Crazy Boss

Crazy Boss
Kecemburuan Rendra



Ya, sejak Rendra sakit ia selalu ingin dimanja, disayang dan diperhatikan oleh Amira bahkan ia meminta sesuatu yang terkadang membuat Amira merasa kalau saat ini Rendra berbeda dari ia yang biasanya.


Amira memang sangat senang sekali merawat Rendra dan memperlakukan lelaki yang sangat disukainya itu dengan sangat baik, namun tetap saja Amira tidak suka jika Rendra bersikap berlebihan dan tidak seperti dirinya yang sebelumnya.


"Pak Bos, Dokter Rasya adalah lelaki yang sangat baik, ia merawatmu dengan sangat baik bahkan memperlakukan Ibu seperti orang tuanya sendiri, harusnya kamu merasa bersyukur dan beruntung memiliki seorang Dokter yang sangat peduli dan perhatian seperti itu," ucapku lembut.


Amira kemudian melihat ke arah jam dinding, hari telah menunjukkan pukul 23.00 WIB, rasanya ia juga sangat lelah sekali karena finishing pekerjaan untuk hari H esok hari. Amira mengangkat kedua tangannya dan membebaskan diriku dari rasa penat dan lelah.


Amira kemudian berjalan mendekati Rendra, ia menatap lelaki tampan yang ada didepannya itu, lelaki yang terlihat sangat lucu dan manis sekali ketika cemburu, lelaki dengan pesona ketampanan yang sangat luar biasa yang membuat Amira tidak bisa membencinya walaupun ada rasa kecewa di hati Amira.


"Pak Bos, tidurlah!"


Amira merapikan selimut Rendra dan tersenyum kepada lelaki itu, meminta lelaki itu untuk beristirahat karena hari telah larut malam. Amira mengatakan kalau ia sangat lelah dan capek, jadi ia juga ingin beristirahat dengan tenang malam ini.


"Buk Bos, apakah kamu masih menyukai Dokter Rasya?" tanya Rendra sebari menggenggam tangan Amira yang akan beranjak pergi meninggalkannya.


"Pak Bos, sekarang istirahat saja!"


Amira tidak ingin menjawab pertanyaan Rendra dan ia juga tidak ingin membahas sesuatu yang tidak penting disaat tubuhnya terasa teramat sangat lelah dan capek sekali.


"Amira, aku tidak suka ya melihat kamu dekat-dekat dengan lelaki lain!"


Rendra berteriak, matanya memerah dan terlihat sekali kecemburuan yang teramat sangat dari perlakuannya itu. Ya, Rendra lelaki yang sangat lembut dan selalu menghargai wanita terutama wanita-wanita yang sangat ia sayangi seperti ibunya dan Amira tiba-tiba saja membentak dan marah kepada Amira karena keemburuan yang memuncak di hatinya.


Amira terlihat ingin sekali marah dan membentak Rendra juga bahwa ia juga tidak suka melihat Rendra dekat dengan wanita lain bahkan sampai berpacaran, namun Amira masih menahannya karena kondisi Rendra sedang tidak baik-baik saja.


'Sabar Amira, sabar!' ucap Amira di dalam hati sembari mengurut dadanya.


Amira sebenarnya tidak suka jika Rendra memanggil namanya seperti itu karena mereka berdua telah memiliki paggilan khusus, akan tetapi kemarahan yang memuncak membuat Rendra bersikap bereda keadanya.


"Ren, jika kamu tidak tidur maka aku akan keluar dari kamar ini!"


"Kamu mau kemana?"


"Aku akan tidur dengan Ibu!"


Amira kini memakai ancaman agar Rendra tidak lagi merajuk, karena Amira sangat tahu kalau Rendra tidak akan membiarkannya pergi, apalagi ke ruangan yang telah dokter Rasya sediakan.


"Buk Bos, maaf!"


Seperti anak kecil, kali ini Rendra meminta maaf dengan nada suara kembut dan pelan dengan rasa bersalah yang ia bawa bersamanya.


"Iya, sekarang pak Bos tidurlah!"


Ya, Amira tidak akan bisa marah berlama-lama dengan Rendra karena Amira sangat mencintai dan menyayangi Rendra dengan segenap hati dan perasaannya.


Amira akan luluh dan langsung memafkan ketika Rendra telah merengek dan meminta maaf dengan tulus kepadanya.


"Buk Bos, aku cemburu!"


Rendra kini jujur dan terang-terangan saja dengan perasaan dan apa yang saat ini hatinya rasakan.


Rendra, lelaki tampan yang selama ini sulit menyampaikan perasaannya kepada Amira, kini berubah menjadi sangat berani karena sebuah kecemburuan dan rasa takut kehilangan wanita yang sangat dicintainya itu.


Amira merasa senang dengan apa yang disampaikan oleh Rendrakarena cemburu adalah rasa cinta yang ditunjukkan oleh seseorang dengan cara berbeda, apalagi cinta yang tersimpan dalam dia.m.


Amira menatap Rendra dan berjalan pelan ke arah lelaki tampan itu.


Amira berharap lelaki itu segera sembuh agar mereka berdua bisa berjalan-jalan lagi sembari bercanda tawa dan bercengkrama.


"Pak Bos, cepatlah sembuh!"


Amira kemudian memeluk Rendra, berharap pelukannya itu dapat menghilangkan kecemburuan dan mendinginkan emosi yang ada di hati Rendra.


Rendra membelai rambut Amira dengan lembut. Rasanya saat ini Rendra ingin berdiri dan memeluk Amira dengan penuh cinta dan kasih sayang yang sangat tulus, namun tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain menerima pelukan hangat Amira sembari berbaring.


Dak ..., Dik ..., Dik ....


Amira kini merasakan debaran jantung Rendra yang berdetak sangat kencang, debaran yang persis sama seperti yang ia rasakan sekarang.


Wajah kedua insan yang baru menyadari perasaannya itu terlihat memerah, namun kini keduanya diam membisu, kikuk dan tidak tahu akan mengungkapkan apa-apa selain bahasa tubuh masing-masing.


Untuk beberapa menit mereka hanya saling diam dan larut dalam gelora asmara yang membawa mereka terhanyut dalam lautan cinta yang menggelora.


"Buk Bos, tidurlah! Besok kita akan ke acara fashion show."


Rendra akhirnya memulai pembicaraan dengan nada suara yang terdengar bergetar.


"I-iya, Pak Bos."


Amira langsung melepaskan pelukannya dari Rendra kemudian bergegas kembali ke sofa tanpa menatap Rendra sama sekali karena rasa malu yang menggelora di dadanya.


"Selamat istirahat Buk Bos sayang, mimpi indah ya!" ungkap Rendra yang membuat Amira semakin terambung-ambung ke udara.


Amira langsung mengambil selimut, berbaring di sofa sembari menutup seluruh tubuhnya dengan selimut karena saat ini ia tengah malu dengan hati yang sangat berbunga-bunga.


Amira ingin menutupi wajahnya yang memerah dan berharap Rendra tidak lagi mengatakan kata-kata yang membuatnya melambung ke udara.


"Buk Bos, aku tahu aku telah melakukan kesalahan dan aku terbuai pada cinta palsu yang hanya sesaat, namun tidak pernah sedetikpun ada wanita lain yang menggantikan posisimu di hatiku. Sejak saat pertama kita berjumpa hingga detik ini perasaan itu masih tetap sama, aku masih sangat mencintaimu dan aku ingin sekali menjadikanmu istriku. Aku tahu sulit bagimu untuk memaafkanku karena hatimu terlalu sakit dan kecewa kepadaku, namun satu hal yang harus kamu tahu, kalau aku tidak akn pernah menyerah mendapatkan maaf dan hatimu kembali. Amira, Buk Bos yang paling jelek sedunia, aku mencintaimu, teramat sangat mencintaimu."


Rendra mengungkapkan semua isi hati yang ia rasakan kepada Amira, rasa yang selama ini ia pendam dan terlalu sulit untuk diungkapkannya itu akhirnya berhasil keluar hingga hatinya merasa teramat sangat lega dan plong saat ini.


Sementara itu Amira terdiam, ia bahagia karena ia akhirnya mendengarkan isi hati Rendra, hingga air mata haru mengalir membasahi pipinya. Namun, ada satu hal yang membuatnya risau dan khawatir tentang restu dari orang tuanya.


Amira sangat tahu kalau papanya tidak akan merstui hubungannya dengan Rendra karena papanya memiliki kriteria lelaki idaman yang akan dinikahkannya dengan Amira kelak.


Amira bahagia namun juga bersedih karena ia takut jika ia menerima cinta Rendra maka hidup Rendra akan berada dalam bahaya dan akan semakin sulit, karena papanya tidak akan membiarkan Rendra hidup dengan tenang jika telah berani melamar putrinya.


"Buk Bos, jangan berpikir panjang, tidurlah!"


Seolah tahu dengan apa yang dirasakan oleh Amira saat ini, Rendra meminta Amira untuk beristirahat dengan tenang, karena Rendra tidak ingin melihat wanita yang sangat dicintainya itu sakit. Amira sudah sangat lelah dengan tumpukan pekerjaan yang ditanggungnya di tambah lagi dengan mengurus Rendra dan juga ibu, jadi Rendra sangat tahu bagaimana rasa lelah yang Amira tanggung sekarang.


Amira tetap tidak menjawab karena ia tidak ingin membuat Rendra mengkhawatirkannya karena suaranya parau akibat menangis.


Tok ..., tok ..., tok ....


"Assalamualaikum."


Terdegar suara lelaki tengah mengetuk pintu dan mengucap salam.


Amira sangat tahu dan kenal sekali dengan suara itu.


Amira segera menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya karena ia juga tidak ingin membat dokter Rasya mengkhawatirkannya karena ia menangis dan merintih. Apalagi dokter Rasya mengenal keluarganya, ia tidak ingin dokter Rasya mengadukan kepada keluarganya tentang keadaan yang dialaminya saat ini.


"Hai pasien, kenapa belum tidur?" ucap dokter Rasya ramah dan sangat sopan ketika menghampiri Rendra untuk melakukan pemeriksaan tubuh pasien.


"Saya baru saja terbangun, Dokter,' ungkap Rendra dengan nada suara sinis dan jutek.


"Pasien sudah minum obat 'kan, Cha?"


Dokter Rasya menghadap ke arah Amira karena ia tahu kalau Amira saat ini belum tidur dan bersembnyi di balik selimutnya.


"Dokter, sudah malam, sebaiknya Dokter pergi!" usir Rendra.