
Rendra merasakan debaran jantung Tania, debaran yang membuat Rendra tidak ingin pergi kemana-mana kecuali menghabiskan waktu lagi dengan Tania.
Rendra membalikkan badannya, ia langsung memeluk Tania dengan hembusan nafas yang begitu cepat.
"Sayang, jangan pergi ya!" rengek Tania.
Rendra tidak tega melihat Tania merengek seperti itu dan otaknya juga tidak ingin pergi meninggalkan Tania, namun hati kecilnya mengatakan kalau ia harus pergi sekarang juga.
Rendra tiba-tiba terngiang-ngiang dengan pesan ayahnya, kalau ia harus lebih mementingkan keluarga dari pada apapun di dunia ini.
Bagaimanapun menariknya Tania, tetap tidak bisa mengalahkan bisikan hati nurani yang mengharuskan Rendra untuk pulang.
"Sayang, Ibu tengah menungguku, jadi aku meminta pengertianmu," ucap Rendra sembari mencium kening Tania beberapa kali.
"Tapi aku tidak ingin berpisah denganmu, Mas!"
"Kita tidak berpisah, Sayang. Mas hanya pergi sebentar dan Mas juga telah berjanji setelah balik dari kampung Mas akan langsung menemui mu."
Rendra membelai lembut rambut Tania yang terurai panjang. Bahkan, walaupun Tania belum mandi, tapi pesona kecantikannya tidak memudar sama sekali. Ia masih terlihat sangat mempesona sekali seperti bidadari.
"Sayang, aku ingin menikah denganmu!"
Tiba-tiba kata-kata itu keluar dari lisan Rendra. Suatu ungkapan yang sangat sulit sekali ia ungkapkan kepada Amira, namun dengan mudahnya ia sampaikan kepada Tania.
Tulus?
Entah perasaan itu tulus dari hati terdalam, atau hanya nafsu sesaat yang membuat Rendra menggila untuk sesaat.
"Mas, benarkah apa yang kamu katakan?"
Tania menengadahkan wajahnya menatap Rendra yang memang sangat tinggi darinya.
Tangan Rendra yang terletak di pinggang langsing Tania itu sama sekali tidak ingin dilepaskannya, seolah ingin mengikat Tania agar tidak pergi kemana-mana.
"Sayang, bagaimana cara Mas membuktikannya?"
Rendra langsung menggendong tubuh Tania kembali ke ranjang dan mengurungkan niatnya untuk mandi dan bersiap-siap pulang ke kampung karena Tania benar-benar menggoda.
Mereka terus-terusan berlabuh dalam lautan cinta yang menggelora berkali-kali, hingga lupa waktu, seolah dunia milik mereka berdua.
Kring ...., Kring ..., Kring ....
Suara ponsel Rendra berbunyi, namun Rendra mengabaikan panggilan itu karena Rendra tahu pasti Alisa yang tengah menghubunginya.
"Sayang, ponselnya berbunyi," ucap Tania dengan nada suara lembut dan lemah berbisik di telinga Rendra.
"Kamu lebih mempesona dari pada apapun di dunia ini," ucap Rendra yang menggoda.
Tania kini pasrah saja dengan apapun yang dilakukan Rendra kepadanya, karena Tania benar-benar jatuh cinta kepada lelaki tampan itu pada pandangan pertama, jadi apapun yang dilakukan Rendra kepadanya adalah hal terindah yang sangat ia nikmati.
"Sayang, apa kamu tidak lelah?" bisik Tania lagi di telinga Rendra.
"Ini kali pertamanya untukku seumur hidupku, jadi bagaimana mungkin aku merasa lelah jika kamu memberikan kebahagiaan yang tidak pernah kurasakan," ucap Rendra.
Sementara itu ponsel Rendra terus berbunyi, dan entah mengapa kali ini ia ingin mengangkatnya.
[Hal-]
[Pak Bos dimana aja sih? Kenapa teleponnya nggak diangkat? Kenapa sih ingkar janji mulu? Ibu sudah menunggu sejak kemaren. Kalau nggak jadi datang harusnya bilang, jangan mematikan ponsel! Pak Bos tahu tidak kalau Ibu sekarang sedang sakit dan dirawat di puskesmas!]
Ponsel yang tadi ia genggam langsung jatuh ke lantai karena hati dan pikiran Rendra sedang berkecamuk. Ia takut hal yang buruk terjadi pada ibunya, hal yang membuat ia akan menyesal seumur hidupnya.
"Sayang, kamu mau kemana? Bukankah kamu tidak jadi pulang kampung dan ingin tetap bersamaku hari ini?"
Tania berusaha menghalangi Rendra untuk pulang kampung, tapi kali ini rayuan Tania tidak lagi mempan untuk Rendra karena bagi Rendra tidak ada yang lebih penting dari pada keluarganya.
Pesan bapaknya selalu terngiang-ngiang di benak Rendra, kalau ia boleh meraih apapun yang ia inginkan asalkan tidak melupakan keluarganya. Lagian selama ini Rendra bekerja untuk membahagiakan orang tuanya, jadi bagaimanapun Tania merayunya tidak akan menghalangi Rendra untuk pulang ke kampung menemui ibunya dan Amira.
"Tania, Ibuku sedang sakit dan aku harus segera pulang ke kampung sekarang juga!"
Rendra tidak mengacuhkan Tania, bahkan ketika wanita cantik itu memeluknya, Rendra tetap tidak peduli, yang terpenting sekarang ia harus segera bersiap-siap dan pergi dari apartemen milik Tania.
"Sayang, apakah aku tidak penting untukmu?"
Tania kembali berulah dengan sikap merajuknya, namun Rendra tetap kekeh pada pendiriannya.
"Tania, maaf, Ibu adalah segalanya untukku, nanti aku akan datang setelah memastikan Ibu dalam keadaan baik-baik saja."
Rendra melepaskan genggaman tangan Rendra dan berjalan memasuki mobilnya tanpa bisa dipatahkan sedikitpun.
"Sayang, sayang, tunggu!"
Tania bersorak dengan cucuran air mata buayanya, namun Rendra tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa memandang lagi ke belakang.
"Ibu, tunggu Rendra!"
Rendra hanya memandang ke depan, melewati jalan tol tanpa melihat apapun. Fokus Rendra hanya ibunya saja tidak peduli yang lainnya.
'Apa yang kulakukan, kenapa aku bisa tergoda dengan Tania? Aku bahkan melupakan Ibu dan Amira? Apa yang harus aku lakukan? Aku telah melakukan kesalahan besar kepada dua orang wanita yang sangat aku sayangi,' ucap Rendra di dalam hati.
Rendra mengacak-acak rambutnya dengan sebelah tangannya dengan sejuta rasa yang berkecamuk dan membuat kepala Rendra pusing dan sakit.
Bruk ...!
Mobil Rendra bertabrakan dengan mobil lain yang membuatnya terpelanting dan berguling-guling di aspal jalan tol Jakarta-Bogor.
Mobil dan tubuh Rendra terpontang-panting dan terhempas hingga darah segar keluar dari kepalanya, mengalir hingga ke wajahnya.
Mobil yang Rendra tunggangi terbalik dengan bensin yang menetes-netes.
'Aku harus keluar dari mobil ini sebelum mobil ini terbakar,' ucap Rendra di dalam hati.
Namun, kaki Rendra terhimpit hingga ia kesusahan untuk keluar dari mobilnya.
Sakit!
Rasa sakit yang teramat sangat membuat Rendra merasa tidak berdaya. Air mata kesakitan jatuh menggenangi pipinya, hingga ia seperti ingin menyerah.
Rendra terbayang akan salah dan dosa yang baru saja ia lakukan dengan Tania, ia melanggar aturan yang agama buat dengan melakukan hubungan terlarang yang sangat dibenci oleh Allah.
Rendra kemudian terbayang akan dosanya kepada ibunya, ia mengabaikan ibunya demi kepuasan hati dan nafsunya semata. Bahkan ia membuat ibunya menunggu hingga kesakitan karena menunggunya.
Padahal bapaknya baru saja meninggal, dan ibunya sangat ingin sekali mengenang ayahnya di kampung bersama Rendra tapi ia malah bersenang-senang dengan seorang wanita.
Kemudian Rendra terbayang dengan Amira, gadis baik yang berhati malaikat itu saat ini tengah menunggunya, gadia tulus itu tidak pernah bersikap tidak baik kepada Rendra, tapi Rendra selalu mengecewakannya.
'Maaf!' batin Rendra dengan sejuta penyesalan yang ia bawa di hatinya.