
Seluruh tubuh Amira terasa berdebar luar biasa, dimana jantungnya berdetak tidak seperti debaran jantung manusia normal, bahkan wajah Amira merah merona karena Rendra membuat gadis cantik itu tidak sanggup lagi berkata aap-apa.
Dengan pelan, Rendra menjatuhkan tubuh Amira di ranjang dimana posisi Rendra masih dipeluk oleh Amira. Ya, tangan itu masih melingkar di leher Amira seolah tidak ingin dilepaskan sama sekali.
"Ah, maaf!"
Tiba-tiba Amira tersadar, ia bergegas melepaskan tangannya dari leher Rendra hingga salah tingkah, namun Rendra tidak mengizinkan kemesraan antara mereka berakhir. Rendra memegang lembut kedua pergelangan tangan Amira sembari menatap tajam mata gadis cantik yang saat ini tengah terbaring di ranjang dengan dada yang berdebar luar biasa, bahkan hembusan nafas keduanya seolah menyatu seiring dan seirama.
"Lepa-, belum selesai Amira melanjutkan ucapannya, sebuah kecupan lembut mendarat di bibirnya hingga tidak ada yang bisa gadis cantik itu lakukan selain pasrah dan menerima karena tangan dan tubuhnya tidak bisa melakukan protes karena posisi Rendra tepat ada di depan Amira.
Dalam beberapa detik, kecupan yang awalnya terpaksa diterima itu akhirnya diterima Amira dengan melakukan perlawanan, hingga rasa cinta itu tidak lagi sebelah pihak karena keduanya menyatu dalam lautan asmara yang menggelora. Bahkan, Rendra ingin melakukan hal yang lebih kepada Amira, namun ia mencoba menahannya karena Amira adalah gadis suci yang tidak ingin Rendra rusak kesuciannya.
Kring ..., Kring ..., kring ....
Ponsel yang ada di saku celana Rendra bergetar, hingga getaran itu mengganggu kenyamanan keduanya. Namun, Rendra tidak ingin mengangkat ponselnya karena bibir Amira jauh lebih menarik untuknya, hingga Amiralah yang harus menghentikan perlawanan dan gejolak di hati Rendra.
"Sakit," ucap Amira dengan nada suara lemah.
"Apa yang sakit?" bisik Rendra di telinga Amira tanpa peduli ponselnya berbunyi sedari tadi.
Rendra kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Amira, namun kali ini gadis cantik itu mengelak dan memalingkan wajahnya ke kiri, menghindari kecupan Rendra yang sebenarnya juga masih sangat ia inginkan, maklum saja keduanya telah menyimpan rasa bertahun-tahun lamanya dan baru bisa terlepaskan hari ini dengan sebuah kecupan singkat yang menggelora.
"Mas, kakiku sakit, bukankah kamu akan mengobatinya?" bisik Amira tepat di telinga Rendra dengan nada suara manja, hingga sang lelaki tampan tidak merasa bersalah dan tidak tega. Apalagi panggilan Mas yang Amira lontarkan untuk Rendra membuat Rendra merasa terhipnotis, seolah ia akan mengikuti apapun keinginan Amira.
"Mas, kenapa bengong, sakit," rengek Amira sekali lagi.
Tanpa berbasa-basi dan tidak berkata apa-apa, Rendra bangkit dan berjalan mengambil kotak P3K, kemudian menghampiri Amira kembali untuk mengobati luka kacil di kaki Amira.
'Amira memanggilku Mas, apakah itu artinya ia menerimaku menjadi kekasihnya?' ucap Rendra sembari mengambil kapas pembersih dan alkohol untuk membersihkan luka Amira.
Rendra membersihkan luka di kaki Amira dengan lembut, penuh dengan cinta dan kasih sayang yang teramat sangat.
"Aw, sakit!" pekik Amira ketika alkohol melekat di kulitnya.
Suara pekikan manja itu membuat Rendra tidak bisa menahan gejolak di dadanya, bahkan ingin sekali ia menghamburkan tubuhnya dan memeluk wanita cantik yang ada di depannya itu dengan cinta. Namun, hal pertama yang harus ia lakukan adalah membersihkan luka Amira agar sang gadis tidak merasa sakit.
"Mas, kenapa kamu hanya diam?" tanya Amira lemah dan terdengar sangat menggoda di telinga Rendra.
"Apakah kamu ingin menikah denganku?"
Setiap ada kesempatan, Rendra selalu bertanya tentang kesedian Amira untuk menjadi kekasihnya karena Rendra merasa lebih baik mereka berdua menikah dari pada keduanya harus menanggung rasa rindu dan memendam cinta yang menggelora di dalam dada.
"Sekarang angkat teleponnya karena sedari tadi ponselmu berbunyi," ucap Amira mengalihkan pembicaraan diantara mereka karena sangat tidak ingin membahas masalah cinta sekarang karena yang terpenting bagi Amira adalah kesuksesan perusahaan mereka, bukan karena Amira tidak menyukai dan mencintai Rendra, hanya saja saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas masalah cinta.
Rendea membaca pesan singkat di ponselnya dengan wajah yang terlihat berbeda.
"Kenapa, Mas?" tanya Amira penasaran.
"Pak Andrean ada keperluan mendadak, jadi beliau tidak jadi ke puncak hari ini dan pertemuan ditunda besok jam 11 siang di tempat yang mereka tentukan," ujar Rendra dengan sedikit kekecewaan di hatinya.
Rendra dan Amira sangat menantikan pertemuan ini karena ini adalah proyek pertama mereka dan mereka memang membutuhkan dukungan dari investor untuk memajukan usaha mereka, tapi kenyataannya kali ini nasib baik belum berpihak kepada mereka.
"Tidak apa-apa, kita bisa beristirahat dan menghabiskan malam disini," ucap Tania sembari memeluk Rendra.
'Menghabiskan malam?'
Imajinasi liar Rendra sedang memikirkan banyak hal, ia langsung ingin melakukan serangan kepada Amira, apalagi kaki Amira telah sembuh, apalagi udara sore semakin dingin dan mereka tidak ada kegiatan apapun lagi sekarang.
"Ra, apa kamu menggodaku?"
Rendra menantang wajah Amira, dan dua mata itu saling bertemu dan mengungkapkan rasa cinta lewat bahasa tubuh masing-masing.
"Ra, aku mencintaimu!"
Rendra merebahkan tubuh Amira di ranjang dengan lembut. Ia juga bersiap untuk melakukan sesuatu kepada Amira.
Sementara Amira terus menatap mata Rendra, ia tidak sanggup menolak karena ia juga merasakan perasaan yang sama dengan Amira, hingga sebuah kecupan mesra kembali mendarat di bibir Amira.
Rendra mulai liat, ia mencoba membuka kancing baju kemejanya, seolah akan melakukan kegiatan yang lebih liar lagi dari pada sekedar berciuman. Namun, Amira tidak membiarkan hal itu, Amira langsung memegang tangan Rendra, ia memeluk lelaku tampan itu, seolah bahasa tubuhnya mengatakan kalau ia tidak ingin melakukan hal yang lebih lagi dari ini.
"Mas, aku tidak ingin melakukan hal yang lebih dari ini sebelum kita menikah," ucap Amira lembut, yang membuat Rendra merasa kalau gadis yang ada di depannya memang gadis yang sangat terhormat.
Rendra mencium kening Amira dan meminta maaf kepada gadis itu atas sikap lancangnya.
"Sekarang kamu kembali ke kamar ya, kita akan salat dan makan malam setelah ini," ujar Amira lembut.
Kelembutan dan sifat jual mahal yang dimiliki oleh Amira membuat Rendra tidak lagi bisa berkata apa-apa.
Rendra keluar dari kamar Amira menuju kamarnya, keduanya kembali bertemu pas makan malam dan setelah makan malam keduanya memilih beristirahat agar esok tidak terlambat bertemu dengan klien.
"Selamat malam, Mas, mimpi indah," ucap Amira sembari meninggalkan Rendra dan berlari menuju kamarnya. Bahkan Amira mengunci rapat pintu kamarnya agar Rendra tidak masuk lagi ke kamarnya karena ia juga tidak akan bisa menolak Rendra jika ada kesempatan kedua, apalagi mereka hanya tinggal berdua di villa ini.
"Selamat istirahat, Sayang," ucap Rendra dari balik pintu yang membuat Amira seperti melayang-layang ke udara.