Crazy Boss

Crazy Boss
Perasaan Cemburu



Rendra tidak paham dan tidak suka dengan apa yang dikatakan dokter Rasya. Ia tidak suka ada wanita lain yang ikut campur dengan hubungannya dengan Amira.


"Rendra, wanita itu tidak suka dibanding-bandingkan walaupun dari dirinya yang kemaren apalagi sampai tidak mengakuinya padahal kalian berdua berhubungan dan akan menikah," bentak dokter Rasya.


Rendra menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia tidak paham dengan apa yang dijelaskan oleh dokter Rasya, karena menurut Rendra wanita sangat aneh bin ajaib, sangat sulit untuk ia pahami, padahal ia mengatakan hal yang sejujurnya kalau Amira memang benar sekretarisnya.


"Rendra, wanita adalah makhluk yang paling aneh dan sulit dipahami oleh kaum lelaki, terkadang ia bisa tersenyum hanya dengan sebuah coklat yang diberikan oleh sang kekasih, terkadang juga bisa marah karena perkara hal sepele yang menjadi kesalahpahaman besar, tapi satu hal yang harus kamu tahu kalau seorang wanita suka dibujuk ketika ia marah, ia  hanya ingin diperhatikan dan lebih disayangi oleh lelaki yang sangat ia cintai."


Sang bibi menjelaskan tentang kerumitan seorang wanita di mata laki-laki kepada keponakan kesayangannya.


"Tante, Tante disini?" ucap Rendra sembari menghampiri sang bibi dan Amira yang ternyata berdiri di depan pintu kamar Rendra.


"Nak, jadi kamu tidak mau mengakui siapa gadis cantik ini kepada Tante?" tanya sang bibi dengan senyum yang membuat Rendra malu.


Rendra terlihat paham, ia merasa kalau ia bersikap terlalu egois karena tidak mengakui Amira sebagai kekasih dan calon istrinya, padahal seharusnya ia mengakui saja hubungan mereka kepada sang bibi dan meminta maaf saja kepada Amira atas kesalahannya, bahkan meskipun ia tidak salah, meminta maaf saja agar suasana romantis kembali terjalin bukan malah kesalahpahaman yang semakin berlarut.


"Sayang, aku minta maaf atas apa yang terjadi," ungkap Rendra namun terlihat tidak tulus di mata Amira.


Gadis cantik dengan gaun merah muda itu terlihat tidak mempedulikan Rendra, ia hanya meneruskan menyisir rambutnya dengan jari-jarinya dan mengabaikan Rendra yang saat ini juga masih berdiri di depannya.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang?'


Rendra berpikir panjang, ia sangat tahu kalau sikapnya yang sekarang sangat tidak disukai oleh Amira, sementara sang bibi hanya diam menyaksikan dua orang pasangan kekasih yang saling merajuk karena sebuah kesalahpahaman.


Rendra berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan menghampiri Amira dengan kejantanannya sebagai seorang lelaki.


Di kantor Amira memang sekretarisnya, tapi kalau sekarang Amira adalah satu-satunya ratu di hatinya yang harus ia muliakan dan ia jaga perasaannya.


"Sayang, aku tahu aku salah, aku tidak mengerti dan memahamimu, tapi satu hal yang harus kamu tahu, kalau tidak ada seorang pun wanita yang aku cintai selain kamu, hanya kamu wanita tercantik yang kukenal dan setiap harinya kecantikanmu semakin bertambah," ungkap Rendra panjang dan lebar tanpa basa basi sama sekali, bahkan Rendra menurunkan egonya yang tinggi hanya untuk mendapatkan maaf dari Amira, wanita pujaan hatinya.


"Sayang, aku berjanji akan berusaha lebih memahamimu dan aku akan membuatmu bahagia setiap harinya, jadi tolong jangan marah lagi dan maafkanlah aku."


Rendra menundukkan wajahnya, menyatukan kedua telapak tangannya dan meminta maaf kepada Amira dengan ketulusan dan kelembutan hatinya.


Amira mengangkat wajahnya, ia merasa sangat terharu melihat lelaki yang ada di depannya tengah meminta maaf kepadanya.


Hahaha ...


Amira tertawa lepas, ia merasa sangat senang dan bahagia karena seorang Rendra yang selama ini suka memperlakukannya seperti seorang bawahan dan budak di kantor sekarang malah berubah menjadi lelaki yang sangat bucin kepada Amira.


Amira tertawa bukan karena menghina Rendra, tapi ia merasa sangat bahagia karena ia akhirnya bisa membuktikan betapa sayang dan cintanya Rendra kepada dirinya. Ia sekarang sudah tidak lagi meragukan perasaan Rendra kepadanya.


"Sayang, kenapa kamu tertawa? Kamu ngerjain aku ya?"


Rendra langsung memeluk Amira dan menggelitik pinggang ramping kekasih yang sangat dicintainya itu, hingga gelak tawa terpancar di wajah keduanya, tidak hanya itu, sang bibi juga ikut merasakan kebahagiaan melihat anak keponakan dan calon menantunya berbahagia dan penuh dengan gelak tawa.


"Sayang, udah dong, geli," teriak manja Amira membuat Rendra semakin ingin mengganggunya.


"Sayang, aku lapar," ucap Amira sembari mengangkat kedua tangannya. Ia merasa kalau Rendra akan memaafkannya jika ia merengek dan memakai jurus memohon serta mengiba.


Rendra tidak ingin melepaskan pelukannya dan ia juga semakin ingin menggelitik pinggang Amira, hingga gadis cantik itu tertawa lepas dan merekah.


"Sayang, maaf, udah dong!"


Amira merengek manja namun Rendra tidak ingin melepaskan sedikitpun.


"Rendra, Sayang, udah dong, kasihan Amira," ungkap sang bibi yang kini mulai ikut untuk menghentikan gelak tawa diantara Amira dan Rendra.


"Iya, Tante."


Rendra langsung berhenti dan duduk manis agar sang bibi tidak marah. Ya, begitulah anak lelaki mencintai seseorang yang ia anggap orang tua, ia akan menurut dan patuh dengan apa yang dikatakan oleh sang mama.


"Tante, terima kasih banyak."


Amira langsung menjatuhkan tubuhnya memeluk sang bibi ya h baru ia kenal namun seperti sudah lama dikenalnya, ia merasa teramat sangat senang dan bahagia sekali karena ada sang bibi disini yang membela dan memanjakannya dengan segenap hati dan perasaan.


"Iya, Sayang, selama Tante masih ada maka Tante akan membela dan melindungi Amira," ungkap sang bibi dengan senyum menawan.


Sang bibi membelai rambut Amira yang terurai panjang kemudian mencium kening kekasih yang sangat ia cintai dan sayangi dengan segenap hatinya itu.


"Tante, keponakan Tante itu Rendra bukan Amira."


Protes dari seorang keponakan kandung yang tidak akan rela melihat orang tuanya lebih mencintai dan menyayangi orang lain selain dirinya walaupun orang itu adalah kekasih hati yang sangat dicintainya.


"Rendra, nggak usah manja deh, sekarang kamu makan dan jangan protes!"


Amira mencibir kepada Rendra, ia merasa sangat senang karena sang bibi membelanya.


Sebenarnya Rendra juga merasa sangat senang karena bibinya bisa dekat dengan kekasih hatinya, ia juga sangat bahagia melihat senyum ceria dan semeringah dari wajah kedua wanita yang sangat dicintainya.


"Ah, udah ah, aku makan aja."


Rendra menyantap semua makanan yang ia suka, menikmati makanan untuk dirinya sendiri dan membiarkan dua orang yang ia sayang saling bercerita dan menghabiskan waktu berdua saja.


"Tante, Amira merasa sangat bahagia sekali karena Tante menjadikan Amira seperti anak sendiri," ungkap Amira sembari menggenggam tangan sang bibi.


Amira mencium tangan sang bibi, seolah merasa kalau wujud mamanya ada pada diri sang bibi.


"Sayang, Tante berharap hubunganmu dan Rendra bisa abadi, kalian menikah dan melahirkan keturunan yang saleh dan saleha. Rasanya Tante sudah tidak sabar menunggu cucu-cucu yang cantik dan ganteng dari kalian."


Ternyata semua orang tua sama, mereka sangat mengharapkan cucu dari anak-anaknya, sebagai penerus generasi dan teman bermain dan bercengkrama di saat tua.


"Tante, Rendra nanti ingin sekali punya anak dua belas," celoteh Rendra tiba-tiba dengan wajah yang sangat meyakinkan sekali.


"Apa? Dua belas?"


Amira ternganga dengan wajah yang terlihat sangat kaget dengan apa yang disampaikan oleh Rendra.