
Pertanyaan yang keluar dari lisan Rendra terdengar seperti sebuah keputus asaan atas penolakan Amira. Namun, Rendra benar-benar tidak bisa menerima penolakan itu karena selama ini ia selalu berpikir kalau ia akan menikahi Amira dan ia yakin kalau gadis cantik itu pasti akan mau menerima cintanya.
Pupus!
Harapan Rendra tidak seindah kenyataan, karena Amira bukanlah gadis yang mudah untuk didapatkan.
"Nak, seorang wanita tidak akan dengan mudah percaya dengan apa yang dikatakan oleh lelaki walaupun lelaki itu sudah dekat dengannya untuk waktu yang sangat lama,"
Ibu Rina sesaat menghentikan ucapannya, seolah ingin menunggu respon dan pertanyaan selanjutnya dari putra kesayangannya.
"Apa maksud Ibu?" tanya Rendra penasaran.
"Gadis yang baik tidak akan dengan mudahnya menyerahkan hatinya untuk lelaki lain karena ia menginginkan sebuah pembuktian cinta yang harus ditunjukkan oleh seorang lelaki kepadanya," ungkap ibu Rina lagi.
Ibu Rina sepertinya putranya saat ini sedang mengalami dilema hati dan tertekan karena ia menyangka kalau Amira pasti akan menerima cintanya, namun kenyataan yang terjadi malah sebaliknya, Amira sama sekali tidak dengan mudahnya menerima cinta Rendra walupun dari hati terdalam Amira sangat mencintai Rendra.
"Ibu, apakah Amiraa tidak menyukai Rendra? "
Ada rasa penasaran di hati Rendra dan ia ingin ibunya segera memberikan jawaban terbaik yang ingin ia dengar dari ibunya.
"Nak, sekarang sehatlah terlebih dahulu, karena dalam keadaan seperti ini tidak ada cewek yang mau menikah sama kamu."
"Kenapa, Bu?"
"Mana ada cewek yang mau punya suami yang hanya terbaring lemah di atas ranjang," jawab ibu dengan senyum tipis yang terlihat manis.
Ibu Rina berusaha menghibur anak kesayangannya agar suasana tidak terlalu tegang dan menakutkan, walaupun sebenarnya hati ibu Rina terasa teramat sangat sakit melihat anaknya sakit, tapi ibu Rina tidak akan memperlihatkan kesedihannya kepada putra kesayangannya.
Sebagai seorang ibu, ibu Rina harus terlihat lebih kuat demi anak-anaknya, karena ia adalah penopang untuk anak-anaknya, tempat mengadu, bersandar dan berkeluh kesah.
"Ibu, kok malah ketawa," rengek Rendra manja.
Ya, sedewasa apapun Rendra, ia tetaplah seorang anak yang bisa bermanja kepada orang tuanya.
"Ibu, kenapa Amira lama sekali? Apakah Amira pulang?"
Bola mata Rendra berputar kesana kemari, mencari dimana keberadaan Amira, gadis yang seperti malaikat di hidupnya.
Rendra terkadang terkesan cuek dan selalu mengabaikan Amira, tapi tiba-tiba sikapnya berubah dan berbeda jika Amira sudah tidak lagi mempedulikannya, ia akan bersikap seperti cacing kepanasan yang takut kehilangan Amir.
"Nak, Amira tidak kemana-mana, ia hanya pergi menemui Dokter dan saat ini hatinya sedang hancur dan terluka melihat keadaanmu seperti ini. Jadi sembuhlah jika kamu benar-benar ingin membahagiakan hati Ibu dan Amira," ungkap ibu.
Apa yang dikatakan oleh ibu Rina memang sangat benar adanya, hingga sebuah penyesalan dan rasa bersalah kembali menghantui Rendra, karena kesalahan yang dilakukannya ia mungkin saja akan dipecat dari pekerjaan karena gagal mengurus sebuah proyek besar, Amira mungkin juga akan meninggalkannya karena ia telah berkhianat dengan wanita lain.
"Nak, kenapa kamu terlihat bersedih?" tanya ibu Rina lembut.
"Rendra pasti akan dipecat dari pekerjaan karena Rendra tidak bisa mengurus proyek yang telah diberikan oleh atasan, Bu. Pak Herman pasti akan memberikan kesempatan besar itu kepada Stive, salah satu rival Rendra di kantor," jelas Rendra dengan raut wajah sedih.
"jangan berputus asa seperti itu, Pak Bos, kita bisa memulai semuanya dari awal," ucap Amira yang tiba-tiba datang.
Amira berjalan mendekati Rendra dengan sejuta semangat yang ia bawa bersamanya. Amira adalah gadis yang tidak akan membiarka Rendra hancur berantakan, karena baginya kesuksesan Rendra adalah yang terpenting dan ia akan melakukan apa saja agar Rendra bisa sukses kembali.
"Buk Bos," ucap Rendra sembari menggerakkan matanya menatap ke arah Amira.
"Pak Bos, jika gagal maka coa lagi, jika jatuh maka bangkit lagi karena tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha."
Begitulah Amira, ia selalu meberikan energi positif dan kebaikan untuk orang lain. Ia tidak akan membiarkan semangat orang yang ia sayang harus kendor hanya perkara satu masalah saja.
"Tapi, kepercayaan Pak Herman kepadaku mungkin saja telah hancur, karena aku telah menghancurkan proyek besar pertama kami."
"Kenapa Pak Bos menjadi patah semangat seperti itu? Bukankah selama ini Pak Bos telah menjalami kesulitan yang jauh lebih berat dari pada ini?"
"Tapi sekarang aku dalam keadaan lemah dan tidak berdaya."
Kata-kata menyerah dan tidak berdaya selalu keluar dari lisan Rendra, padahal ia sebelumnya adalah lelaki dengan semangat juang yang tinggi.
Huft ....
Amira menarik nafas panjang untuk menjernihkan hati dan pikirannya. Ia sangat tahu dalam keadaan seperti ini Rendra perlu mendapatkan sedikit sentilan agar ia kembali bersemangat untuk meraih impiannya.
"Ya sudah, jika ingin menyerah, silahkan! Tapi jangan pernah lagi mengadukan apapun kepadaku!"
Amira kemudian membalikkan badannya, melangkahkan kakinya keluar dari kamar Rendra, berharap setelah ini Rendra akan berpikir jernih dengan semangat yang kembali membara.
"Buk Bos mau kemana?" tanya Rendra dengan suara panik.
Amira terus berjalan dan melangkahkan kakinya, tanpa peduli dengan panggilan Rendra. Ia melakukan semua itu demi membangkikan kembali semangat Rendra dan ia ingin lelaki itu kembali bangkit dengan semangat yang lebih besar dari sebelumnya.
"Ibu, kenapa Buk Bos pergi? Apa ia kecewa kepada Rendra?" tanya Rendra kepada ibunya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.
Terlihat jelas kalau Rendra ingin sekali mengejar Amira saat ini, namun ia tidak punya daya dan kekuatan apapun untuk bangkit dari tempat tidurnya.
Rendra juga berfikir kalau Amira mungkin saja saat ini tengah menangis di suatu tempat dan Rendra ingin sekali menghapus air mata Amira. Namun, yang bisa ia lakukan sekarang hanya diam dan merenungi nasip kalau ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Amira.
"Nak, Amira akan kembali, ia hanya ingin menenangkan hati dan pikirannya sejenak," ucap ibu Rina lembut sembari menenangkan hati putranya yang gelisah.
"Bu, Rendra ingin segera sembuh agar bisa kembali bangkit. Rendra ingin sekali menghapus air mata yang menggenangi pipi Amira dan Rendra ingin membuat Ibu dan Amira bangga," ungkap Rendra.
Ya, Amira berhasil membuat semangat Rendra kembali, ia ingin kembali sehat dan meniti karir kembali walaupun dari bawah, karena bagi Rendra selama ada Amira ada di sampingnya ia pasti akan bersemangat dan bisa menghadapi kenyataan apapun di dunia ini.
"Mas, boleh aku masuk?" ucap seorang gadis di balik pintu.