
Terdengar suara seorang wanita yang tidak asing di telinga Rendra. Wanita yang tidak ia sukai tapi wanita itu menjebaknya, hingga Rendra akhirnya merasa bersalah dan menyesal dengan apa yang telah dilakukannya.
"Ren, sepertinya ada yang datang,"
Ibu Rina berdiri dari tempat duduknya dengan niat ingin membukakan pintu untuk tamu yang datang.
"Ibu, jangan!" ucap Rendra.
Rendra menahan ibunya untuk tidak memberikan izin kepada tamu itu. Tapi, tanpa izin dari ibu atau Rendra. Tania langsung masuk ke ruang inap Rendra.
Entah dari siapakah Tania mengetahui info kalau Rendra ada di rumah sakit ini, bahkan ia berkali-kali datang, hingga gadis itu membuat keributan di rumah sakit bersama Amira.
"Mas, kamu sudah bangun, Sayang!"
Tania langsung memeluk Rendra tanpa menghargai ibu Rina. Sungguh terlihat tidak sopan sama sekali.
Rendra berusaha mengelakkan wajahnya ketika Tania hendak mencium pipinya, tapi ia tidak bisa menghindari pelukan dari gadis cantik itu.
Rendra malu kepada ibunya, karena sikap Rendra yang tidak tahu malu, serta tidak memiliki rasa hormat kepada orang tua.
Rendra juga tidak berbuat apa-apa saat ini selain diam dan menghadapi kenyataan kalau wanita seperti itulah Tania, gadis yang sangat jauh berbeda 360 derajat dibandingkan dengan Amira.
"Kamu siapa?" tanya ibu Rini dengan nada suara tinggi. "Aakah kamu gadis yang tidak punya sopan santun yang waktu itu membuat keributan disini?" sambung ibu Rina dengan mata memerah.
Ibu Rina bukanlah orang yang mudah marah atau bersikap kasar kepada orang lain, tetapi beliau akan bersikap tegas jika ia tidak dihargai dan dihormati.
"Saya calon istrinya Mas Rendra."
Kata-kata kasar dan terdengar tidak sopan itu membuat ibu Rina ingin mengusir Tania, begitu juga dengan Rendra ia sangat tidak suka sekali melihat orang lain tidak menghargai ibunya.
"Tania, yang sopan kamu!"
Hanya bentakan yang bisa dilakukan oleh Rendra saat ini atas ketidaksukaannya dengan sikap Tania. Walaupun rasanya ia ingin menarik tangan Tania dan mengusir gadis cantik itu keluar dari ruangan ini, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang karena kondisinya sedang tidak baik-baik saja.
"Mas, kenapa kamu membentakku?" protes Tania dengan nada suara merengek dan wajah yang terlihat ingin menangis.
Ya, Tania memang sangat ahli sekali bersilat lidah dan berakting seperti seorang artis yang sangat ahli memainkan perannya.
"Karena kamu bersikap tidak sopan kepada Ibuku!" ucap Rendra lantang dengan mata memerah.
"Karena kamu lebih memilih Ibu kamu dari pada aku, Mas?" ucap Tania dengan air mata kebohongan yang ia keluarkan.
"Tolong keluar dari ruangan ini sekarang!" ucap Amira lembut namun terdengar tegas.
Amira menarik tangan Tania dan memaksa gadis itu untuk keluar dari kamar inap Rendra dengan paksa.
"Woi, wanita gila, lepaskan tanganku!" pekik Tania yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Amira.
"Dasar wanita tidak tahu diri, lepaskan aku!"
Dengan kasar Tania membentak Amira, menginjak kaki Amira dan melepaskan diri dari Amira.
Amira langsung masuk kedalam ruang rawat inap kemudian langsung menutup rapat pintu.
Amira memang tidak akan melawan jika dirinya dihina atau diperlakukan secara tidak baik, tapi jika menyangkut orang tua maka ia tidak bisa mentolerir lagi.
Bagi Amira, ibu adalah malaikat yang sudah sepantasnya dihargai dan dihormati, apalagi ia telah kehilangan mamanya sejak lama, jadi ia telah menganggap ibu Rina sebagai ibunya, wanita baik yang memperlakukannya seperti putri kandungnya sendiri.
"Ibu, Ibu tidak apa-apa 'kan?"
Amira langsung memastikan bagaimana keadaan ibu Rina, memastikan dari ujung rambut hingga ujung kaki, apakah wanita berhati malaikat itu tidak terluka.
Namun, wajah mengiba yang terlihat jelas di wajah ibu Rina sudah membuktikan bahwa saat ini beliau sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tubuhnya memang tidak mengalami luka sama sekali, tapi hati dan perasaannya pasti sangat terluka dan hancur apalagi ibu Rina adalah wanita yang sangat lembut, sama seperti Amira, makanya keduanya terlihat sangat cocok seperti seorang ibu dan anak.
"Nak kamu tidak apa-apa 'kan?"
Ibu Rina langsung memeluk Amira dengan cinta dan kasih sayang yang sangat tulus. Sungguh beliau sangat mengkhawatirkan Amira.
"Amira tidak apa-apa, Bu, yang terpenting Ibu baik-baik saja."
Amira membawa ibu Rina untuk duduk di sofa tunggu, menggenggam tangan beliau dan menenangkan hati wanita separuh baya itu.
"Terima kasih banyak, Nak," ucap ibu Rina dengan mata berkaca-kaca.
Ibu Rina pasti sangat paham bagaimana perasaan Amira saat ini, karena ada wanita lain yang tiba-tiba mengaku sebagai pacar Rendra, padahal selama ini hanya Amira seorang yang dekat dengan Rendra, bahkan Rendra telah mengungkapkan niat baiknya untuk melamar Amira.
"Ibu, sekarang Ibu istirahatlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena selama Amira disini maka Amira tidak akan membiarkan seorangpun yang masuk ke ruangan ini menyakiti Ibu."
Ucapan yang keluar dari lisan Amira cukup membuat hati ibu Rina terasa sangat tenang dan damai, setidaknya untuk sesaat ia tidak akan terbawa emosi dengan gadis asing yang mengaku sebagai pacar Rendra itu.
"Nak, apa kata Dokter? Bagaimana keadaan Rendra?"
Ibu Rina juga masih sangat penasaran dengan keadaan putra kesayangannya, karena Rendra adalah harta berharga satu-satunya yang ia miliki di dunia ini.
"Ibu, Rendra baik-baik saja. Ia hanya perlu perawatan maksimal dan Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan dan kesehatan Rendra," terang Amira sembari menepuk-nepuk lembut punggung tangan ibu Rina agar perasaan wanita separuh baya itu baik-baik saja dan tidak lagi khawatir.
"Nak, bagaimana dengan pekerjaan? Bukankah Rendra baru saja diberikan kepercayaan oleh atasannya?"
Ya, bagaimanapun juga ibu Rina tidak tega jika putra kesayangannya harus berhenti dari pekerjaan yang selama ini sangat ia perjuangkan dengan mati-matian.
"Amira akan membantu Rendra dari sini. Amira akan menjadi wanita di belakang layar yang akan mengurus proyek besar yang sedang Rendra kerjakan sampai Rendra benar-benar sehat," ujar Amira.
"Tapi, aku diminta pak Herman menjadi model," sela Rendra.
"Model?"
"Iya, salah satu persyaratan agar aku bisa menjalankan proyek besar pertamaku ini adalah menjadikan aku salah satu model yang berpasangan dengan Tania pada acara fashion show itu," jelas Rendra.
Amira mengangguk-angguk, ia seolah paham tentang salah satu teka-teki yang mulai terjawabkan terkait gadis yang bernama Tania ini.
"Kamu harus sembuh sebelum hari H," ujar Amira memberikan semangat.