
Oh my Oh my kenapa aku harus ketemu dia lagi! - batin Jelita rasanya dia ingin hilang seumur hidup.
Ardian bangkit dari kursinya kemudian menyandarkan pantat di ujung meja panjang itu. Melipat kedua tangan terus memandang wajah dari ujung kaki hingga ujung kepala gadis berusia dua puluh tahun pertama kali mengumpat di depan kantor bersumpah serapah akan bangkrut perusahaannya, kedua malam hari tanpa izin mengambil ciuman pertama secara gratis, ketiga mengajak berkenalan tertunda karena mendadak alasan untuk interview. Sekarang gadis di depannya tidak bisa berkutik lagi.
"Welcome to my Office, tugas mu hari ini melayani ku," ucap Ardian membuat Jelita mengangkat kepalanya.
"Hah? Memang kau pikir aku itu--"
"Ingat, apa yang kau lakukan di malam minggu kemarin?"
Wajah Ardian sangat dekat dengan wajah Jelita, gadis itu tercengang dan sulit bernapas. Sebab embusan napas pria bermata elang ini mengenai wajahnya.
"Iiii--itu tidak sengaja, karena aku spontan tanpa sadar," jawab Jelita gugup terpatah-patah kalimatnya
"Benarkah? Tapi, kau sudah mengambil ciuman pertama ku!"
"Aku tidak tau itu ciuman pertama mu, jangan menyalahkan ku, ciuman pertama ku juga sudah di rebut olehmu! Jadi impas tidak ada yang perlu diributkan!" balas Jelita nadanya gemetar
"Baiklah, kalau itu katamu sudah impas, tapi menurutku belum. Sekarang kau sudah di Terima pekerjaan di perusahaanku. Posisi mu Office Girl, bukan? Aku ada dua persyaratan untuk mu," ucap Ardian menyerahkan kertas kepada Jelita.
Jelita menerimanya dan mulai membacanya kemudian melebarkan dengan syarat paling konyol tidak pernah ada.
"Kau gila! Aku tidak bisa! Ini tidak sesuai dengan yang aku--"
Jelita tercengang kembali kali ini wajah pria ini semakin dekat, cekuk'an Jelita berbunyi. Dia paling anti jika seseorang mendekatinya secara tiba-tiba.
"Errh..."
"Lakukan atau kau mendapat hukuman lebih dari luar syarat itu?"
"Errh..."
Jelita ingin berteriak rasanya dunia ini begitu sempit. Tetapi dunia tidak memihaknya untuk sekarang, dia memang butuh saku jajan apalagi yang sekarang dia pikirkan itu adalah penunggang kost yang tertunda beberapa bulan itu.
Meskipun pekerjaan pertama ini baru saja di mulai, demi melunasi dan hasil kecerdasan belum lagi bos gila ini semakin jengkel saja olehnya.
"Bagaimana? Setuju? Mana kertasnya?" Ardian memajukan telapak tangan panjang kedepan gadis cantik itu.
Jelita masih menimbang-nimbang soal syarat di kertas putih itu. Bukan dia setuju atau tidaknya masalahnya. Masih ragu untuk menyerahkan surat kontrak yang telah di tanda tanganinya.
Ardian mulai merekah diwajahnya, bahagia sesuatu telah berhasil membuat gadis tanpa malu menyetujui nya. Ini akan buat kedua orang tuanya tercengang nanti.
"Tapi, tunggu dulu!" Padahal Ardian sudah berhasil meraih kertas HVS itu malah harus di tarik kembali oleh gadis cantik depannya.
Wajah Ardian berubah tajam arah gadis cantik putih susu itu, "apalagi?" Nada kesal dari Ardian.
"Terus bagaimana gajiku? Sementara aku mengajukan gaji sesuai dengan pekerjaan office girls. Sedangkan kau memberikan tugas tambahan di kertas aneh tanpa persetujuan sepihak, kau seharusnya tau jaman sekarang serba ekonomi itu meningkat tajam.. Kau tidak mungkin menyiksa aku dengan cara hanya karena kejadian malam minggu kemarin, bukan?" Terang Jelita menjelaskan secara lengkap kepada pria tinggi tampan itu.
Kalau soal perhitungan bagi gadis cantik ini paling pintar selain itu dia juga cerdas.. Dia memang tidak meminta memposisikan tempat setara dengannya, karena bagi dirinya pendidikannya itu tidak sesuai hasil ada yang berjabat tinggi.
"Soal gajimu kau tenang saja, sekarang tugasmu itu ikut denganku kesuatu tempat." Jawab Ardian langsung meraih kertas dari tangan gadis cantik itu.
"Eh... Tapi... Pak..."
Ardian tidak beri waktu kesempatan untuk gadis itu berbicara lagi, Ardian telah keluar dari kantor ruangannya sementara Jelita masih kesal dan menghentikan kaki kanannya kuat-kuat.
"Nyebelin banget sih jadi orang!" Kesal Jelita berlari kecil menyusul pria itu telah menjauh.