
Setelah bertahun-tahun mengenal, ini pertama kalinya Amira ingin mengajak Rendra ke rumahnya karena Rendra mengatakan keseriusannya untuk berumah tangga dengan Amira Namun, entah mengapa perasaan Rendra dek-dekan seolah ia akan diintrogasi oleh polisi.
Rendra memilih baju-baju terbaik yang ia miliki dan mencoba memakai semuanya, memilih mana yang pas dan cocok untuk dibawa bertemu dengan calon mertuanya.
"Kenapa sih aku tidak punya pakaian yang bagus?" keluh Rendra sembari melemparkan baju terakhir yang ia coba.
Kali ini ranjang Rendra sudah penuh dengan tumpukan pakaian yang menggunung. Rendra terlihat seperti anak gadis yang kesulitan memilih pakaian ketika akan berkencan dengan kekasihnya, padahal ia telah mencoba banyak pakaian.
Tok ..., tok ..., tok ....
Rendra mendengar pintu kamarnya berbunyi dan mengetuk.
"Nak, kamu sudah siap?"
Terdengar oleh Rendra suara ibu tengah memanggi-manggil namanya.
"Iya, Bu, tunggu!"
Rendra berjalan membukakan pintu kamarnya dengan bertelanjang dada hingga terlihatlah pahatan-pahatan dari dada bidang Rendra.
"Ibu, silahkan masuk, Bu!" ungkap Rendra dengan senyum malu.
"Nak, kenapa belum berpakaian?" tanya ibu.
Ibu melihat tumpukan pakaian sang putra tengah menggunung di atas ranjangnya.
"Sayang, apa yang terjadi, Nak? Kamu ingin menjual semua pakaian bekas ini?" ungkap ibu heran.
Sang ibu heran melihat tingkah sang putra yang berbeda dari biasanya. Rendra adalah lelaki yang tidak pernah ribet soal pakaian, ia akan memakai pakaian manapun yang pertama kali ia pilih karena menurutnya ia sudah tampan jadi pakaian manapun yang ia kenakan pasti bagus untuknya, namun entah mengapa sekaran Rendra terkesan tidak memiliki rasa percaya diri sama sekali ketika ia ingin bertemu dengan calon mertuanya.
"Ibu, Rendra tidak punya pakaian yang bagus untuk bertemu dengan kedua orang tua Amira, apa yang harus Rendra lakukan?"
Rendra merengek seperti seorang bayi yang bermanja kepada sang ibu.
"Baju sebanyak ini kamu katakan tidak punya baju, Nak?"
Ibu berjalan mengambil satu baju untuk sang putra, dan pilihan ibu tertuju pada kemeja berwarna putih dengan jas berwarna hitam dan tentu saja dengan dasi berwarna biru. Ya, pilihan yang sama seperti yang Amira pilihkan ketika Rendra sedang meminta pendapatnya untuk acara-acara penting.
"Ini, pakailah!"
Ibu mengulurkan pakaian itu untuk sang putra, karena menurut ibu dan Amira ketampanan Rendra semakin sempurna jika ia mengenakan baju dengan dasi putih. Ya, Rendra memang seorang CEO yang sangat tampan yang sangat pantas sekali berdampingan dengan gadis baik dan secantik Amira.
"Kenapa bengong, Nak? Ayo pakai!" ungkap ibu sekali lagi.
"Iya, Bu."
Rendra segera mengenakan pakaian yang ibu pilihkan dengan cepat, kemudian langsung menatap wajahnya di cermin.
"Nak, sini Ibu rapikan!"
Ibu merapikan dasi sang putra sembari menatap tajam mata sang putra. Mata ibu terlihat berbinar dan berkaca-kaca kerana melihat putra tampannya sudah sukses.
"Nak, Ayah pasti bangga sekali melihat putranya terlihat sangat tampan, sukses dan akan menikah dengan wanita yang sangat baik dan cantik," ungkap ibu dengan matta berkaca-kaca.
"Ibu, Rendra sangat rindu sekali sama Ayah."
Namun, Rendra yakin kalau sang ayah bisa melihatnya dari atas sana dan Rendra juga sangat yakin kalau ayah pasti sangat bangga kepadanya.
"Nak, semoga pertemuan dengan keluarga calon mertua berjalan dengan lancar ya, Nak," ungkap sang ibu sembari mempelai lembut pipi sang putra.
"Terima kasih banyak, Bu."
Rendrq bersyukur sekali karena ia memiliki ibu yang sangat baik dengan hati sebaik malaikat seperti ibunya, wanita tulus yang selalu mendoakan kebaikan untuknya bahkan ia tidak pernah sekalipun membuat hati Rendra terluka.
Rendra merasa bersyukur sekali karena memiliki orang tua yang sangat mencintai dan menyanyanginya dengan tulus, bahkan dalam keadaan terpuruk sedikitpun kasih sayang dan cinta yang orang tua berikan membuat semua masalah bisa teratasi dengan baik.
Jalan hidup Rendra memang tidak mulus sama sekali, namun Rendra bisa kuat dan bersemangat menjalani hati-harinya karena ada orang tua dan Amira yang tidak pernah lelah menyemangatinya, hingga butiran-butiran kristal bening keluar dari mata Rendra kerana ia merasa bersyukur atas semua nikmat yang telah Tuhan berikan kepadanya.
"Nak, jangan menangis! Tidak pantas air mata jatuh membasahi wajah tampanmu ini, Nak!"
Ibu menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi sang putra, tidak tega melihat sang anak lagi dan lagi menangis.
Ibu mengatakan kepada sang putra kalau setelah ini kehidupan Rendra akan berubah karena ia telah berhasil melewati banyak ujian dan cobaan berat selama ini.
"Ibu, doakan Rendra ya!"
Rendra mencium tangan sang ibu, kemudian kening sang ibu, meminta restu dan doa dari sang ibu, karena doa ibu adalah penyelamat dan jimat paling ampuh di dunia ini.
"Iya, Nak, sekarang kamu berangkatlah! Amira pasti telah menunggu lama."
Dengan langkah kaki bersemangat, Rendra mengendarai mobilnya untuk menjemput Amira di apartemennya, karena mereka berdua akan berangkat bersama-sama untuk menemui orang tua Amira.
Dak ..., dik ..., duk ....
Begitulah debaran jantung Rendra selama ia menyetir mobil. Ada rasa ketakutan dan kekhawatiran jika kedua orang tua Amira tidak merestui hubungan mereka. Bahkan, waktu perjalanan yang biasanya ditempuh selama 15 menit terasa teramat sangat lama sekali.
Kring ..., kring ..., kring ....
Ponsel Rendra berbunyi, dan ia sangat tahu sekali kalau Amira yang menghubunginya. Ia sangat yakin galau gadis cantik yang sangat dicintainya itu pasti telah lama menunggunya.
Rendra tidak ingin mengangkat telepon Amira karena ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk lagi selama ia menyetir mobil. Rasa trauma kecelakaan membuat Rendra lebih berhati-hati dalam menjaga dirinya apalagi mereka akan menikah.
Ya, selang beberapa menit kemudian, Rendra mendapati Amira telah berada di depan parkiran menunggunya dengan wajah cemberut. Rendra sangat yakin sekali kalau Amira merajuk kepadanya karena ia datang terlalu lama.
Rendra keluar dari mobilnya, kemudian berjalan menghampiri kekasih hati dengan senyum manis yang ia berikan, berharap agar kekasih hati bisa memaafkan keterlambatannya.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Rendra lembut dengan senyum manis yang tergambar jelas di wajah tampannya. Tapi kali ini wajah tampan itu tidak membuat Amira berhenti cemberut.
"Sayang, aku minta maaf karena aku terlambat. Aku benar-benar sangat grogi hari ini."
Rendra menggenggam tangan sang kekasih, berharap kemaran sang kekasih akan mereda namun Amira tetap masih merajuk.
"Ini sudah siang, kamu telat satu jam? Kamu kemana aja sih?' protes Amira.
"Sayang, maaf!"
Sadar dengan kesalahannya, Rendra langsung memeluk Amira dan berharap kekasih yang disayanginya bisa memaafkannya.
"Pak Bos, sebenarnya kamu serius tidak ingin menikah denganku?" tanya Amira dengan nada suara tinggi.