
Sebagai sorang pasien tidak seharusnya Rendra bersikap kasar dan mengusir dokter seperti itu karena bagaimanapun juga dokter telah merawat dan memperlakukan ia sangat baik selama ini. Namun, rasa cemburu dan kesal selalu menghantui ketika Rendra baru mengetahui kalau dokter Rasya itu adalah mantan pacar Amira. Hingga sekarang, setiap dokter Rasya masuk dan memeriksanya Rendra selalu naik pitam karena sebuah rasa yang bernama cemburu.
"Dokter Rasya, saya capek, saya ingin istirahat!" ucap Amira tanpa menatap dokter Rasya, ia hanya berbicara di balik selimutnya.
Amira tidak mempedulikan apa yang terjadi pada Rendra dan juga dokter Rasya karena ia ingin beristirahat agar besok bisa memulai hari baru.
Kring ..., kring ..., kring ...!
Baru saja akan menutup mata, Amira harus diganggu lagi oleh bunyi ponselnya yang terdengar sangat mengganggu.
"Kenapa tidak ada seorang pun yang ingin membuatku tenang sih?" bentak Amira sembari mengeluarkan wajahnya dari selimut untuk mengambil ponselnya.
Sementara Rendra dan dokter Rasya saling bertatapan dalam kebisuan karena keduanya mengerti bagaimana perasaan Amira. Ya, Amira memang sangat lelah sekali, banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan, mulai dari pekerjaan kantornya, pekerjaan Rendra sampai dengan mengurus Rendra.
[Dengan keluarga Bapak Rendra]
Sapa seorang wanita dari seberang sana.
[Iya, ini siapa ya?]
[Saya dari perusahaan Bangkit Bersama ingin mengabarkan kalau Bapak Rendra di pecat dan ia tidak perlu lagi melanjutkan pekerjaannya!]
Tut ..., tut ..., tut ...!
Telepon berakhir dengan keadaan Amira yang masih syok.
***
Dua tahun kemudian
"Ibu, hari ini Rendra dan Amira akan pergi keluar kota untuk menemui investor yang akan bekerjasama dengan perusahaan kita, jadi Rendra meminta doa dari Ibu semoga usaha Rendra dan Amira bisa berjalan dengan lancar tanpa ada halangan dan rintangan lagi."
Rendra meminta doa restu kepada ibunya sembari membasuh kaki ibunya dengan air hangat yang dicampur dengan garam untuk rileksasi. Ya, Rendra meminta doa ibunya karena ia akan memulai kembali hidup baru dengan semangat baru dengan Amira. Ya, gadis cantik itu tidak pernah sedikitpun meninggalkan Rendra bahkan ketika Rendra dalam keadaan terpuruk dan tidak lagi berdaya. Rendra mengalami kecelakaan besar hingga membuat ia lumpuh dan tidak bisa melakukan apapun dalam kurun waktu hampir setahun, Rendra juga dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja bahkan setelah proyek pertama yang ia kerjakan sukses dan mendapatkan keuntungan besar, namun karena kondisinya yang tidak bisa bekerja ia dibuang dari perusahaan seperti tebu, dimana habis manis sampah dibuang. Rendra stres dan trauma hingga ia tidak memiliki semangat hidup lagi, bahkan Rendra pernah memilih untuk mati saja dari pada hidup tapi seperti mati, namun cinta dan kasih sayang Amira yang sangat tulus mengetuk pintu hati Rendra. Gadis cantik yang selama ini Rendra sia-siakan itu benar-benar tulus mencintai dan menyayanginya tanpa pamrih atau mengharapkan apa-apa, bahkan Amira bahkan sengaja keluar dari perusahaan BUMN yang selama ini menghidupinya demi membangun perusahaan baru bersama Rendra. Mereka merintis karir dari nol dengan semangat dan tentu saja doa dari ibu yang menjadi senjata keduanya.
"Tentu, Nak, doa Ibu selalu untukmu, Nak, jadi kamu bersemangatlah! Karena Ibu yakin kalau investor pasti akan mau berinvestasi untuk perusahaan kalian."
Ibu Rina membelai lembut rambut putra kesayangannya seolah memanjatkan doa dan restu untuk anak yang sangat dicintainya itu. Ya, karena restu Tuhan ada pada restu kedua orang tua dan murka Tuhan juga ada pada murka kedua orang tua.
"Ibu, setelah usaha Rendra sukses maka Rendra akan melamar Amira, apakah Ibu setuju?"
Rendra menengadahkan wajahnya dan menatap ke arah ibunya dengan harapan ibunya akan merestui apa yang menjadi keinginan hatinya.
Ibu Rina tersenyum sembari membelai pipi putra kesayangannya, karena tentu saja beliau sangat setuju dengan rencana putranya, Amira adalah gadis yang sangat baik dan berjasa dalam kehidupan mereka,dan Amira adalah gadis yang paling tepat untuk mendampingi Rendra, jadi tidak ada alasan apapun untuk ibu Rina menolak Amira.
"Ibu, kalau begitu Rendra pamit pergi dulu ya karena Amira pasti telah menunggu Rendra sekarang."
Rendra kemudian mencium punggung tangan ibunya dan mencium kening ibunya sebelum mengambil tas kerjanya yang ada di kamar, dan keluar lagi menuju parkiran.
"Nak, hati-hati ya!"
Ibu Rina mengantarkan putra kesayangannya ke depan pintu. Ia menggunakan motor yang dulu selalu ia gunakan untuk pergi bekerja, dan setelah sampai di rumah Amira maka Rendra akan menggunakan mobil Amira untuk berangkat ke Bogor menemui investor.
"Iya, Ibu, kalau begitu Rendra jalan dulu ya, Bu."
"Eh, tunggu, Nak!"
Ibu Rina berlari kedalam rumah, seolah ada sesuatu yang tertinggal dan ia ambilkan untuk dibawa oleh putra kesayangannya.
"Nak, berikan ini kepada Amira."
Ibu membawakan rentengan makanan untuk diberikan kepada calon menantu kesayangannya karena beliau yakin kalau Amira pasti lupa makan karena terlalu sibuk bekerja.
"Ibu, sebenarnya anaknya Rendra apa Amira sih."
Kata-kata cemburu dan protes yang selalu dilontarkan oleh Rendra kepada ibunya membuat suasana menjadi semakin hangat, senyum ibu semakin merekah dan itu membuat Rendra semakin bahagia, karena bagi Rendra kebahagiaannya adalah melihat orang-orang yang ia sayang bahagia yaitu ibunya dan Amira.
"Udah ah, kamu berangkat gih, kasihan Amira udah lama menunggu!"
Ya, dengan kecepatan standar akhirnya Rendra pergi menjemput Amira ke apartemennya yang berjarak sekitar 15 menit dari rumah kontrakan Rendra jika ditempuh dengan menggunakan sepeda motor.
Rendra merasa sangat senang dan bahagia sekali karena ia sekarang bisa melihat Amira setiap hari karena mereka berdua menjalankan bisnis bersama, jadi Rendra tidak perlu khawatir lagi ada lelaki lain yang berniat mengganggu Amira, karena ia akan berhadapan langsung dengan Rendra. Maklum saja, Amira adalah gadis yang teramat sangat cantik dan baik tentu saja akan banyak lelaki yang menyukainya, salah satunya dokter Rasya, dokter yang merawat Rendra yang tidak lain adalah mantan kekasih Amira.
'Tidak akan aku biarkan Dokter jelek itu mengganggu Amira lagi, enak aja tuh Dokter melamar Amira didepan mata gw,' ungkan Rendra didalam hati dengan wajah kesalnya karena membayangkan dokter Rasya tengah mengungkapkan perasaannya kepada Amira.
Rendra tahu kalau dokter itu sangat tampan dan sempurna sekali untuk Amira tapi Rendra tidak akan membiarkan seorang pun mengambil Amira darinya.
Setelah perjalanan singkat, akhirnya Rendra sampai di depan apartemen Amira, namun ia melihat ada seorang lelaki yang berdiri didepan apartemen Amira.
'Ngapain Dokter itu disini?' ungkap Rendra kesal dengan wajah yang langsung berubah.
Rendra berjalan menghampiri dokter Rasya dengan sejuta kecemburuan yang ia bawa bersamanya.
"Dokter, ngapain disini?"