mereka dan saling bertatap mata.
"Hheerr..."
Lagi-lagi cegukan Jelita kembali menyerangnya. Dia segera menutup mulutnya agar tidak cegukan lebih parah. Ardian senyum panjang dan menjauhkan posisi dekat itu.
"Ya Tuhan, kenapa dirimu selalu buatku malu. Berhenti dong cegukan ini!" Batin Jelita dalam hati menyalahkan Tuhan tersebut.
Dilihat jam tangan yang sudah tertinggal jaman itu telah pukul sepuluh malam. Dia bangkit dari tempat duduknya untuk kembali ke kos tersebut. Tapi dia malah kembali duduk lagi memikirkan pembayaran kos yang menunggang beberapa bulan.
Ardian yang sibuk dengan laptopnya pun kembali melirik dan memperhatikan sikap gadis itu cukup gelisah apalagi suara cegukan dari gadis itu masih belum berhenti.
"Ada apa denganmu? Apa ada yang ingin kau katakan?" tebak Ardian seperti mengetahui isi pikiran gadis berkulit putih itu.
"Ah? Eee ... Tidak ada ... Eee..." jawab Jelita dia memilih duduk diam dan menuangkan air mineral kedalam gelas yang dia minum tadi.
"Benarkah? Kau ingin tau agar cegukanmu bisa berhenti tanpa meminum air mineral?" ucap Ardian mendekati gadis itu.
"Bagaiman--"
"Cup!"
Ardian dengan cepat mencium bibir manis dan merah merona itu sangat singkat. Jelita tidak dapat berkutik lagi dengan apa dia rasakan, ketika pria gila itu kembali mencium bibir tanpa meminta.
Dia terdiam sesaat setelah Ardian mencium beberapa detik itu sorot kedua matanya masih fokus pada kedua bola mata pria ada didepannya.
"Greb! Ehem! Kau ..." Jelita ingin memaki pria gila itu tiba-tiba dia berhenti tidak merasakan cegukan pada dirinya.
Ardian senyum tipis dan memajukan wajahnya kemudian mendekatkan telinga gadis itu.
"Cegukanmu hanya bisa sembuh dengan cara berciuman denganku," Bisik Ardian memberitahukan kepada Jelita.
Jelita mendelik lebar dengan kedua bola matanya. Pastinya dia shock bukan main setelah bisikan dari pria gila itu menjauh dan meninggalkan dirinya di sana.